alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Tempat Menginap di Makkah Persis di Depan Masjidilharam

Tepat pukul 01.00, rombongan jamaah umrah Panji Mas berhasil menyelesaikan rangkaian ibadah umrah. Perasaan lega dan wajah semringah tampak terpancar dari wajah para jamaah. Tujuan mereka ke Tanah Suci, sudah tertunaikan.

Berat rasanya meninggalkan Kota Madinah. Tak rela rasanya mau berpisah dengan Masjid Nabawi. Kami hanya bisa berharap, berdoa kepada Allah, semoga kami bisa ditakdirkan kembali ke Tanah Suci.

Jamaah Panji Mas memang sangat beruntung karena mendapatkan hotel tempat menginap yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari Masjid Nabawi, Hotel Salihiyah. Dengan begitu, jamaah bisa lebih berhemat tenaga untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi di tengah cuaca panas Kota Madinah yang sangat tidak bersahabat.

Panasnya Kota Madinah kadang sampai 41 derajat celsius. Kalau sudah ekstrem bisa 47 derajat celsius. Hariri, Salah satu mutawwif mengatakan, Madinah kalau sudah musim panas, sangat panas. Jika sudah musim dingin, sangat dingin, menusuk tulang sumsum. ”Cuaca Kota Madinah memang sangat ekstrem, tidak seperti di Makkah,” terangnya.

 Rombongan Panji Mas meninggalkan Kota Madinah sekitar pukul 01.00 menggunakan perjalanan darat dengan bus. Di perjalanan masih kami pandangi masjid nabi. Dari kejauhan kita tatap kubah warna hijau, tempat di mana Nabi Muhammad dimakamkan. Mutawwif Ahmad Yanto sempat memimpin pembacaan surat Al Fatihah sebelum meninggalkan Kota Madinah.

Bus terus melaju meninggalkan hotel tempat menginap. Menyusuri jalanan Kota Madinah yang panasnya minta ampun. Kami masih bisa menyaksikan perluasan Masjid Nabawi di sisi timur. Kalau kami datang lagi, entah kapan, kemungkinan besar kami akan dibuat terkagum- kagum.

Sangat asing bagi kami melihat pemandangan sepanjang perjalanan di Kota Madinah. Mulai bentuk rumah, kegersangan, mobil yang terkesan diparkir seenaknya, hingga tak dijumpainya motor di jalan raya. ”Orang di sini jarang beli sepeda motor, harga mobil murah. Ngapain juga beli motor, di sini panasnya minta ampun,” kata mutawwif itu,

Bus terus melaju semakin jauh meninggalkan Kota Madinah menuju Bir Ali, tempat mikat (mengambil niat), salah satu rukun umrah yang paling awal. Saya dibuat geleng-geleng melihat gersangnya jalan antara Madinah dan Makkah. Hampir tak ada pohon, kecuali gunung, bukit  yang penuh debu dan bebatuan berwarna hitam kecokelatan. Panas, sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang gunung dan bukitnya dipenuhi pohon dan tumbuhan hijau.

Melihat pemandangan yang begitu, saya kemudian teringat kepada Nabi Muhammad. Bagaimana beliau berjuang menyebarkan Islam. Kalau bukan manusia pilihan Allah, rasanya akan sulit untuk bisa bertahan apalagi sukses berdakwah. Membayangkan nabi naik unta hijrah ke Madinah dengan nyawa terancam dikejar-kejar kaum kafir quraisy.

Yang juga cukup menarik perhatian di sepanjang perjalanan adalah keberadaan alat berat di banyak tempat. Saya sempat menanyakan kepada mutawwif. ”Itu pengerjaan proyek pipanisasi untuk mengalirkan air zam-zam dari Makkah ke Madinah. Selama ini dari Makkah ke Madinah diangkut dengan truk tangki,” terang KH Harun Latif, pimpinan rombongan Panji Mas.

Sekitar pukul 16.00 Waktu Arab Saudi (WAS), rombongan umrah Panji Mas mampir di sebuah rest area bernama Sasco untuk melaksanakan salat Asar berjamaah. ”Perjalanan masih kurang sekitar 3 jam lagi ke Makkah,” kata KH Latif Harun usai melaksanakan salat Asar.

