alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Bakesbangpol Gencarkan Sosialisasi Pembauran Kebangsaan

BESUKI – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Situbondo bersama Ketua DPRD Situbondo, Edy Wahyudi menggelar sosialisasi pembauran kebangsaaan, Kamis (18/11). Acara yang di gelar di wilayah barat itu mengangkat tema ‘Perspektif politik masyarakat’. Ini dilakukan untuk menumbuhkembangkan rasa keharmonisan, saling menghormati dan menghargai antar sesama suku dan etnis.

Acara sosialisasi pembauran kebangsaan merupakan kegiatan jaring aspirasi masyarakat (Jasmas ) tahun 2021 Ketua DPRD Situbondo, Edi Wahyudi. Kegiatan ini digelar dalam rangka membangkitkan semangat kebangsaan di kalangan masyarakat. Itu demi terwujudnya kehidupan yang harmonis, serta menciptakan suasana keutuhan bangsa dalam NKRI.

“Acara dilaksanakan selama dua hari, diikuti  seratus peserta, yang pelaksanaannya dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dan kedua masing-masing dikuti 50 peserta. Mengingat saat ini masih dalam situasi covid 19 yang belum selesai,” terang Kabid Integrasi Bangsa Bakesbangpol Situbondo, Adi Pratama.

Kepala Bakesbangpol Situbondo, Basuki  mengatakan, wawasan kebangsaan dilihat dari aspek sosial dan budaya, dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain melakukan pembinaan moral dan akhlak. Kerukunan antar umat beragama merupakan syarat utama dalam mengatasi permasalahan bangsa sedemikian kompleks.

“Setidaknya dalam wawasan kebangsaan ini mampu memberikan arti penting peran moral, akhlak dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam NKRI,” tandasnya.

Menurutnya, sikap toleransi dapat dilakukan dengan saling menerima dan mengerti akan keberadaan umat beragama lain. Percaya dan tidak saling mencurigai antar sesama serta rela berkorban untuk kebaikan. “Mengedepankan nilai-nilai ajaran universal agama, seperti hal kejujuran, kedamaian, saling menghormati, dan taat pada pimpinan atau pemerintah,” terang mantan Kadinsos tersebut.

Basuki menegaskan, bahwa potensi kerukunan di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Situbondo di dominasi etnis Jawa dan Madura. Sehingga tradisi keislaman dan peran pondok pesantren, serta kiai sebagai rujukan sosial dan budaya.

Selain itu, agama yang ideal adalah humanis, positif, beradab dan inklusif yang dapat memainkan peranan penting dalam upaya membangun budaya toleran yang santun di tengah masyarakat. “Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan bisa menumbuh kembangkan dan memperkuat rasa persatuan antar golongan. Khususnya di Kabupaten Situbondo yang notabene banyak etnis yang mendiaminya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Situbondo melalui A. Wafi sebagai nara sumber menjelaskan, pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kandungan dari sila-sila pancasila secara garis besar terbagi atas beberapa tingkatan yang pertama adalah nilai dasar, instrumental dan praktis.”Pancasila juga mengandung nilai moral dan norma yang harus diterima oleh seluruh warga negara. Karena hal tersebut menjadi landasan bagi kehidupan bersama di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, setiap negara pasti ingin tetap kokoh dan tidak mudah terjadi perselisihan antar warga. Hal ini sangat penting untuk memiliki dasar negara dan ideologi yang kuat yang disusun secara seksama. Sebab, pancasila tidak mengadopsi ideologi dari manapun, sehingga nilai-nilai dalam pancasila lebih unggul dan lebih cocok, berdasarkan kebiasaan dan sifat warga negara Indonesia.”Pancasila sangat dibutuhkan sebagai rujukan. Karena kita memiliki banyak suku, budaya dan agama,” ujarnya.

