Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Situbondo
icon featured
Situbondo

Penderita DBD Meningkat, Satu Meninggal

14 Januari 2022, 13: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Penderita DBD Meningkat, Satu Meninggal

RAWAT INAP: Salah satu pasien perempuan yang terserang virus DBD di salah satu ruangan RSUD Abdoerrahem Situbondo, Rabu (12/1). (Humaidi/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

SITUBONDO -  Dinas Kesehatan menghimbau agar masyarakat tidak hanya waspada terhadap Covid-19. Ancaman penyakit lain juga patut diwaspadai.  Yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebab, warga yang terjangkit penyakit akibat nyamuk Aedes Aegypti ini juga sudah mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD Abdoerrahem Situbondo, Rahmad Baihaqi mengatakan, meningkatnya jumlah pasien DBD di Kabupaten Situbondo bisa diakibatkan cuaca yang saat ini sering hujan. Sehingga, menimbulkan genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Jumlah pasien yang masuk RSUD Situbondo dari tanggal 5 Desember hingga Pertengahan Januari tercatat sudah ada 27 pasien DBD. Bahkan, pertengahan Bulan Januari ini  sudah ada satu korban yang meninggal dunia,” ungkapnya, Rabu (12/1).

Baca juga: Cuaca Buruk, Nelayan Enggan Melaut

Dia menegaskan, semua pasien yang masuk rumah sakit plat merah tersebut mendapatkan penanganan yang maksimal dari rumah sakit. Hanya  saja, satu dari 27 pasien yang drawat tidak bisa terselamatkan karena kondisinya saat tiba di rumah sakit sudah cukup kritis. “Untuk yang meninggal itu, memang dibawa keluarganya ke rumah sakit saat kondisinya sudah cukup parah,” kata Baihaqi.

Ditambahkan, dalam satu pekan terahir ini, dirinya merawat empat anak yang menderita DBD.  Saat ini kondisinya sudah membaik. “rata-rata pasien DBD yang ditangani kita adalah anak dengan usia 12 tahun ke bawah,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Situbondo, Dwi Susilo mengatakan, upaya yang paling ditekan dalam menangani kasus DBD adalah fogging. Terutama jika ada warga yang terkena serangan DBD. Karena tidak mungkin jika dilakukan fogging seperti penanganan Covid-19, yang langsung merata di setiap desa. “Dari semua puskesmas pasti bergerak cepat jika ada orang yang mengalami serangan DBD. Yang disemprot itu cuma satu lingkungan orang yang terjangkit,” jelas Dwi.

Dia menghimbau agar masyarakat selalu menguras bak mandi dan tempat air lainnya. Dengan begitu, akan memutus mata rantai hidup nyamuk Aedes Aegypti. Sebab, siklus  hidupnya berbahaya. Mulai bertelur sampai tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Terhitung antara tujuh hingga 10 hari. “Kalau masyarakat kompak, setiap satu minggu satu kali membuang dan menguras, insyaallah hal itu akan mengurangi penyebaran virus dari nyamuk Aedes Aegypti” tegasnya.

Menurutnya, setiap tahun pasti ada peningkatan kasus yang terkena serangan penyakit dengue. Biasanya itu marak di waktu musim hujan seperti saat ini. Sehingga, kebersihan dari setiap lingkungan warga di musim penghujan juga harus ditingkatkan. “Utamanya untuk air, diusahakan untuk selalu tertutup. Karena nyamuk yang satu ini juga senang dengan air yang jernih. Malah nyamuk jenis yang  membahayakan ini akan mati ketika berada di dalam air yang keruh. Sehingga selain dalam bak mandi biasnya nyamuk ini bersarang di pelepah daun. Kan kalau air di pelepah daun sangat jernih,” pungkas Dwi. (hum/pri)

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia