alexametrics
24.9 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Niatkan Berjuang Agar Tetap Nyambung dengan Ulama

RadarBanyuwangi.id – Usianya sudah tidak muda lagi, sudah 66 tahun. Meski begitu, dia mengaku akan terus aktif mengurusi NU. Baginya, itu salah satu sarana perjuangan.

H. Ahmad Taufik hanyamengaku merasa pusing. Karenaitu, dia mencoba memeriksakesehatannya. Dan, tensinyatinggi. Seorang petugasmedis tampak menyodorkanpil. Petugas itu meminta agartablet yang diberikan langsungdiminum. “Ini vitamin,” ujarpetugas tersebut.

H. Taufik merupakan salah satu peserta Konferensi Cabang (Konfercab) NU Situbondo yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Wali Songo, Senin (07/06). Pria kelahiran 1955 itu memang harus mengikuti musyawarah lima tahunan tersebut karena dia menjadi pengurus ranting NU.

Dia mengaku menjadi Syuriah Ranting NU Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan. Dia mengaku mengikuti beberapa agenda konfercab sejak pagi. “Ya, darah saya naik, makanya saya keluar sebentar. Mungkin karena kurang istirahat atau kecapekan,” katanya sambil.

Baca Juga :  Menteri Agraria Serahkan 1.026 Sertipikat Wakaf NU

Alumni Pondok PesantrenSalafiyah Syafi’iyah Sukorejoini sudah cukup lama aktif diNU. Dia menceritakan,sejak usia25 tahun sudah sudah dudukdi jajaran pengurus NU di desanya.“Mulai aktif di NU sekitartahun 1985,” terangnya.

Kepada RadarBanyuwangi.id H. Taufik menambahkan, dia masih menjadi pengurus karena ingin mengabdi kepada NU. Niatnya hanya satu, berjuang agar hatinya tetap nyambung dengan para ulama. “Mengikuti perintah Kiai As’ad, bahwa santrinya diminta berjuang di NU,” katanya.

H. Taufik mengaku tak punya target apapun aktif menjadi pengurus NU. Semata-mata berjuang dan mengabdi kepada masyarakat melalui NU. Karena itu, dia ingin terus berbuat untuk organisasi keislaman yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari ini. “Walaupun sekarang sudah tua, tapi tetap semangat aktif di NU agar selalu tersambung dengan guru- guru,” katanya.

Baca Juga :  Warga Antusias Salat Gerhana Bulan

H. Taufik, sehari-hari menjadi petani. Di samping bekerja di sawah, dia juga jadi guru ngaji di musala dan tenaga pengajar di salah satu madrasah di desanya . “Kalau ngajar di madrasah sudah lama, sejak masih muda,” pungkasnya. (pri)

RadarBanyuwangi.id – Usianya sudah tidak muda lagi, sudah 66 tahun. Meski begitu, dia mengaku akan terus aktif mengurusi NU. Baginya, itu salah satu sarana perjuangan.

H. Ahmad Taufik hanyamengaku merasa pusing. Karenaitu, dia mencoba memeriksakesehatannya. Dan, tensinyatinggi. Seorang petugasmedis tampak menyodorkanpil. Petugas itu meminta agartablet yang diberikan langsungdiminum. “Ini vitamin,” ujarpetugas tersebut.

H. Taufik merupakan salah satu peserta Konferensi Cabang (Konfercab) NU Situbondo yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Wali Songo, Senin (07/06). Pria kelahiran 1955 itu memang harus mengikuti musyawarah lima tahunan tersebut karena dia menjadi pengurus ranting NU.

Dia mengaku menjadi Syuriah Ranting NU Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan. Dia mengaku mengikuti beberapa agenda konfercab sejak pagi. “Ya, darah saya naik, makanya saya keluar sebentar. Mungkin karena kurang istirahat atau kecapekan,” katanya sambil.

Baca Juga :  Cerita Rifki dan Lola, Dua Anak Punk yang menjadi Pasangan Suami-Istri

Alumni Pondok PesantrenSalafiyah Syafi’iyah Sukorejoini sudah cukup lama aktif diNU. Dia menceritakan,sejak usia25 tahun sudah sudah dudukdi jajaran pengurus NU di desanya.“Mulai aktif di NU sekitartahun 1985,” terangnya.

Kepada RadarBanyuwangi.id H. Taufik menambahkan, dia masih menjadi pengurus karena ingin mengabdi kepada NU. Niatnya hanya satu, berjuang agar hatinya tetap nyambung dengan para ulama. “Mengikuti perintah Kiai As’ad, bahwa santrinya diminta berjuang di NU,” katanya.

H. Taufik mengaku tak punya target apapun aktif menjadi pengurus NU. Semata-mata berjuang dan mengabdi kepada masyarakat melalui NU. Karena itu, dia ingin terus berbuat untuk organisasi keislaman yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari ini. “Walaupun sekarang sudah tua, tapi tetap semangat aktif di NU agar selalu tersambung dengan guru- guru,” katanya.

Baca Juga :  Dibuka Suara Beduk, Dihadiri Lintas Agama

H. Taufik, sehari-hari menjadi petani. Di samping bekerja di sawah, dia juga jadi guru ngaji di musala dan tenaga pengajar di salah satu madrasah di desanya . “Kalau ngajar di madrasah sudah lama, sejak masih muda,” pungkasnya. (pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/