alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Atasi Sebaran PMK, Pemkab Situbondo Terkendala Ketersedian Obat

RADAR SITUBONDO – Pemkab Situbondo kesulitan untuk mendapatkan persediaan obat penanganan penyakit kuku dan mulut (PMK). Sebab, pemerintah harus menunggu antrean untuk bisa mendapatkannya.

Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), Kholil mengatakan, stok obat untuk kebutuhan hewan ternak saat ini terbatas. Sebab, banyak dibeli oleh Kabupaten/Kota yang juga terpapar penyakit (PMK). “karena kasus PMK sudah menyebar luas, maka untuk kebutuhan obat terus bertambah,” ujar Kholil, Jumat (17/6) lalu.

Dia menjelaskan, keterbatasan obat disebabkan karena pabrik terlambat dalam memproduksi ulang. Sehingga kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang saat ini melonjak. “Kasus PMK ini kan cepat penyebarannya. Maka kami juga tidak bisa berspekulasi. Namun untuk kebutuhan obat, kita memang harus pesan dulu,” jelasnya.

Kata Kholil, pemerintah memang telah memiliki anggaran penanganan penyakit PMK. Namun, persediaan obatnya masih terbatas. Sehingga, upaya pemberian obatnya juga terlambat. “Kami sudah menghubungi pabrik yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah dan beberapa tempat lainnya. Jawabannya, produksi obat yang mereka lakukan sudah banyak dipesan,” imbuhnya.

Kholil menambahkan, pendistribusian obat kepada hewan ternak akan dilakukan secara bertahap. “Kami berikan kepada hewan ternak yang terduga terpapar penyakit PMK. Karena persediannya masih terbatas,”ungkapnya.

Disnakkan akan lebih mengutamakan hewan ternak yang terpapar lebih awal. Itu bertujuan menciptakan . sehingga, warga tetap kondusif. “Kami akan mendistribusikan obat sesuai dengan data yang kami pegang saat ini,” ucapnya.

Jika ada hewan lain yang terpapar, Kholil mengatakan, maka perlu menunggu pendistribusian obat berikutnya. “Jadi tidak bisa obat itu langsung diberikan, sedangkan datanya belum diterima oleh petugas kami,” pungkasnya. (wan/pri)

RADAR SITUBONDO – Pemkab Situbondo kesulitan untuk mendapatkan persediaan obat penanganan penyakit kuku dan mulut (PMK). Sebab, pemerintah harus menunggu antrean untuk bisa mendapatkannya.

Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), Kholil mengatakan, stok obat untuk kebutuhan hewan ternak saat ini terbatas. Sebab, banyak dibeli oleh Kabupaten/Kota yang juga terpapar penyakit (PMK). “karena kasus PMK sudah menyebar luas, maka untuk kebutuhan obat terus bertambah,” ujar Kholil, Jumat (17/6) lalu.

Dia menjelaskan, keterbatasan obat disebabkan karena pabrik terlambat dalam memproduksi ulang. Sehingga kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang saat ini melonjak. “Kasus PMK ini kan cepat penyebarannya. Maka kami juga tidak bisa berspekulasi. Namun untuk kebutuhan obat, kita memang harus pesan dulu,” jelasnya.

Kata Kholil, pemerintah memang telah memiliki anggaran penanganan penyakit PMK. Namun, persediaan obatnya masih terbatas. Sehingga, upaya pemberian obatnya juga terlambat. “Kami sudah menghubungi pabrik yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah dan beberapa tempat lainnya. Jawabannya, produksi obat yang mereka lakukan sudah banyak dipesan,” imbuhnya.

Kholil menambahkan, pendistribusian obat kepada hewan ternak akan dilakukan secara bertahap. “Kami berikan kepada hewan ternak yang terduga terpapar penyakit PMK. Karena persediannya masih terbatas,”ungkapnya.

Disnakkan akan lebih mengutamakan hewan ternak yang terpapar lebih awal. Itu bertujuan menciptakan . sehingga, warga tetap kondusif. “Kami akan mendistribusikan obat sesuai dengan data yang kami pegang saat ini,” ucapnya.

Jika ada hewan lain yang terpapar, Kholil mengatakan, maka perlu menunggu pendistribusian obat berikutnya. “Jadi tidak bisa obat itu langsung diberikan, sedangkan datanya belum diterima oleh petugas kami,” pungkasnya. (wan/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/