alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Peserta Menyusun Batu Tercepat dan Tertinggi Dihadiahi Kaos

Belum lama ini, salah satu sekolah mengadakan lomba menyusun batu. Kegiatan tersebut hanya untuk mengisi kejenuhan di tengah padatnya kegiatan sekolah.  

 HABIBUL ADNAN, Asembagus

 Salah satu SMA di Kecamatan Asembagus, belum lama ini mengadakan kegiatan blusukan sejarah. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Itu sebagai upaya untuk mengenalkan tempat-tempat bersejarah di Situbondo.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah sebuah bukit di Kecamatan Banyuputih. Tepatnya, di Dusun Sekar Putih, Desa Sumberanyar. Di perbukitan tersebut, ada tempat yang diyakini sebagai petilasan.

Para siswa tersebut diberikan pemaparan tentang asal petilasan itu oleh salah satu pegiat sejarah. Mereka juga mendiskusikan berbagai hal tentang cagar budaya. Nah, di sela-sela kegiatan itu, para siswa mengikuti lomba menyusun batu.

Batu ditata ke atas, layaknya susunan batu yang sedang trend saat ini. Erfan, salah satu pegiat sejarah mengatakan, lomba tersebut hanya iseng saja. “Tidak serius. Awalnya, tidak direncanakan juga. Agenda semula adalah blusukan sejarah,” katanya.

Baca Juga :  Belasan Kali Beraksi, Sudah Sikat 12 Sepeda Motor

Meski tidak serius, siswa yang ikut lomba mendapatkan hadiah. Peserta tercepat dan hasil penataannya paling tinggi, dinyatakan sebagai pemenang. “Yang menang dapat hadiah kaos,” terangnya.

Untuk blusukan sejarah, Erfan mengaku, dilaksanakan setiap pekan pada Hari Minggu. Dia mengatakan, beberapa pegiat sejarah, terlibat di dalamnya. “Kita sudah menggandeng beberapa sekolah,” ujarnya.

Dia menerangkan, itu dilakukan untuk mengenalkan sejarah lokal kepada siswa. Tempat yang dituju, titik-titik yang memiliki nilai historis yang ada di Situbondo. “Biar siswa tahu kekayaan sejarah yang dimiliki,” kata Erfan.

Dia mengatakan, Situbondo memiliki banyak peninggalan sejarah. Ini harus dikenalkan kepada generasi saat ini untuk melestarikan peninggalan tersebut. “Siswa tidak hanya tahu sejarah nasional, tetapi yang ada di daerah sendiri juga harus kenal,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pohon Tumbang Timpa Sepeda Motor

Nadia Putri, salah satu siswa mengatakan, lomba menyusun batu sangat seru. Menurutnya, kejenuhan selama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler itu menjadi hilang. “Otak menjadi lebih fresh. Lomba ini membuat suasana sangat seru,” katanya.

Dia menerangkan, menata batu tidak mudah. Butuh kecermatan, serta kesabaran.  Menurutnya, jika kurang cermat, batu akan cepat roboh. “Karena harus ada kesesuain antara ukuran batu yang di bawah dengan yang di atasnya,” ujar Nadia. 

Dia mengaku, penataan tertinggi mencapai 75 sentimeter. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. “Ternyata banyak yang tidak bisa. Sekian menit langsung roboh,” katanya.

Akan tetapi inilah letak keseruannnya. Sebab, masing-masing kelompok harus berusaha keras untuk bisa menghasilkan penataan yang bagus. Mereka harus berjuang agar batu yang ditatanya tidak roboh.  (pri)

Belum lama ini, salah satu sekolah mengadakan lomba menyusun batu. Kegiatan tersebut hanya untuk mengisi kejenuhan di tengah padatnya kegiatan sekolah.  

 HABIBUL ADNAN, Asembagus

 Salah satu SMA di Kecamatan Asembagus, belum lama ini mengadakan kegiatan blusukan sejarah. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Itu sebagai upaya untuk mengenalkan tempat-tempat bersejarah di Situbondo.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah sebuah bukit di Kecamatan Banyuputih. Tepatnya, di Dusun Sekar Putih, Desa Sumberanyar. Di perbukitan tersebut, ada tempat yang diyakini sebagai petilasan.

Para siswa tersebut diberikan pemaparan tentang asal petilasan itu oleh salah satu pegiat sejarah. Mereka juga mendiskusikan berbagai hal tentang cagar budaya. Nah, di sela-sela kegiatan itu, para siswa mengikuti lomba menyusun batu.

Batu ditata ke atas, layaknya susunan batu yang sedang trend saat ini. Erfan, salah satu pegiat sejarah mengatakan, lomba tersebut hanya iseng saja. “Tidak serius. Awalnya, tidak direncanakan juga. Agenda semula adalah blusukan sejarah,” katanya.

Baca Juga :  Warga Bondowoso Hilang, Tiga Hari BPBD Sisir Sungai Sampean Baru

Meski tidak serius, siswa yang ikut lomba mendapatkan hadiah. Peserta tercepat dan hasil penataannya paling tinggi, dinyatakan sebagai pemenang. “Yang menang dapat hadiah kaos,” terangnya.

Untuk blusukan sejarah, Erfan mengaku, dilaksanakan setiap pekan pada Hari Minggu. Dia mengatakan, beberapa pegiat sejarah, terlibat di dalamnya. “Kita sudah menggandeng beberapa sekolah,” ujarnya.

Dia menerangkan, itu dilakukan untuk mengenalkan sejarah lokal kepada siswa. Tempat yang dituju, titik-titik yang memiliki nilai historis yang ada di Situbondo. “Biar siswa tahu kekayaan sejarah yang dimiliki,” kata Erfan.

Dia mengatakan, Situbondo memiliki banyak peninggalan sejarah. Ini harus dikenalkan kepada generasi saat ini untuk melestarikan peninggalan tersebut. “Siswa tidak hanya tahu sejarah nasional, tetapi yang ada di daerah sendiri juga harus kenal,” imbuhnya.

Baca Juga :  Temukan Tiga Gugus Struktur Utuh di Situs Melek

Nadia Putri, salah satu siswa mengatakan, lomba menyusun batu sangat seru. Menurutnya, kejenuhan selama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler itu menjadi hilang. “Otak menjadi lebih fresh. Lomba ini membuat suasana sangat seru,” katanya.

Dia menerangkan, menata batu tidak mudah. Butuh kecermatan, serta kesabaran.  Menurutnya, jika kurang cermat, batu akan cepat roboh. “Karena harus ada kesesuain antara ukuran batu yang di bawah dengan yang di atasnya,” ujar Nadia. 

Dia mengaku, penataan tertinggi mencapai 75 sentimeter. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. “Ternyata banyak yang tidak bisa. Sekian menit langsung roboh,” katanya.

Akan tetapi inilah letak keseruannnya. Sebab, masing-masing kelompok harus berusaha keras untuk bisa menghasilkan penataan yang bagus. Mereka harus berjuang agar batu yang ditatanya tidak roboh.  (pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/