alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Dampak Pandemi Covid-19, Pedagang Sapi Pilih Jual Anakan

ARJASA – Sejumlah pedagang sapi di Kota Santri mengeluh. Pandemi covid-19 yang berkepanjangan membuat harga pasaran sapi anjlok. Bahkan, sebagian ada yang mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.

Sarito, warga Dusun Cangkring, Desa Curahtatal, Kecamatan Arjasa, Situbondo, mengatakan dirinya mengalami banyak kerugian. Sebab, sapi dagangannya laku dengan harga yang sangat murah. Padahal, saat membeli harganya cukup tinggi. “Sebenarnya, untung rugi itu sudah hal yang bisa bagi para pedagang sapi. Yang repot itu harga sapi tidak segera normal sejak adanya korona (covid-19),” kata pria 39 tahun itu kepada RadarBanyuwangi.id.

Menurutnya, kerugian yang dialaminya mencapai jutaan rupiah. Dia menyebutkan, saat membeli sapi sebelum pandemi, harga Rp 12 juta. Sedangkan ketika dijual saat ini laku Rp 10 juta. Mengalami kerugian Rp 2 juta. “Itu sudah tidak termasuk kerugian tenaga selama memelihara sapi tersebut selama tujuh bulan. Sekarang semua pedagang banyak yang menjerit, Mas. Karena banyak mengalami kerugian,” imbuhnya.

Kata Sarito, dalam satu minggu ini dirinya rela menjual sapinya dengan harga yang cukup murah. Ada empat ekor yang sudah dia lepas. Baik itu sapi besar ataupun sapi anakan. “Sapi dagangan saya dalam satu minggu ini laku empat ekor, total kerugiannya empat juta. Semoga saja ada rezeki lain meskipun sudah mengalami kerugian,” terangnya.

Untuk saat ini, lanjut Sarito, dirinya lebih fokus berdagang sapi anakan. Sebab, memelihara sapi anakan itu gampang dan jarang mengalami kerugian besar. “Enaknya sapi anakan gampang perawatannya, dan banyak peminatnya,” pungkas Sarito. (hum/pri)

ARJASA – Sejumlah pedagang sapi di Kota Santri mengeluh. Pandemi covid-19 yang berkepanjangan membuat harga pasaran sapi anjlok. Bahkan, sebagian ada yang mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.

Sarito, warga Dusun Cangkring, Desa Curahtatal, Kecamatan Arjasa, Situbondo, mengatakan dirinya mengalami banyak kerugian. Sebab, sapi dagangannya laku dengan harga yang sangat murah. Padahal, saat membeli harganya cukup tinggi. “Sebenarnya, untung rugi itu sudah hal yang bisa bagi para pedagang sapi. Yang repot itu harga sapi tidak segera normal sejak adanya korona (covid-19),” kata pria 39 tahun itu kepada RadarBanyuwangi.id.

Menurutnya, kerugian yang dialaminya mencapai jutaan rupiah. Dia menyebutkan, saat membeli sapi sebelum pandemi, harga Rp 12 juta. Sedangkan ketika dijual saat ini laku Rp 10 juta. Mengalami kerugian Rp 2 juta. “Itu sudah tidak termasuk kerugian tenaga selama memelihara sapi tersebut selama tujuh bulan. Sekarang semua pedagang banyak yang menjerit, Mas. Karena banyak mengalami kerugian,” imbuhnya.

Kata Sarito, dalam satu minggu ini dirinya rela menjual sapinya dengan harga yang cukup murah. Ada empat ekor yang sudah dia lepas. Baik itu sapi besar ataupun sapi anakan. “Sapi dagangan saya dalam satu minggu ini laku empat ekor, total kerugiannya empat juta. Semoga saja ada rezeki lain meskipun sudah mengalami kerugian,” terangnya.

Untuk saat ini, lanjut Sarito, dirinya lebih fokus berdagang sapi anakan. Sebab, memelihara sapi anakan itu gampang dan jarang mengalami kerugian besar. “Enaknya sapi anakan gampang perawatannya, dan banyak peminatnya,” pungkas Sarito. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/