alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Berawal Kondusif, Memanas Saat Bahas Tatib dan Tim Formatur

RadarBanyuwangi.id – Pelaksanaan Konfercab NU Situbondo di Ponpes Wali Songo awalnya berjalan kondusif. Namun situasi menjadi panas ketika membahas terkiat kuroum dengan tim formatur.

Suasana di area Pondok Pesantren Wali Songo berbeda dari biasanya. Tampak sejumlah tokoh masayarakat, ustad dan kiai berkumpul di sana. Termasuk perwakilan dari sejumlah badan otonom (Banom) NU. Tujuan perkumpulan tersebut tak lain untuk mengikuti acara Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Situbondo.

Di awal-awal pembahasan tatib, keadaan forum cukup kondusif. Antara presidium sidang dan para peserta tampak harmonis.

Namun keadaan berbeda saat pembahasan masuk kepada kuota forum (Kuorum) dan tim formatur. Sejumlah peserta memberikan opsi. Beberapa dari mereka bahkan tampak tidak sepakat dengan isi dalam rancangan tatib yang dipegang masing-masing peserta.

Tak cukup disitu, suasana semakin memanas ketika salah satu tokoh dari Wilayah Timur, Ustad Khoiruddin Habziz melayangkan komentar. Dia meminta, agar Tatib yang disahkan disesuaikan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).

Baca Juga :  Perkuat Sinergi Banom dan Lembaga

“Menurut saya, ada beberapa Tatib yang disahkan tidak sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Diantaranya point yang membahas mengenai tim formatur atau orang-orang yang berhak melakukan penyusunan pengurus baru. Benar-benar tidak selaras dengan AD/ART,” ungkapnya.

Mengapa demikian, sebab dalam AD/ART, pihak yang boleh melakukan penyusunan pengurus baru hanyalah perwakilan dari masing-masing, zona serta ketua tanfidziyah dan rais terpilih. “Kebetulan kita punya tiga zona. Yakni barat, tengah dan timur. Masing-masing zona diwakili satu orang, Jadi kalau dihitung, jumlahnya harusnya hanya lima, jelasnya.

Namun faktanya, dalam Tatib yang disahkan justru menjadi tujuh orang. “Ditambah satu lagi dari pihak demisioner. Entah itu ketuanya, atau raisnya. Nah ini kan sudah tidak sesuai AD/ART,” ucapnya.

Tak hanya itu, pembahasan Tatib kuota forum (Kuorum) juga mengalami hasl sama. Ustad Khoiruddin menyayangkan adanya kesempatan bagi peserta untuk menunggu selama 15 menit jika kuorum tidak terpenuhi. Dan setelah masa penungguan itu, sidang boleh dilanjutkan. Meski kuorum tetap tidak mencapai 2/3.

Baca Juga :  Bupati Ipuk Ajak Pengurus Ansor Bersama-Sama Tangani Pandemi

“Padahal di AD/ART jelas bahwa jika tidak sampai kuorum, maka kegiatan tidak bisa dilaksanakan. Meskipun sudah menunggu 15 menit. Lah, kalau tidak mengikuti AD/ART akan mengikuti apa,” ucapnya.

Sementara, presidium sidang, Bashori Sonhaji membantah jika ada yang menilai hasil Tatib tidak sesuai AD/ART. “Hasil Tatib sama sekali tidak memabrak AD/ART. Termasuk dalam memasukkan ketua atau rais demisioner untuk menyusun kepengurusan baru,” ucapnya.

Sebab. Sebelumnya, kata Bashori Sonhaji, MWC NU juga melakukan hal sama. “18 MWC juga mengakomodir hal demikian. Kalau bicara konsistensi, kenapa mereka boleh,” ungkapnya. (zul)

RadarBanyuwangi.id – Pelaksanaan Konfercab NU Situbondo di Ponpes Wali Songo awalnya berjalan kondusif. Namun situasi menjadi panas ketika membahas terkiat kuroum dengan tim formatur.

Suasana di area Pondok Pesantren Wali Songo berbeda dari biasanya. Tampak sejumlah tokoh masayarakat, ustad dan kiai berkumpul di sana. Termasuk perwakilan dari sejumlah badan otonom (Banom) NU. Tujuan perkumpulan tersebut tak lain untuk mengikuti acara Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Situbondo.

Di awal-awal pembahasan tatib, keadaan forum cukup kondusif. Antara presidium sidang dan para peserta tampak harmonis.

Namun keadaan berbeda saat pembahasan masuk kepada kuota forum (Kuorum) dan tim formatur. Sejumlah peserta memberikan opsi. Beberapa dari mereka bahkan tampak tidak sepakat dengan isi dalam rancangan tatib yang dipegang masing-masing peserta.

Tak cukup disitu, suasana semakin memanas ketika salah satu tokoh dari Wilayah Timur, Ustad Khoiruddin Habziz melayangkan komentar. Dia meminta, agar Tatib yang disahkan disesuaikan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).

Baca Juga :  Bupati Ipuk Ajak Pengurus Ansor Bersama-Sama Tangani Pandemi

“Menurut saya, ada beberapa Tatib yang disahkan tidak sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Diantaranya point yang membahas mengenai tim formatur atau orang-orang yang berhak melakukan penyusunan pengurus baru. Benar-benar tidak selaras dengan AD/ART,” ungkapnya.

Mengapa demikian, sebab dalam AD/ART, pihak yang boleh melakukan penyusunan pengurus baru hanyalah perwakilan dari masing-masing, zona serta ketua tanfidziyah dan rais terpilih. “Kebetulan kita punya tiga zona. Yakni barat, tengah dan timur. Masing-masing zona diwakili satu orang, Jadi kalau dihitung, jumlahnya harusnya hanya lima, jelasnya.

Namun faktanya, dalam Tatib yang disahkan justru menjadi tujuh orang. “Ditambah satu lagi dari pihak demisioner. Entah itu ketuanya, atau raisnya. Nah ini kan sudah tidak sesuai AD/ART,” ucapnya.

Tak hanya itu, pembahasan Tatib kuota forum (Kuorum) juga mengalami hasl sama. Ustad Khoiruddin menyayangkan adanya kesempatan bagi peserta untuk menunggu selama 15 menit jika kuorum tidak terpenuhi. Dan setelah masa penungguan itu, sidang boleh dilanjutkan. Meski kuorum tetap tidak mencapai 2/3.

Baca Juga :  Banjir Rob Hantam Desa Pesisir Situbondo

“Padahal di AD/ART jelas bahwa jika tidak sampai kuorum, maka kegiatan tidak bisa dilaksanakan. Meskipun sudah menunggu 15 menit. Lah, kalau tidak mengikuti AD/ART akan mengikuti apa,” ucapnya.

Sementara, presidium sidang, Bashori Sonhaji membantah jika ada yang menilai hasil Tatib tidak sesuai AD/ART. “Hasil Tatib sama sekali tidak memabrak AD/ART. Termasuk dalam memasukkan ketua atau rais demisioner untuk menyusun kepengurusan baru,” ucapnya.

Sebab. Sebelumnya, kata Bashori Sonhaji, MWC NU juga melakukan hal sama. “18 MWC juga mengakomodir hal demikian. Kalau bicara konsistensi, kenapa mereka boleh,” ungkapnya. (zul)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/