Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Situbondo
icon featured
Situbondo

Kisah Subhan, 20 Tahun Jadi Petugas Kamar Jenazah RS Abdoer Rahem

21 Oktober 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Kisah Subhan, 20 Tahun Jadi Petugas Kamar Jenazah RS Abdoer Rahem

TUGAS KEMANUSIAAN : Subhan bersama rekan-rekannya bertugas memakamkan jasad pasien Covid-19 beberapa waktu lalu. (Marjono/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

SITUBONDO – Subhan menjadi petugas kamar jenazah RS Abdoer Rahem Situbondo sejak 1997 silam. Pertama kali bekerja, Subhan mengaku masih ada perasaan takut bertemu dengan jasad orang meninggal. Bahkan perasaan itu terbawa hingga pulang ke rumah.

Begitu sampai di rumahnya yang beralamat di Lingkungan Karangasem, Kelurahan Patokan Situbondo, Subhan masih teringat dengan jasad-jasad orang meninggal yang dia tangani bersama rekan-rekannya. Bagi Subhan perasaan itu sulit dihilangkan, karena baru pertama kali dia bersentuhan langsung dengan orang meninggal. “Semua yang ada di kamar mayat teringat di pikiran, berapa lama kemudian baru bisang hilang," ucap Subhan saat ditemui wartawan koran ini, kemarin.

Namun, perasaan takut itu lambat laun mulai menghilang. Karena dari seringnya menangani pasien yang meninggal. Bahkan dia sudah mahir dalam proses penanganan jasad pasien meninggal, mulai mamandikan hingga mengkafani. “Semuanya sudah saya pahami. Namun kadang yang menyulitkan saat ada keluarga pasien yang nekat menerobos masuk ke kamar jenazah,” ujar Subhan.

Baca juga: Anak Yatim karena Covid Dabat Bantuan Beasiswa

Mulai tahun 2007, Subhan diangkat sebagai ASN di lingkungan Pemkab Situbondo. Dengan status barunya, Subhan kini mengaku sangat  berkesan dan bangga menjadi petugas pemulasaran jenazah. Kata dia, ada satu pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Yakni memandikan jasad Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto yang meninggal karena terpapar Covid-19 kala itu."Begitu saya dapat amanah, langsung saya terima untuk mengurus jasad Bupati Dadang. Meski proses pemakaman dilakukan melalui protokol kesehatan,” ungkap karyawan yang dikenal luwes dan berpenampilan kalem itu.

Subhan menceritakan, saat mengurus jasad Bupati Dadang Wigiarto. Dia mengaku tak kuasa menahan tangis, karena sosok yang dia mandikan itu merupakan Bupati berpretasi dan seorang pemimpin yang penuh perhatian pada bawahannya. “Beliau itu orangnya sangat baik. Suka membantu kepada stafnya. Saya tidak menyangka secepat itu beliau dipanggil  oleh Yang Maha Kuasa,” tuturnya.

Subhan yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai petugas kamar jenazah mengaku, tugas yang dia emban sangat berat. Apalagi saat terjadi pandemi Covid-19.  Sejak Maret 2020 hingga bulan kemarin. Sudah ratusan pasien Covid yang ia mandikan dan  makamkan.

Subhan melanjutkan, menjadi petugas pemulasaran jenazah pasien Covid memang tidak mudah. Seringkali diprotes juga tak jarang menjadi sasaran kemarahan keluarga pasien. “Kami di sini (bagian pemulasaran) ada enam personil  yang bertugas memandikan, mengkafani dan memakamkan jenazah. Ada juga rekan saya yang bertugas mendokumentasi dan menjadi sopir mobil ambulance sampai ke lokasi pemakaman,” ujarnya.

Untuk itu Subhan selalu konsisten menjaga imunitas diri agar selalu sehat dan tetap  bisa memberikan pelayanan kemanusian bagi masyarakat Situbondo. Setiap harinya, selesai memandikan jenazah dan pulang ke rumah kondisi tubuhnya sudah harus steril karena di rumah ada dua orang anak dan istri. “Kalau tidak steril saya  khawatir mereka ikut tertular Covid-19,” pungkas alumni Ponpes Nurul Jadid itu. (jon/pri)

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia