alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Dyah Mutiara Sari Dewi, Mahasiswa yg Memilih Jadi Juru Bahasa Isyarat

PANJI – Tak banyak Penerjemah Juru Bahasa Isyarat (JBI) di Kota Santri. Se-Kabupaten hanya ada dua orang. Salah satunya adalah Dyah Mutiara Sari Dewi.

Keberadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) bagi kaum disabilitas khususnya tuna rungu dan Daksa di Kabupaten Situbondo sangat minim. Makanya, itu harus menjadi perhatian bersama. Khususnya pemerintah daerah. Hingga saat ini, JBI yang ada di Situbondo hanya dua orang. Keduanyalah yang menangani kebutuhan sekian banyak disabilitas di Kota Santri.

Salah satu JBI itu adalah Dyah Mutiara Sari Dewi. Cewek 19 tahun asal Kampung Selatan, Desa Tokelan, Kecamatan Panji, Situbondo, tersebut menggeluti profesi sebagai JBI sejak 2017 silam. Perempuan tiga bersaudara ini awalnya hanya mencoba-coba. Namun, seiring berjalannya waktu, dia kini cukup enjoy menggeluti profesinya tersebut. Hingga akhirnya, Dyah diundang Provinsi Jawa Tengah dengan membawa nama baik Forum Anak pada 2018 silam.

Dyah saat ini masih mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Abdurrahem Saleh Situbondo. Ketertarikannya kepada JBI berawal saat dia merasa prihatin serta iba terhadap para disabilitas Tuna Daksa dan Tuna Rungu. Sebab, tidak memiliki penerjemah yang bisa menjadi jembatan mereka dalam berkomunikasi atau mendengarkan pesan dari orang normal.

Kata Dyah, mereka juga memiliki hak yang sama untuk menerima pesan maupun penyampaikan informasi. Mereka tidak bisa mendengarkan secara langsung apa yang dikatakan orang lain, karena terhalang kekurangannya.

Dyah berharap ke depan akan makin banyak orang lain mengikuti langkah dirinya. Sehingga, para Tuna Daksa dan Tuna Rungu yang ada di Situbondo tidak kesulitan akses untuk berkomunikasi dengan orang normal.

Dyah mengaku tidak kesulitan saat berkomunikasi dengan para disabilitas. Masalah timbul jika Dyah harus memahami kata kata gaul dan formal dari Disabilitas. Sehingga, untuk memperagakannya cukup sulit.

“Saya berharap agar Pemerintah Daerah lebih memberikan perhatian ekstra kepada penyandang disabilitas yang kesulitan akses dalam kehidupan sehari-harinya, baik untuk melakukan komunikasi dengan orang maupun melakukan aktivitasnya,” pungkasnya. (mg4/pri)

PANJI – Tak banyak Penerjemah Juru Bahasa Isyarat (JBI) di Kota Santri. Se-Kabupaten hanya ada dua orang. Salah satunya adalah Dyah Mutiara Sari Dewi.

Keberadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) bagi kaum disabilitas khususnya tuna rungu dan Daksa di Kabupaten Situbondo sangat minim. Makanya, itu harus menjadi perhatian bersama. Khususnya pemerintah daerah. Hingga saat ini, JBI yang ada di Situbondo hanya dua orang. Keduanyalah yang menangani kebutuhan sekian banyak disabilitas di Kota Santri.

Salah satu JBI itu adalah Dyah Mutiara Sari Dewi. Cewek 19 tahun asal Kampung Selatan, Desa Tokelan, Kecamatan Panji, Situbondo, tersebut menggeluti profesi sebagai JBI sejak 2017 silam. Perempuan tiga bersaudara ini awalnya hanya mencoba-coba. Namun, seiring berjalannya waktu, dia kini cukup enjoy menggeluti profesinya tersebut. Hingga akhirnya, Dyah diundang Provinsi Jawa Tengah dengan membawa nama baik Forum Anak pada 2018 silam.

Dyah saat ini masih mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Abdurrahem Saleh Situbondo. Ketertarikannya kepada JBI berawal saat dia merasa prihatin serta iba terhadap para disabilitas Tuna Daksa dan Tuna Rungu. Sebab, tidak memiliki penerjemah yang bisa menjadi jembatan mereka dalam berkomunikasi atau mendengarkan pesan dari orang normal.

Kata Dyah, mereka juga memiliki hak yang sama untuk menerima pesan maupun penyampaikan informasi. Mereka tidak bisa mendengarkan secara langsung apa yang dikatakan orang lain, karena terhalang kekurangannya.

Dyah berharap ke depan akan makin banyak orang lain mengikuti langkah dirinya. Sehingga, para Tuna Daksa dan Tuna Rungu yang ada di Situbondo tidak kesulitan akses untuk berkomunikasi dengan orang normal.

Dyah mengaku tidak kesulitan saat berkomunikasi dengan para disabilitas. Masalah timbul jika Dyah harus memahami kata kata gaul dan formal dari Disabilitas. Sehingga, untuk memperagakannya cukup sulit.

“Saya berharap agar Pemerintah Daerah lebih memberikan perhatian ekstra kepada penyandang disabilitas yang kesulitan akses dalam kehidupan sehari-harinya, baik untuk melakukan komunikasi dengan orang maupun melakukan aktivitasnya,” pungkasnya. (mg4/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/