alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Tangani PMK, Dinas Peternakan Ajukan Belanja Tak Terduga

RADAR SITUBONDO – Dinas Peternakan dan Perikanan (DIsnakkan) Pemkab Situbondo telah mengajukan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menangani kasus penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun jumlah anggaran yang nantinya akan didapatkan masih belum diketahui.

Plt. Kepala Disnakkan, Kholil mengatakan, untuk menggunakan dana BTT harus ada ketentuan Surat  Keputusan (SK). Itu hanya dapat dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Porprov. Isinya menerangkan bahwa Kabupaten Situbondo dalam status darurat kasus PMK. “SE-nya sendiri baru keluar beberapa pekan lalu. Maka kami segera mengajukannya kepada Bupati Situbondo,” ucap Kholil, Rabu (15/6) kemarin.

Dia mengatakan, Disnakkan belum mengetahui anggaran yang akan cair nanti. Sebab, itu menjadi kebijakan Pemerintah Daerah. Yang pasti sesuai dengan kemampuan keuangan. “BTT berasal dari APBD dan bisa dicairkan dalam waktu cepat karena sifatnya kebutuhan mendesak,” ungkapnya.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup itu mengatakan, kasus penyebaran PMK di Situbondo terus bertambah. Saat ini diperkirakan sekitar 600 ekor hewan yang terpapar. Namun data itu bukan menunjukkan positif PMK. Melainkan hewan ternak yang dalam kondisi suspek. “Gejalanya memang seperti terpapar PMK. Namun itu belum diketahui secara pasti. Karena untuk memastikan positif PMK harus dilakukan swab,” ungkapnya.

Kholil mengatakan, biaya swab membutuhkan sekitar Rp.700 ribu untuk satu ekor hewan ternak. “Dari pada uangnya digunakan untuk kebutuhan swab, lebih baik digunakan untuk kebutuhan obat, vitamin. Tujuannya lebih kepada pencegahan,” ucapnya.

Kata dia, warga diminta segera melaporkan kepada petugas kesehatan apabila hewan ternaknya mengalami gejala terpapar penyakit PMK. Karena itu berhubungan dengan percepatan penanganan untuk han agar cepat sembuh. “Hewan ternak yang sembuh sekitar seratus ekor. Karena saat gejalanya masih tidak parah dan segera ditangani, tingkat kesembuhannya besar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kholil mengatakan, Disnakkan mengalami keterbatasan anggaran untuk membiayai hewan ternak yang terpapar penyakit PMK. Maka untuk warga yang mampu, diminta menggunakan biaya pribadi dalam merawat hewan ternaknya. “Kalau kami anggarannya sudah ada, kebutuhan obat, vitamin, akan diberikan secara gratis,” pungkasnya. (wan/pri)

RADAR SITUBONDO – Dinas Peternakan dan Perikanan (DIsnakkan) Pemkab Situbondo telah mengajukan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menangani kasus penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun jumlah anggaran yang nantinya akan didapatkan masih belum diketahui.

Plt. Kepala Disnakkan, Kholil mengatakan, untuk menggunakan dana BTT harus ada ketentuan Surat  Keputusan (SK). Itu hanya dapat dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Porprov. Isinya menerangkan bahwa Kabupaten Situbondo dalam status darurat kasus PMK. “SE-nya sendiri baru keluar beberapa pekan lalu. Maka kami segera mengajukannya kepada Bupati Situbondo,” ucap Kholil, Rabu (15/6) kemarin.

Dia mengatakan, Disnakkan belum mengetahui anggaran yang akan cair nanti. Sebab, itu menjadi kebijakan Pemerintah Daerah. Yang pasti sesuai dengan kemampuan keuangan. “BTT berasal dari APBD dan bisa dicairkan dalam waktu cepat karena sifatnya kebutuhan mendesak,” ungkapnya.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup itu mengatakan, kasus penyebaran PMK di Situbondo terus bertambah. Saat ini diperkirakan sekitar 600 ekor hewan yang terpapar. Namun data itu bukan menunjukkan positif PMK. Melainkan hewan ternak yang dalam kondisi suspek. “Gejalanya memang seperti terpapar PMK. Namun itu belum diketahui secara pasti. Karena untuk memastikan positif PMK harus dilakukan swab,” ungkapnya.

Kholil mengatakan, biaya swab membutuhkan sekitar Rp.700 ribu untuk satu ekor hewan ternak. “Dari pada uangnya digunakan untuk kebutuhan swab, lebih baik digunakan untuk kebutuhan obat, vitamin. Tujuannya lebih kepada pencegahan,” ucapnya.

Kata dia, warga diminta segera melaporkan kepada petugas kesehatan apabila hewan ternaknya mengalami gejala terpapar penyakit PMK. Karena itu berhubungan dengan percepatan penanganan untuk han agar cepat sembuh. “Hewan ternak yang sembuh sekitar seratus ekor. Karena saat gejalanya masih tidak parah dan segera ditangani, tingkat kesembuhannya besar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kholil mengatakan, Disnakkan mengalami keterbatasan anggaran untuk membiayai hewan ternak yang terpapar penyakit PMK. Maka untuk warga yang mampu, diminta menggunakan biaya pribadi dalam merawat hewan ternaknya. “Kalau kami anggarannya sudah ada, kebutuhan obat, vitamin, akan diberikan secara gratis,” pungkasnya. (wan/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/