 Perjalanan dari Madinah ke Makkah membutuhkan waktu empat sampai lima jam. Tergantung kecepatan kendaraan. Pemerintah Arab Saudi saat ini menambah batas kecepatan kendaraan yang berjalan menuju Makkah. Sebelumnya bus hanya dibatasi 100 km/jam. Saat ini sudah boleh 120 km/jam. Kalau mobil sejenis sedan 140 km/jam. Dengan begitu, kendaraan bisa lebih cepat sampai ke Makkah. ”Pemerintah Saudi saat ini masih menyelesaikan pengerjaan rel kereta cepat dari Makkah ke Madinah. Jarak tempuhnya hanya sekitar 90 menit. Dulu sempat dikerjakan Tiongkok, tapi yang terbaru saya dengar kabar dihentikan. Tidak tahu siapa yang melanjutkan,” terang Kiai Latif Harun.

Hari sudah mulai agak gelap ketika bus yang membawa rombongan Panji Mas memasuki Kota Makkah. Mutawwif yang memandu perjalanan kembali menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan seputar informasi tempat-tempat yang dilewati dari Kota Makah. Sebelumnya, dia menyuruh para jamaah untuk beristirahat di dalam bus. Menabung tenaga untuk kepentingan umrah. ”Sekarang waktunya istirahat, nanti nyampai Makkah kemungkinan sudah Isya. Kita akan makan malam, setelah itu kita umrah,” kata Mutawwif Ahmad Yanto.

Bus terus melaju melewati jalanan beraspal Kota Makkah yang sudah menjadi Kota Megapolitan. Melewati makam salah satu istri nabi, Siti Maimunah, rombongan mengirimkan pembacaan surat Al Fatihah.

 Selama di Makkah kita menginap di Hotel Safwa Villa. Hotel bintang lima ini berada tepat di depan pintu utama Masjidilharam. Pas Berada di sebelah kanan tower Zam-Zam. Jamaah kembali dimanjakan dengan tempat yang sangat strategis. Kami tidak perlu capek-capek ke Masjidilharam jika akan melakukan salat, tawaf, atau baca Alquran. Begitu turun dari hotel, langsung pelataran Masjidilharam. Jadi ingat Masjid Nabawi, betapa jamaah yang hotelnya jauh, mereka memilih untuk berada di pelataran karena malas atau perhitungan dengan jarak yang begitu jauh.

 Usai makan malam, jamaah langsung melakukan umrah. Melakukan tawaf, berjalan dari Shafa ke Marwah, hingga tahallul. Pelaksanaan umrah baru selesai sekitar pukul 01.00.(bersambung)

Tepat pukul 01.00, rombongan jamaah umrah Panji Mas berhasil menyelesaikan rangkaian ibadah umrah. Perasaan lega dan wajah semringah tampak terpancar dari wajah para jamaah. Tujuan mereka ke Tanah Suci, sudah tertunaikan.

Berat rasanya meninggalkan Kota Madinah. Tak rela rasanya mau berpisah dengan Masjid Nabawi. Kami hanya bisa berharap, berdoa kepada Allah, semoga kami bisa ditakdirkan kembali ke Tanah Suci.

Jamaah Panji Mas memang sangat beruntung karena mendapatkan hotel tempat menginap yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari Masjid Nabawi, Hotel Salihiyah. Dengan begitu, jamaah bisa lebih berhemat tenaga untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi di tengah cuaca panas Kota Madinah yang sangat tidak bersahabat.

Panasnya Kota Madinah kadang sampai 41 derajat celsius. Kalau sudah ekstrem bisa 47 derajat celsius. Hariri, Salah satu mutawwif mengatakan, Madinah kalau sudah musim panas, sangat panas. Jika sudah musim dingin, sangat dingin, menusuk tulang sumsum. ”Cuaca Kota Madinah memang sangat ekstrem, tidak seperti di Makkah,” terangnya.

 Rombongan Panji Mas meninggalkan Kota Madinah sekitar pukul 01.00 menggunakan perjalanan darat dengan bus. Di perjalanan masih kami pandangi masjid nabi. Dari kejauhan kita tatap kubah warna hijau, tempat di mana Nabi Muhammad dimakamkan. Mutawwif Ahmad Yanto sempat memimpin pembacaan surat Al Fatihah sebelum meninggalkan Kota Madinah.

Bus terus melaju meninggalkan hotel tempat menginap. Menyusuri jalanan Kota Madinah yang panasnya minta ampun. Kami masih bisa menyaksikan perluasan Masjid Nabawi di sisi timur. Kalau kami datang lagi, entah kapan, kemungkinan besar kami akan dibuat terkagum- kagum.

