alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Nenek yang Ditemukan Meninggal di Dapur Itu Ternyata Dibunuh Anak Kandung

JANGKAR, Jawa Pos Radar Situbondo – Teka-Teki penyebab kematian Nenek Riyani, warga Dusun Bringin, Desa/Kecamatan Jangkar, Situbondo, berhasil diungkap penyidik Reskrim Polres Situbondo. Perempuan 70 tahun itu, ternyata dibunuh Sahwani yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.

Awalnya tidak ada yang mengira jika Sahwani akan tega berbuat demikian kejam kepada ibu kandungnya sendiri. Apalagi, dia adalah orang pertama yang  melaporkan kematian Nenek Riyani ke Mapolsek setempat. Tidak ada yang menduga jika itu dilakukan hanya ingin mengaburkan keterlibatan dirinya saja.

Informasi yang dikumpulkan Jawa Pos Radar Situbondo menyebutkan, awal terungkapnya Sahwani sebagai pembunuh berawal dari informasi yang beredar di tengah masyarakat. Ada warga yang mengatakan bahwa Sahwani pernah bercerita kepada anggota keluarganya jika telah membunuh Nenek Riyani.  Dia merasa gelisah dan bersalah sehingga mengakui perbuatannya itu.

Nah, berawal dari desas-desus itulah polisi mendalami penyelidikan.  Puncaknya, saat memeriksa Sahwani, perempuan 43 tahun tersebut mengakui perbuatannya. Di depan penyidik dia mengaku khilaf.

“Begitu kami menanyakan, Sahwani mengakui perbuatannya. Tetapi pengakuan saja kan tidak cukup untuk menetapkan Sahwani sebagai tersangka. Jadi kami harus mendatangkan beberapa saksi yang menguatkan pengakuan tersangka,” ungkap Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Dedi Ardhi, Minggu (17/7).

Baca Juga :  Kakek 78 Tahun Gantung Diri Dalam Sumur

Kasatreskrim mengakui, penyelidikan kasus pembunuhan nenek Aryani memang tidak terlalu memakan waktu lama. Polisi harus melakukan olah TKP dan mencari beberapa alat bukti yang menguatkan telah terjadi pembunuhan. Sebelumnya, Sahwani melaporkan kasus yang menelan korban Nenek Aryani dengan dugaan pencurian dengan kekerasan (curas).

“Kan kita mencari tahu, siapa yang membunuh berdasarkan bukti-bukti yang ada di TKP (tempat kejadian perkara). Nah di situ tidak ada yang mencurigakan. Bagaimana ada yang mencurigakan kalau malingnya teriak maling,” imbuh polisi yang yang hobi bersepeda itu.

Kasatreskrim menjelaskan, alasan Sahwani membunuh ibunya, hanya persolan sepele. Waktu itu, sekitar pukul 08.00, Nenek Riyani  berniat menggorengkan enam ekor ikan yang didapatkan dari tetangga sebelah rumahnya. Sayangnya, masakan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan Sahwani. Sehingga, dia kemudian naik pitam dan melakukan perbuatan melawan hukum tersebut.

Baca Juga :  Akses Jalan Kayumas-Kawah Ijen Dimulai Diaspal

“Sahwani mendorong ibunya dari belakang hingga tersungkur. Setelah itu, Sahwani membalik tubuh korban hingga terlentang kemudian dicekik pakai tangan kirinya. Untuk tangan kanan digunakan menutup mulut ibunya agar tidak berteriak. Setelah itu, ibunya juga dihantam dua kali menggunakan batu bata hingga tewas,” jelas Kasatreskrim.

Setelah tewas, Sahawani meninggalkan ibunya dalam kondisi terlentang. Dia berpura-pura pergi ke sawah untuk mencari rumput. Harapannya agar dia tidak dicurigai. Sehingga, perbuatannya tidak diketahui oleh siapa pun.

“Begitu ibunya mati, Sahawani langsung menghindar dengan membawa peralatan mencari rumput ke sawah. Setelah itu baru pulang saat disusul warga yang memberi kabar ibunya meninggal dan pura-pura tidak tahu. Pelaku lalu melaporkan ke Mapolsek setempat,” pungkas Kasatareskrim Polres Situbondo.