Oleh sebab itu, norma-norma yang terkandung dalam pancasila dapat digunakan sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, agar tidak mudah timbul perpecahan. Untuk itu, norma-norma yang terkandung dalam Pancasila. Antara lain, norma agama, norma moral atau norma sesusilaan, norma kesopanan serta norma hukum. “Kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dan generasi muda sebagai pilar bangsa ini, harus tetap menerapkan pancasila dalam kehidupan sehari-harinya,”pungkasnya. (jon/pri/adv)

BESUKI – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Situbondo bersama Ketua DPRD Situbondo, Edy Wahyudi menggelar sosialisasi pembauran kebangsaaan, Kamis (18/11). Acara yang di gelar di wilayah barat itu mengangkat tema ‘Perspektif politik masyarakat’. Ini dilakukan untuk menumbuhkembangkan rasa keharmonisan, saling menghormati dan menghargai antar sesama suku dan etnis.

Acara sosialisasi pembauran kebangsaan merupakan kegiatan jaring aspirasi masyarakat (Jasmas ) tahun 2021 Ketua DPRD Situbondo, Edi Wahyudi. Kegiatan ini digelar dalam rangka membangkitkan semangat kebangsaan di kalangan masyarakat. Itu demi terwujudnya kehidupan yang harmonis, serta menciptakan suasana keutuhan bangsa dalam NKRI.

“Acara dilaksanakan selama dua hari, diikuti  seratus peserta, yang pelaksanaannya dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dan kedua masing-masing dikuti 50 peserta. Mengingat saat ini masih dalam situasi covid 19 yang belum selesai,” terang Kabid Integrasi Bangsa Bakesbangpol Situbondo, Adi Pratama.

Kepala Bakesbangpol Situbondo, Basuki  mengatakan, wawasan kebangsaan dilihat dari aspek sosial dan budaya, dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain melakukan pembinaan moral dan akhlak. Kerukunan antar umat beragama merupakan syarat utama dalam mengatasi permasalahan bangsa sedemikian kompleks.

“Setidaknya dalam wawasan kebangsaan ini mampu memberikan arti penting peran moral, akhlak dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam NKRI,” tandasnya.

Menurutnya, sikap toleransi dapat dilakukan dengan saling menerima dan mengerti akan keberadaan umat beragama lain. Percaya dan tidak saling mencurigai antar sesama serta rela berkorban untuk kebaikan. “Mengedepankan nilai-nilai ajaran universal agama, seperti hal kejujuran, kedamaian, saling menghormati, dan taat pada pimpinan atau pemerintah,” terang mantan Kadinsos tersebut.

Basuki menegaskan, bahwa potensi kerukunan di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Situbondo di dominasi etnis Jawa dan Madura. Sehingga tradisi keislaman dan peran pondok pesantren, serta kiai sebagai rujukan sosial dan budaya.

Selain itu, agama yang ideal adalah humanis, positif, beradab dan inklusif yang dapat memainkan peranan penting dalam upaya membangun budaya toleran yang santun di tengah masyarakat. “Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan bisa menumbuh kembangkan dan memperkuat rasa persatuan antar golongan. Khususnya di Kabupaten Situbondo yang notabene banyak etnis yang mendiaminya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Situbondo melalui A. Wafi sebagai nara sumber menjelaskan, pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kandungan dari sila-sila pancasila secara garis besar terbagi atas beberapa tingkatan yang pertama adalah nilai dasar, instrumental dan praktis.”Pancasila juga mengandung nilai moral dan norma yang harus diterima oleh seluruh warga negara. Karena hal tersebut menjadi landasan bagi kehidupan bersama di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, setiap negara pasti ingin tetap kokoh dan tidak mudah terjadi perselisihan antar warga. Hal ini sangat penting untuk memiliki dasar negara dan ideologi yang kuat yang disusun secara seksama. Sebab, pancasila tidak mengadopsi ideologi dari manapun, sehingga nilai-nilai dalam pancasila lebih unggul dan lebih cocok, berdasarkan kebiasaan dan sifat warga negara Indonesia.”Pancasila sangat dibutuhkan sebagai rujukan. Karena kita memiliki banyak suku, budaya dan agama,” ujarnya.

Oleh sebab itu, norma-norma yang terkandung dalam pancasila dapat digunakan sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, agar tidak mudah timbul perpecahan. Untuk itu, norma-norma yang terkandung dalam Pancasila. Antara lain, norma agama, norma moral atau norma sesusilaan, norma kesopanan serta norma hukum. “Kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dan generasi muda sebagai pilar bangsa ini, harus tetap menerapkan pancasila dalam kehidupan sehari-harinya,”pungkasnya. (jon/pri/adv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/