alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

BHR Usulkan Ada Pelajaran Ilmu Falak

SITUBONDO – Badan Hisab Ruk­yat (BHR) Situbondo berharap ada kurikulum ilmu falak di lem­baga-lembaga pendidikan. Pa­salnya, di Kota Santri, pakar yang paham ilmu penghitungan awal dan akhir bulan ini masih sangat minim.

Tim teknis BHR Situbondo, Irpan Hilmy menilai, satu-satunya cara agar pengkaderan tersebut ber­jalan dengan baik, harus ada pe­lajaran khusus tentang ilmu itu. “Perlu ada sinergi pesantren-pesantren dengan pengambil kebijakan,” ucapnya.

Pria yang juga sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Sa­lafiyah Syafiyah Sukorejo itu menga­takan, ada beberapa alasan kenapa perlu ada regenerasi. Salah satunya, Situbondo merupakan sa­lah satu tempat strategis melihat hilal.

Dia menerangkan, peluang ter­lihatnya hilal 23 derajat ke arah selatan dari barat, dan 23 derajat dari arah utara. Itu karena ufuk di barat tidak terhalang gunung. “Artinya, ketika hilal di utara, sampai bata kahir sekalipun, masih mungkin bisa melihatnya,” ka­tanya.

Sedangkan ke arah selatan, hanya terhalang sebuah gunung. Itupun peluang tidak terlihatnya hilal hanya setengah derajat. “Diban­ding kabupaten lain, kita punya tempat yang strategis. Karena itu, dalam pemetaan PBNU maupun Kemenag, Situbondo bisa mewakili wilayah timur Pulau Jawa,” kata Irpan.

Tentu, peluang untuk mema­suk­kan dalam kurikulum tersebut sejalan dengan banyaknya pondok pesantren yang ada. Otomastis, sam­bungnya, sudah tersedia sumber daya manusia (SDM). “Ada beberapa pesantren yang pendidikan umumnya cukup kuat. Artinya, punya basic yang memungkinkan untuk belajar ilmu falak,” katanya.

Sayangnya, belum ada satu pe­santren yang konsen mempelajari ilmu ini. Memang, di salah satu per­guruan tinggi Islam di Situ­bondo, ada yang memasukkan se­bagai mata kuliah. “Tetapi karena sifatnya akademis, yang dikejar hanya nilai, tidak sampai pada kom­petensi,” ujarnya.

Karena itu, perlu ada kebijakan untuk memasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan. Dengan begitu, ilmu falak akan dipelajari secara utuh. “Untuk kompetensi, harus belajar secara konfrehensif,” pungkas Irpan.

SITUBONDO – Badan Hisab Ruk­yat (BHR) Situbondo berharap ada kurikulum ilmu falak di lem­baga-lembaga pendidikan. Pa­salnya, di Kota Santri, pakar yang paham ilmu penghitungan awal dan akhir bulan ini masih sangat minim.

Tim teknis BHR Situbondo, Irpan Hilmy menilai, satu-satunya cara agar pengkaderan tersebut ber­jalan dengan baik, harus ada pe­lajaran khusus tentang ilmu itu. “Perlu ada sinergi pesantren-pesantren dengan pengambil kebijakan,” ucapnya.

Pria yang juga sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Sa­lafiyah Syafiyah Sukorejo itu menga­takan, ada beberapa alasan kenapa perlu ada regenerasi. Salah satunya, Situbondo merupakan sa­lah satu tempat strategis melihat hilal.

Dia menerangkan, peluang ter­lihatnya hilal 23 derajat ke arah selatan dari barat, dan 23 derajat dari arah utara. Itu karena ufuk di barat tidak terhalang gunung. “Artinya, ketika hilal di utara, sampai bata kahir sekalipun, masih mungkin bisa melihatnya,” ka­tanya.

Sedangkan ke arah selatan, hanya terhalang sebuah gunung. Itupun peluang tidak terlihatnya hilal hanya setengah derajat. “Diban­ding kabupaten lain, kita punya tempat yang strategis. Karena itu, dalam pemetaan PBNU maupun Kemenag, Situbondo bisa mewakili wilayah timur Pulau Jawa,” kata Irpan.

Tentu, peluang untuk mema­suk­kan dalam kurikulum tersebut sejalan dengan banyaknya pondok pesantren yang ada. Otomastis, sam­bungnya, sudah tersedia sumber daya manusia (SDM). “Ada beberapa pesantren yang pendidikan umumnya cukup kuat. Artinya, punya basic yang memungkinkan untuk belajar ilmu falak,” katanya.

Sayangnya, belum ada satu pe­santren yang konsen mempelajari ilmu ini. Memang, di salah satu per­guruan tinggi Islam di Situ­bondo, ada yang memasukkan se­bagai mata kuliah. “Tetapi karena sifatnya akademis, yang dikejar hanya nilai, tidak sampai pada kom­petensi,” ujarnya.

Karena itu, perlu ada kebijakan untuk memasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan. Dengan begitu, ilmu falak akan dipelajari secara utuh. “Untuk kompetensi, harus belajar secara konfrehensif,” pungkas Irpan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/