alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Minyak Goreng Curah Juga Sulit, Pedagang Gorengan Kewalahan

SITUBONDO – Sejumlah pedagang gorengan di Kabupaten Situbondo mengeluh. Sebab, minyak goreng jenis curah sulit didapatkan. Sedangkan untuk membeli minyak goreng kemasan, tidak mungkin. Sebab, terlalu mahal.

Ibu Nur, salah satu pedagang menerangkan, untuk mendapatkan minyak goreng jenis curah sangat sulit. Kalaupun ada, harus antri. Namun, beberapa hari ini meski sudah lama menunggu antrian, ujung-ujungnya tidak kebagian. Sedangkan untuk melancarkan usahanya membutuhkan minyak goreng yang cukup.

“Kalau sudah tidak ada lagi, saya harus beli minyak kemasan. Tapi harganya terlalu mahal. Bagi pedagang gorengan seperti saya sangat tipis keuntungannya,” kata ibu Nur sembari mengolah gorengannya, Jumat (18/3/2022)

Menurutnya, jika minyak goreng curah masih tetap sulit didapatkan, dan harus menggunakan minyak kemasan, dirinya terpaksa harus menaikkan harga gorengan dari Rp 500, menjadi Rp 700 perbiji. Sebab, jika harga gorengan tetap harga lama, bukan untung yang didapat, melainkan buntung

“Namanya orang berjualan yang dicari pasti keuntungan, tetapi untuk mendapatkan untung juga harus melihat pelanggan yang kadung setia. Repotnya, kalau harganya dinaikkan pelanggannya malah berkurang. Saat ini untuk menentukan harga gorengan saya masih kebingungan,” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan Ibu Sum, 60 tahun, warga Kelurahan Mimbaan. Dia mengakui, selain harga minyak goreng yang mahal dan juga langka, harga tepung untuk bahan gorengannya juga mengalami kenaikan. Tepung yang biasa dipakai untuk membuat gorengan jenis hongkong, yang mulanya Rp 10 ribu perkg, sekarang sudah Rp 11 ribu. “Cabai juga mahal. Sehingga sulit untuk menakar harga gorengan,” terangnya.

Kata ibu Sum, langkah yang dilakukan untuk meminimalisir kerugian dari mahalnya harga sembako, dirinya harus memperkecil ukuran gorengannya. Baik itu hongkong, tahu isi, dan tempe goreng.

“Sekarang kedelai juga sulit untuk didapatkan, sehingga ukuran tahu dan tempe juga menjadi kecil ukurannya. Otomatis kalau tempe dan tahu sudah berukuran kecil, hongkong juga harus di buat lebih kecil dari sebelumnya, dan harganya tetap Rp 500,” tandasnya.

Weni pedangang minyak curah menyebutkan, dalam satu bulan ini stok minyak curah memang terbatas. Sehingga, stok yang tersedia setiap hari sering kekurangan. Untuk mendapatkan minyak dari agen hanya 15 – 20 kg setiap harinya. Berbeda dengan waktu minyak goreng belum langka, biasanya sampai 40 hingga 50 kg.

“Sekarang, saya juga kebingungan untuk mengatur kulakan ketika ada orang yang membeli. Mau diberikan sesuai dengan permintaan pembeli, takutnya yang lain tidak kebagian. Soalnya pembeli kan juga butuh minyak yang banyak, apalagi yang sama-sama pedagang. Tentunya mereka para pedang tidak mau bolak balik hanya untuk beli minyak goreng setiap hari,” pungkas ibu Weni. (hum/pri)

SITUBONDO – Sejumlah pedagang gorengan di Kabupaten Situbondo mengeluh. Sebab, minyak goreng jenis curah sulit didapatkan. Sedangkan untuk membeli minyak goreng kemasan, tidak mungkin. Sebab, terlalu mahal.

Ibu Nur, salah satu pedagang menerangkan, untuk mendapatkan minyak goreng jenis curah sangat sulit. Kalaupun ada, harus antri. Namun, beberapa hari ini meski sudah lama menunggu antrian, ujung-ujungnya tidak kebagian. Sedangkan untuk melancarkan usahanya membutuhkan minyak goreng yang cukup.

“Kalau sudah tidak ada lagi, saya harus beli minyak kemasan. Tapi harganya terlalu mahal. Bagi pedagang gorengan seperti saya sangat tipis keuntungannya,” kata ibu Nur sembari mengolah gorengannya, Jumat (18/3/2022)

Menurutnya, jika minyak goreng curah masih tetap sulit didapatkan, dan harus menggunakan minyak kemasan, dirinya terpaksa harus menaikkan harga gorengan dari Rp 500, menjadi Rp 700 perbiji. Sebab, jika harga gorengan tetap harga lama, bukan untung yang didapat, melainkan buntung

“Namanya orang berjualan yang dicari pasti keuntungan, tetapi untuk mendapatkan untung juga harus melihat pelanggan yang kadung setia. Repotnya, kalau harganya dinaikkan pelanggannya malah berkurang. Saat ini untuk menentukan harga gorengan saya masih kebingungan,” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan Ibu Sum, 60 tahun, warga Kelurahan Mimbaan. Dia mengakui, selain harga minyak goreng yang mahal dan juga langka, harga tepung untuk bahan gorengannya juga mengalami kenaikan. Tepung yang biasa dipakai untuk membuat gorengan jenis hongkong, yang mulanya Rp 10 ribu perkg, sekarang sudah Rp 11 ribu. “Cabai juga mahal. Sehingga sulit untuk menakar harga gorengan,” terangnya.

Kata ibu Sum, langkah yang dilakukan untuk meminimalisir kerugian dari mahalnya harga sembako, dirinya harus memperkecil ukuran gorengannya. Baik itu hongkong, tahu isi, dan tempe goreng.

“Sekarang kedelai juga sulit untuk didapatkan, sehingga ukuran tahu dan tempe juga menjadi kecil ukurannya. Otomatis kalau tempe dan tahu sudah berukuran kecil, hongkong juga harus di buat lebih kecil dari sebelumnya, dan harganya tetap Rp 500,” tandasnya.

Weni pedangang minyak curah menyebutkan, dalam satu bulan ini stok minyak curah memang terbatas. Sehingga, stok yang tersedia setiap hari sering kekurangan. Untuk mendapatkan minyak dari agen hanya 15 – 20 kg setiap harinya. Berbeda dengan waktu minyak goreng belum langka, biasanya sampai 40 hingga 50 kg.

“Sekarang, saya juga kebingungan untuk mengatur kulakan ketika ada orang yang membeli. Mau diberikan sesuai dengan permintaan pembeli, takutnya yang lain tidak kebagian. Soalnya pembeli kan juga butuh minyak yang banyak, apalagi yang sama-sama pedagang. Tentunya mereka para pedang tidak mau bolak balik hanya untuk beli minyak goreng setiap hari,” pungkas ibu Weni. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/