alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Kadispendik: Jangan Terima Upah Saat Daftarkan Siswa

SITUBONDO– Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Dispendikbud) Situbondo, Fathor Rakhman menghimbau agar para guru tidak menerima imbalan saat mengantarkan siswanya mendaftar ke sekolah tertentu.  Karena meskipun tidak ada larangan khusus, namun hal tersebut tidaklah mendidik.

“Seringkali kami jumpai di lapangan beberapa guru yang menerima imbalan atas nama rekrutmen siswa. Baik itu PPDB (Pedaftaran Peserta Didik Baru) jalur mandiri, maupun yang reguler melalui online,” ungkap Fathor.

Akan tetapi, kata Fathor, yang paling berpotensi untuk dilakukan pemungutan imbalan adalah pendaftara jalur mandiri. Karena di dalamnya masih sering dibumbui cara-cara kolusi.

Baca Juga :  Tim Buka Pasung Situbondo Dikukuhkan

 “Misalnya setiap guru yang membawa siswa mendaftar dalam jumlah tertentu diberi imbalan oleh sekolah.  Umpamanya satu siswa Rp. 50 ribu. Maka cara-cara seperti inilah yang sebenarnya tidak mendidik. Baik itu yang memberi maupun yang menerima,” jelasnya.

Menurut Fathor, cara-cara demikian sangatlah bertolak belakang dengan tujuan dari pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). “Kan pemerintah dengan pelaksanaan UNBK salah satu tujuannya untuk membangun integritas dan kejujuran. Tapi, mengapa dalam penerimaan PPDB masih dijumpai sekolah yang menempuh cara-cara yang tidak baik,” ucapnya.

Dia menambahkan, akan lebih bagus jika guru mau menolak terhadap setiap imbalan yang diberikan oleh sekolah yang dituju. Karena akan lebih bermanfaat jika uang tersebut dijadikan fasilitas untuk siswa miskin

Baca Juga :  Budaya Lokal Dominasi Penampilan Peserta Pawai Budaya Kota Santri

 “Justru dengan tidak mengambil imbalan, guru akan  mendapat pahala. Perkara sekolah yang menerima nanti memberi faislitas kepada siswa miskin atau yatim piatu berupa tas dan seragam, itu malah lebih baik. Lebih mendidik. Daripada memberikan kepada guru yang notabene sudah menerima uang tunjangan dan gaji,” jelasnya.

Karenanya, Fathor mengharap himbauan tersebut menjadi perhatian bersama. Sehingga korupsi dan kolusi dalam rekrutmen siswa tidak subur di Situbondo. “Intinya saya mengajak semua sekolah jangan sampai menyuburkan kourpsi dan kolusi dalam hal rekrutmen dalam bentuk apapun. Soalnya di wilayah barat sering terjadi seperti itu,” jelasnya. (zul/pri)

SITUBONDO– Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Dispendikbud) Situbondo, Fathor Rakhman menghimbau agar para guru tidak menerima imbalan saat mengantarkan siswanya mendaftar ke sekolah tertentu.  Karena meskipun tidak ada larangan khusus, namun hal tersebut tidaklah mendidik.

“Seringkali kami jumpai di lapangan beberapa guru yang menerima imbalan atas nama rekrutmen siswa. Baik itu PPDB (Pedaftaran Peserta Didik Baru) jalur mandiri, maupun yang reguler melalui online,” ungkap Fathor.

Akan tetapi, kata Fathor, yang paling berpotensi untuk dilakukan pemungutan imbalan adalah pendaftara jalur mandiri. Karena di dalamnya masih sering dibumbui cara-cara kolusi.

Baca Juga :  Budaya Lokal Dominasi Penampilan Peserta Pawai Budaya Kota Santri

 “Misalnya setiap guru yang membawa siswa mendaftar dalam jumlah tertentu diberi imbalan oleh sekolah.  Umpamanya satu siswa Rp. 50 ribu. Maka cara-cara seperti inilah yang sebenarnya tidak mendidik. Baik itu yang memberi maupun yang menerima,” jelasnya.

Menurut Fathor, cara-cara demikian sangatlah bertolak belakang dengan tujuan dari pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). “Kan pemerintah dengan pelaksanaan UNBK salah satu tujuannya untuk membangun integritas dan kejujuran. Tapi, mengapa dalam penerimaan PPDB masih dijumpai sekolah yang menempuh cara-cara yang tidak baik,” ucapnya.

Dia menambahkan, akan lebih bagus jika guru mau menolak terhadap setiap imbalan yang diberikan oleh sekolah yang dituju. Karena akan lebih bermanfaat jika uang tersebut dijadikan fasilitas untuk siswa miskin

Baca Juga :  Mantan Asisten Pemkab Bondowoso Jabat Kaban PKAD

 “Justru dengan tidak mengambil imbalan, guru akan  mendapat pahala. Perkara sekolah yang menerima nanti memberi faislitas kepada siswa miskin atau yatim piatu berupa tas dan seragam, itu malah lebih baik. Lebih mendidik. Daripada memberikan kepada guru yang notabene sudah menerima uang tunjangan dan gaji,” jelasnya.

Karenanya, Fathor mengharap himbauan tersebut menjadi perhatian bersama. Sehingga korupsi dan kolusi dalam rekrutmen siswa tidak subur di Situbondo. “Intinya saya mengajak semua sekolah jangan sampai menyuburkan kourpsi dan kolusi dalam hal rekrutmen dalam bentuk apapun. Soalnya di wilayah barat sering terjadi seperti itu,” jelasnya. (zul/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/