alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Otak Pelaku Curat Akhirnya Ditangkap

SITUBONDO– Petugas kepolisian akhirnya berhasil menangkap Aden Siswanto, otak pelaku pencurian dengan pemberatan (curat) yang melibatkan empat bocah SMP. Pria asal Dusun Karanganyar, Desa Tamansari, Kecamatan Sumbermalang ini berhasil diringkus di Kabupaten Probolinggo setelah sempat menjadi DPO Kepolisian.

Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Masykur mengatakan, Aden menjadi burunon polisi sejak beberapa hari yang lalu. “Dia melarikan diri setelah mengetahui bahwa empat anak buahnya yang ditugas untuk melakukan curat ditangkap oleh petugas kepolisian. Setelah dilacak nomor HP-nya, ternyata ditemukan posisi Aden, berada di Probolinggo,” jelasnya.

Tanpa buang waktu, aparat penegak hukum itu pun langsung datang ke lokasi yang dijuluki dengan kota Mangga itu. Alhasil, Aden setelah dilakukan pengejaran, Aden berhasil ditangkap di wilayah Randu Pager. “Pelaku diamankan di daerah Randu Pager, Probolinggo. Di mana pada saat itu, dia tengah berada di mobil sewaan. Anggota resmob yang ditugasi untuk mengintai terus mengikuti. Sesampainya di simpang jalan kota, langsung dilakukan penangkapan,” jelasnya.

Barang bukti  yang berhasil diamankan dari tangan Aden yakni berupa dua buah HP dan beberapa balok kayu. “Kami mengamankan satu unit HP milik tersangka dan satu unit lainnya yang merupakan hasil kejahatan. Serta alat-alat yang digunakan oleh anak-anak untuk melakukan pencurian. Diantaranya tali dan beberpa balok kayu yang digunakan untuk memanjat ketika berkasi,” jelasnya.

Sedangkan setelah dilakukan pemeriksaan, Aden mengakui bahwa dirinya hanya terlibat di delapan TKP. Sementara untuk lokasi lainnya, dia mengakut tidak ikut bertanggung jawab.

“Menurut pengkuannya, si Aden ini hanya memerintah dan bertanggung jawab pada delapan TKP. Sisanya, di empat TKP lain dia tidak ikut campur,” terang Masykur.

Menurut Masykur, atas perbutannya itu, Aden dapat dijerat dengan pasal poko undang-undang pencurian dengan pemberatan.”Terhadap pelaku kita terapkan pasal pokoknya. Yaitu pasal pencurian dengan pemberatan. Sesuai pasal 363 ayat 1 angka ke 3, 4, 5 KUHP. Karena yang bersangkutan juga menyuruh melakukan, maka kita juntokan dengan pasal 55 ayat 1 angka 1 KUHP. Karena dari masing-masing pelaku punya tugas yang berbeda, maka kita juga juntokan dengan pasal 65 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun,” terangnya.

Mengenai adanya kemungkinan bahwa pelaku dapat dijerat dengan undang-undang perlindungan anak, Masykur belum bisa memastikan. “Apakah kita nanti akan menerapkan pasal undang-undang nomor 17 tahun 2017 yang merupakan perubahan dari undang-undang  23 tahun 2002, masih menunggu hasil penyidikan.  Begitu juga pertanyaan apakah masuk eksploitasi atau tidak, nanti dari proses penyidikan akan kelihatan,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, empat siswa berinisai MY, KW, SF dan BD ditangkap oleh warga Desa Buduan, Kecamatan Suboh. Penangkapan itu bermula saat MY hendak melancarkan aksinya di pasar Buduan. Namun sayang, belum berhasil beraksi, tiba-tiba dia kepergok oleh salah seorang warga setempat.  

Begitu diniterogasi, MY mengaku hendak beraksi bersama dua rekannya.  Mereka adalah SF dan KW yang berperan untuk menjaga situasi pasar.