Sekedar diketahui, Riyani warga Dusun Bringin, Desa/Kecamatan Jangkar, ditemukan tewas mengenaskan di dalam dapurnya sendiri 06 Juli lalu. Waktu itu, dia dikabarkan tewas akibat menjadi korban curas dan ada uang miliknya yang hilang Rp 4 juta. (hum/pri)

JANGKAR, Jawa Pos Radar Situbondo – Teka-Teki penyebab kematian Nenek Riyani, warga Dusun Bringin, Desa/Kecamatan Jangkar, Situbondo, berhasil diungkap penyidik Reskrim Polres Situbondo. Perempuan 70 tahun itu, ternyata dibunuh Sahwani yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.

Awalnya tidak ada yang mengira jika Sahwani akan tega berbuat demikian kejam kepada ibu kandungnya sendiri. Apalagi, dia adalah orang pertama yang  melaporkan kematian Nenek Riyani ke Mapolsek setempat. Tidak ada yang menduga jika itu dilakukan hanya ingin mengaburkan keterlibatan dirinya saja.

Informasi yang dikumpulkan Jawa Pos Radar Situbondo menyebutkan, awal terungkapnya Sahwani sebagai pembunuh berawal dari informasi yang beredar di tengah masyarakat. Ada warga yang mengatakan bahwa Sahwani pernah bercerita kepada anggota keluarganya jika telah membunuh Nenek Riyani.  Dia merasa gelisah dan bersalah sehingga mengakui perbuatannya itu.

Nah, berawal dari desas-desus itulah polisi mendalami penyelidikan.  Puncaknya, saat memeriksa Sahwani, perempuan 43 tahun tersebut mengakui perbuatannya. Di depan penyidik dia mengaku khilaf.

“Begitu kami menanyakan, Sahwani mengakui perbuatannya. Tetapi pengakuan saja kan tidak cukup untuk menetapkan Sahwani sebagai tersangka. Jadi kami harus mendatangkan beberapa saksi yang menguatkan pengakuan tersangka,” ungkap Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Dedi Ardhi, Minggu (17/7).

Baca Juga :  Sempat Muntah Darah, Tukang Becak Meninggal di Jalan Raya

Kasatreskrim mengakui, penyelidikan kasus pembunuhan nenek Aryani memang tidak terlalu memakan waktu lama. Polisi harus melakukan olah TKP dan mencari beberapa alat bukti yang menguatkan telah terjadi pembunuhan. Sebelumnya, Sahwani melaporkan kasus yang menelan korban Nenek Aryani dengan dugaan pencurian dengan kekerasan (curas).

“Kan kita mencari tahu, siapa yang membunuh berdasarkan bukti-bukti yang ada di TKP (tempat kejadian perkara). Nah di situ tidak ada yang mencurigakan. Bagaimana ada yang mencurigakan kalau malingnya teriak maling,” imbuh polisi yang yang hobi bersepeda itu.

Kasatreskrim menjelaskan, alasan Sahwani membunuh ibunya, hanya persolan sepele. Waktu itu, sekitar pukul 08.00, Nenek Riyani  berniat menggorengkan enam ekor ikan yang didapatkan dari tetangga sebelah rumahnya. Sayangnya, masakan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan Sahwani. Sehingga, dia kemudian naik pitam dan melakukan perbuatan melawan hukum tersebut.

Baca Juga :  Pemancing yang Meninggal Masih Kakak-Beradik

“Sahwani mendorong ibunya dari belakang hingga tersungkur. Setelah itu, Sahwani membalik tubuh korban hingga terlentang kemudian dicekik pakai tangan kirinya. Untuk tangan kanan digunakan menutup mulut ibunya agar tidak berteriak. Setelah itu, ibunya juga dihantam dua kali menggunakan batu bata hingga tewas,” jelas Kasatreskrim.

Setelah tewas, Sahawani meninggalkan ibunya dalam kondisi terlentang. Dia berpura-pura pergi ke sawah untuk mencari rumput. Harapannya agar dia tidak dicurigai. Sehingga, perbuatannya tidak diketahui oleh siapa pun.

“Begitu ibunya mati, Sahawani langsung menghindar dengan membawa peralatan mencari rumput ke sawah. Setelah itu baru pulang saat disusul warga yang memberi kabar ibunya meninggal dan pura-pura tidak tahu. Pelaku lalu melaporkan ke Mapolsek setempat,” pungkas Kasatareskrim Polres Situbondo.

Sekedar diketahui, Riyani warga Dusun Bringin, Desa/Kecamatan Jangkar, ditemukan tewas mengenaskan di dalam dapurnya sendiri 06 Juli lalu. Waktu itu, dia dikabarkan tewas akibat menjadi korban curas dan ada uang miliknya yang hilang Rp 4 juta. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/