alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Pembunuh Pelajar Menggunakan Baygon Dituntut Penjara Seumur Hidup

SITUBONDO– Sidang kasus dugaan pembunuhan salah satu pelajar di SMAN Situbondo masuk tahap tuntutan, kemarin (14/03). Fathor Rasih, 25, pelaku pembunuhan dituntut hukuman penjara seumur hidup.

Di mata Jaksa Penuntut Umum (JPU), Bagus Nur Jakfar AS, terdakwa terbukti telah menghilangkan nyawa Riko, 17.  Dia menyampaikan, terdakwa dituntut cukup berat karena terbukti melakukan pembunuhan berencana. Yakni dengan menyemprotkan Baygon ke minuman korban.

“Hal yang memberatkan kepada terdakwa adalah pembunuhan berencana. Karena itu saya tuntut pasal 340 yang artinya pembunuhan berencana dengan tuntutan seumur hidup. Barangkali Ini adalah tuntutan seumur hidup kali pertama di Situbondo,” terangnya usai menjalani sidang.

Hal yang juga memberatkan kepada pelaku adalah ditemukannya kandungan sianida dengan kadar yang cukup tinggi. ”Terus terang hampir di seluruh bagian tubuhnya (korban) ditemukan sianida. Sementara dari hasil forensik didapatkan keterangan kandungan 00,3 di darahnya. Sedangakan di lambung seberat 8,82. Semua Itu adalah keterangan dari pihak ahli,” jelas Bagus saat diwawancarai.

Sementara mengenai asal Sianida, Bagus masih belum bisa memberikan kepastian. Namun menurutnya, bisa jadi itu merupakan hasil dari reaksi kimia. “Kemungkinan ada reaksi kimia akibat pencampuran Baygon dan pil trex. Namun masih belum bisa dipastikan,” imbuhnya.

Jaksa di Kejaksaan negeri Situbondo itu berharap, kejadian tersebut menjadi pelajaran kepada yang lain. “Jangan macam-macam dengan pil trex. Karena tetap akan kami tindak tegas,” tegasnya.

Sementara itu, Zainuri, pengacara terdakwa sangat menyayangkan tuntutan tersebut. Karena selama dilaksanakan sidang, tidak pernah dipanggil satu pun saksi fakta. “Menurut Saya, JPU tidak bisa membuktikan dakwaannya. Karena yang dihadirkan bukanlah saksi fakta. Semuanya hanyalah katanya dan katanya. Bahkan, pelayan di tempat kejadian saja tidak pernah dipanggil,” ucapnya.

Sementara mengenai keberadaan sianida di tubuh korban, Zainuri masih mempertanyakan asalnya. “Kalau dia menyebut adanya sianida, sekarang saya tanyakan sianida itu darimana? Meskipun dari hasil labfor memang ditemukan sianida,” jelasnya.

Bahkan menurut Zainuri, saksi ahli yang dihadirkan di persidangan pun tidak sesuai dengan kapabilitasnya. “Waktu ditanyakan sama hakim, Baygon mengandung sianida? Dia kebingungan. Padahal Baygon mengandung pestisida. Bukan sianida,” bebernya.

Selain itu, kata Zainuri, tuntutan JPU mengenai pembunuhan berencana tidaklah benar. “Kalau memang itu direncanakan, mana fakta sidangnya? Karena tadi JPU tidak pernah memaparkan uraian peristiwa pidana. Juga alasan dia menuntut demikian. Karena itu saya hanya tertawa saja mendengarnya,” tuturnya.

Zainuri mengaku sudah mempersiapkan pembelaan terhadap terdakwa. “Jangankan tiga minggu lagi, senin besok saya dipanggil sudah siap dengan pembelaannya. Karena memang, jika Fathor mempunyai niatan membunuh, tentu tidak akan membantu korban. Karena itu hasilnya kita tunggu di pembelaan nanti,” jelasnya.  