Namun nahasnya, saat diamanahkan tugas untuk berjaga, SF dan KW malah tertidur di depan pos penjagaan pasar. Sehingga saat warga mendengar pengakuan MY, dengan mudah keduanya ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Sesampainya di kantor polisi, petugas langsung melakukan interogasi. Hasilnya keempatnya mengaku bahwa otak dibalik perbuatan mereka adalah Aden Siswanto. (zul/pri)

SITUBONDO– Petugas kepolisian akhirnya berhasil menangkap Aden Siswanto, otak pelaku pencurian dengan pemberatan (curat) yang melibatkan empat bocah SMP. Pria asal Dusun Karanganyar, Desa Tamansari, Kecamatan Sumbermalang ini berhasil diringkus di Kabupaten Probolinggo setelah sempat menjadi DPO Kepolisian.

Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Masykur mengatakan, Aden menjadi burunon polisi sejak beberapa hari yang lalu. “Dia melarikan diri setelah mengetahui bahwa empat anak buahnya yang ditugas untuk melakukan curat ditangkap oleh petugas kepolisian. Setelah dilacak nomor HP-nya, ternyata ditemukan posisi Aden, berada di Probolinggo,” jelasnya.

Tanpa buang waktu, aparat penegak hukum itu pun langsung datang ke lokasi yang dijuluki dengan kota Mangga itu. Alhasil, Aden setelah dilakukan pengejaran, Aden berhasil ditangkap di wilayah Randu Pager. “Pelaku diamankan di daerah Randu Pager, Probolinggo. Di mana pada saat itu, dia tengah berada di mobil sewaan. Anggota resmob yang ditugasi untuk mengintai terus mengikuti. Sesampainya di simpang jalan kota, langsung dilakukan penangkapan,” jelasnya.

Barang bukti  yang berhasil diamankan dari tangan Aden yakni berupa dua buah HP dan beberapa balok kayu. “Kami mengamankan satu unit HP milik tersangka dan satu unit lainnya yang merupakan hasil kejahatan. Serta alat-alat yang digunakan oleh anak-anak untuk melakukan pencurian. Diantaranya tali dan beberpa balok kayu yang digunakan untuk memanjat ketika berkasi,” jelasnya.

Sedangkan setelah dilakukan pemeriksaan, Aden mengakui bahwa dirinya hanya terlibat di delapan TKP. Sementara untuk lokasi lainnya, dia mengakut tidak ikut bertanggung jawab.

“Menurut pengkuannya, si Aden ini hanya memerintah dan bertanggung jawab pada delapan TKP. Sisanya, di empat TKP lain dia tidak ikut campur,” terang Masykur.

Menurut Masykur, atas perbutannya itu, Aden dapat dijerat dengan pasal poko undang-undang pencurian dengan pemberatan.”Terhadap pelaku kita terapkan pasal pokoknya. Yaitu pasal pencurian dengan pemberatan. Sesuai pasal 363 ayat 1 angka ke 3, 4, 5 KUHP. Karena yang bersangkutan juga menyuruh melakukan, maka kita juntokan dengan pasal 55 ayat 1 angka 1 KUHP. Karena dari masing-masing pelaku punya tugas yang berbeda, maka kita juga juntokan dengan pasal 65 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun,” terangnya.

Mengenai adanya kemungkinan bahwa pelaku dapat dijerat dengan undang-undang perlindungan anak, Masykur belum bisa memastikan. “Apakah kita nanti akan menerapkan pasal undang-undang nomor 17 tahun 2017 yang merupakan perubahan dari undang-undang  23 tahun 2002, masih menunggu hasil penyidikan.  Begitu juga pertanyaan apakah masuk eksploitasi atau tidak, nanti dari proses penyidikan akan kelihatan,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, empat siswa berinisai MY, KW, SF dan BD ditangkap oleh warga Desa Buduan, Kecamatan Suboh. Penangkapan itu bermula saat MY hendak melancarkan aksinya di pasar Buduan. Namun sayang, belum berhasil beraksi, tiba-tiba dia kepergok oleh salah seorang warga setempat.  

Begitu diniterogasi, MY mengaku hendak beraksi bersama dua rekannya.  Mereka adalah SF dan KW yang berperan untuk menjaga situasi pasar.

Namun nahasnya, saat diamanahkan tugas untuk berjaga, SF dan KW malah tertidur di depan pos penjagaan pasar. Sehingga saat warga mendengar pengakuan MY, dengan mudah keduanya ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Sesampainya di kantor polisi, petugas langsung melakukan interogasi. Hasilnya keempatnya mengaku bahwa otak dibalik perbuatan mereka adalah Aden Siswanto. (zul/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/