Sangat asing bagi kami melihat pemandangan sepanjang perjalanan di Kota Madinah. Mulai bentuk rumah, kegersangan, mobil yang terkesan diparkir seenaknya, hingga tak dijumpainya motor di jalan raya. ”Orang di sini jarang beli sepeda motor, harga mobil murah. Ngapain juga beli motor, di sini panasnya minta ampun,” kata mutawwif itu,

Bus terus melaju semakin jauh meninggalkan Kota Madinah menuju Bir Ali, tempat mikat (mengambil niat), salah satu rukun umrah yang paling awal. Saya dibuat geleng-geleng melihat gersangnya jalan antara Madinah dan Makkah. Hampir tak ada pohon, kecuali gunung, bukit  yang penuh debu dan bebatuan berwarna hitam kecokelatan. Panas, sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang gunung dan bukitnya dipenuhi pohon dan tumbuhan hijau.

Melihat pemandangan yang begitu, saya kemudian teringat kepada Nabi Muhammad. Bagaimana beliau berjuang menyebarkan Islam. Kalau bukan manusia pilihan Allah, rasanya akan sulit untuk bisa bertahan apalagi sukses berdakwah. Membayangkan nabi naik unta hijrah ke Madinah dengan nyawa terancam dikejar-kejar kaum kafir quraisy.

Yang juga cukup menarik perhatian di sepanjang perjalanan adalah keberadaan alat berat di banyak tempat. Saya sempat menanyakan kepada mutawwif. ”Itu pengerjaan proyek pipanisasi untuk mengalirkan air zam-zam dari Makkah ke Madinah. Selama ini dari Makkah ke Madinah diangkut dengan truk tangki,” terang KH Harun Latif, pimpinan rombongan Panji Mas.

Sekitar pukul 16.00 Waktu Arab Saudi (WAS), rombongan umrah Panji Mas mampir di sebuah rest area bernama Sasco untuk melaksanakan salat Asar berjamaah. ”Perjalanan masih kurang sekitar 3 jam lagi ke Makkah,” kata KH Latif Harun usai melaksanakan salat Asar.

 Perjalanan dari Madinah ke Makkah membutuhkan waktu empat sampai lima jam. Tergantung kecepatan kendaraan. Pemerintah Arab Saudi saat ini menambah batas kecepatan kendaraan yang berjalan menuju Makkah. Sebelumnya bus hanya dibatasi 100 km/jam. Saat ini sudah boleh 120 km/jam. Kalau mobil sejenis sedan 140 km/jam. Dengan begitu, kendaraan bisa lebih cepat sampai ke Makkah. ”Pemerintah Saudi saat ini masih menyelesaikan pengerjaan rel kereta cepat dari Makkah ke Madinah. Jarak tempuhnya hanya sekitar 90 menit. Dulu sempat dikerjakan Tiongkok, tapi yang terbaru saya dengar kabar dihentikan. Tidak tahu siapa yang melanjutkan,” terang Kiai Latif Harun.

Hari sudah mulai agak gelap ketika bus yang membawa rombongan Panji Mas memasuki Kota Makkah. Mutawwif yang memandu perjalanan kembali menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan seputar informasi tempat-tempat yang dilewati dari Kota Makah. Sebelumnya, dia menyuruh para jamaah untuk beristirahat di dalam bus. Menabung tenaga untuk kepentingan umrah. ”Sekarang waktunya istirahat, nanti nyampai Makkah kemungkinan sudah Isya. Kita akan makan malam, setelah itu kita umrah,” kata Mutawwif Ahmad Yanto.

Bus terus melaju melewati jalanan beraspal Kota Makkah yang sudah menjadi Kota Megapolitan. Melewati makam salah satu istri nabi, Siti Maimunah, rombongan mengirimkan pembacaan surat Al Fatihah.

 Selama di Makkah kita menginap di Hotel Safwa Villa. Hotel bintang lima ini berada tepat di depan pintu utama Masjidilharam. Pas Berada di sebelah kanan tower Zam-Zam. Jamaah kembali dimanjakan dengan tempat yang sangat strategis. Kami tidak perlu capek-capek ke Masjidilharam jika akan melakukan salat, tawaf, atau baca Alquran. Begitu turun dari hotel, langsung pelataran Masjidilharam. Jadi ingat Masjid Nabawi, betapa jamaah yang hotelnya jauh, mereka memilih untuk berada di pelataran karena malas atau perhitungan dengan jarak yang begitu jauh.

 Usai makan malam, jamaah langsung melakukan umrah. Melakukan tawaf, berjalan dari Shafa ke Marwah, hingga tahallul. Pelaksanaan umrah baru selesai sekitar pukul 01.00.(bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/