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Fathor dibekuk polisi atas dugaan pembunuhan terhadap temannya sendiri, Riko dengan menggunakan Baygon. Diduga itu dilakukan karena terdakwa ingin memiliki motor. Akibat perbuatannya, pelaku langsung diamankan polisi. (cw1/pri)

SITUBONDO– Sidang kasus dugaan pembunuhan salah satu pelajar di SMAN Situbondo masuk tahap tuntutan, kemarin (14/03). Fathor Rasih, 25, pelaku pembunuhan dituntut hukuman penjara seumur hidup.

Di mata Jaksa Penuntut Umum (JPU), Bagus Nur Jakfar AS, terdakwa terbukti telah menghilangkan nyawa Riko, 17.  Dia menyampaikan, terdakwa dituntut cukup berat karena terbukti melakukan pembunuhan berencana. Yakni dengan menyemprotkan Baygon ke minuman korban.

“Hal yang memberatkan kepada terdakwa adalah pembunuhan berencana. Karena itu saya tuntut pasal 340 yang artinya pembunuhan berencana dengan tuntutan seumur hidup. Barangkali Ini adalah tuntutan seumur hidup kali pertama di Situbondo,” terangnya usai menjalani sidang.

Hal yang juga memberatkan kepada pelaku adalah ditemukannya kandungan sianida dengan kadar yang cukup tinggi. ”Terus terang hampir di seluruh bagian tubuhnya (korban) ditemukan sianida. Sementara dari hasil forensik didapatkan keterangan kandungan 00,3 di darahnya. Sedangakan di lambung seberat 8,82. Semua Itu adalah keterangan dari pihak ahli,” jelas Bagus saat diwawancarai.

Sementara mengenai asal Sianida, Bagus masih belum bisa memberikan kepastian. Namun menurutnya, bisa jadi itu merupakan hasil dari reaksi kimia. “Kemungkinan ada reaksi kimia akibat pencampuran Baygon dan pil trex. Namun masih belum bisa dipastikan,” imbuhnya.

Jaksa di Kejaksaan negeri Situbondo itu berharap, kejadian tersebut menjadi pelajaran kepada yang lain. “Jangan macam-macam dengan pil trex. Karena tetap akan kami tindak tegas,” tegasnya.

Sementara itu, Zainuri, pengacara terdakwa sangat menyayangkan tuntutan tersebut. Karena selama dilaksanakan sidang, tidak pernah dipanggil satu pun saksi fakta. “Menurut Saya, JPU tidak bisa membuktikan dakwaannya. Karena yang dihadirkan bukanlah saksi fakta. Semuanya hanyalah katanya dan katanya. Bahkan, pelayan di tempat kejadian saja tidak pernah dipanggil,” ucapnya.

Sementara mengenai keberadaan sianida di tubuh korban, Zainuri masih mempertanyakan asalnya. “Kalau dia menyebut adanya sianida, sekarang saya tanyakan sianida itu darimana? Meskipun dari hasil labfor memang ditemukan sianida,” jelasnya.

Bahkan menurut Zainuri, saksi ahli yang dihadirkan di persidangan pun tidak sesuai dengan kapabilitasnya. “Waktu ditanyakan sama hakim, Baygon mengandung sianida? Dia kebingungan. Padahal Baygon mengandung pestisida. Bukan sianida,” bebernya.

Selain itu, kata Zainuri, tuntutan JPU mengenai pembunuhan berencana tidaklah benar. “Kalau memang itu direncanakan, mana fakta sidangnya? Karena tadi JPU tidak pernah memaparkan uraian peristiwa pidana. Juga alasan dia menuntut demikian. Karena itu saya hanya tertawa saja mendengarnya,” tuturnya.

Zainuri mengaku sudah mempersiapkan pembelaan terhadap terdakwa. “Jangankan tiga minggu lagi, senin besok saya dipanggil sudah siap dengan pembelaannya. Karena memang, jika Fathor mempunyai niatan membunuh, tentu tidak akan membantu korban. Karena itu hasilnya kita tunggu di pembelaan nanti,” jelasnya.  

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Fathor dibekuk polisi atas dugaan pembunuhan terhadap temannya sendiri, Riko dengan menggunakan Baygon. Diduga itu dilakukan karena terdakwa ingin memiliki motor. Akibat perbuatannya, pelaku langsung diamankan polisi. (cw1/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/