alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Lingkungan dan Medsos Diklaim Jadi Alasan Menikah di Usia Dini

SITUBONDO – Lingkungan pergaulan dan media sosial dinilai ikut andil dalam menyumbang angka masih tingginya angka pernikahaan usia anak di Kabupaten Situbondo. Sebab, dua faktor itu bisa menyebabkan remaja yang belum sampai umur usia perkawinan, dinikahkan karena keterpaksaan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Syamsi Ika Sari menerangkan, pengawasan orang tua, sekolah, juga masyarakat sangat diperlukan untuk mengantisipasi hak-hal yang tidak diinginkan yang kemudian memaksa seseorang harus menikah di usia anak. “Misalnya hamil di luar nikah, padahal usianya kadang masih SMP atau SMA. Kalau sudah begini mau tidak mau ya memang harus dinikahkan. Mau bagaimana lagi?,” terangnya kepada koran ini, kemarin (04/10).

Wakil rakyat asal Kecamatan Sumbermalang ini menyampaikan, banyak kejadian miris yang ditemuinya di masyarakat terkait dengan pernikahan usia anak. “Soalnya di Kabupaten kita ini masih tergolong tinggi. Apalagi di Kecamatan Sumbermalang. Di Desa Sumberargo atau Alas Tengah, misalnya. Pernah ada kasus, umur 14 tahun sudah melahirkan,” terang Syamsi melalui layanan telepon seluler.

Kata perempuan berjilbab tersebut, penyebab pernikahan usia anak cukup kompleks. Selain karena lingkungan pergaulan dan media sosial, SDM orang tua juga menjadi penyebabnya. Sebab, masih ada orang tua yang beranggapan bahwa anaknya menikah di usia yang sangat muda, itu bukan masalah. “Ditambah lagi kasus ‘kecelakaan’ hamil di luar nikah.  Tambah rumit masalahnya,” imbuhnya. 

Sebab itulah, lanjut  Syamsi, pihaknya sudah meminta kepada Pemkab untuk memberikan stresing yang lebih kuat dan ketat. Misalnya dengan memberikan penyuluhan /pelatihan terhadap desa atau remaja. Atau bisa juga menerbitkan perda khusus. Dia optimistis jika semua pihak terkait bersinergi, maka upaya menekan angka pernikahan usia anak akan berhasil.

“Saya melihat sinergi dan penekanannya kurang selama ini. Pemerintah daerah juga harus memiliki kerangka pemetaan di titik zona merah terhadap kasus pernikahan usia anak ini. Tujuannnya, agar ada titik fokus dalam penanganan masalahnya,” terangnya.

Disebutkan, pernikahan usia anak memberikan dampak negatif. Salah satunya menjadi pemicu kelahiran anak stunting. Sebab, usia orang tua bisa memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan bayi yang ada dalam kandungan. “Kalau masih usia anak-anak, kan belum waktunya ‘berbuah’. organ reproduksi belum matang,” jelas politisi Partai Gerindra tersebut. (jon/pri)

SITUBONDO – Lingkungan pergaulan dan media sosial dinilai ikut andil dalam menyumbang angka masih tingginya angka pernikahaan usia anak di Kabupaten Situbondo. Sebab, dua faktor itu bisa menyebabkan remaja yang belum sampai umur usia perkawinan, dinikahkan karena keterpaksaan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Syamsi Ika Sari menerangkan, pengawasan orang tua, sekolah, juga masyarakat sangat diperlukan untuk mengantisipasi hak-hal yang tidak diinginkan yang kemudian memaksa seseorang harus menikah di usia anak. “Misalnya hamil di luar nikah, padahal usianya kadang masih SMP atau SMA. Kalau sudah begini mau tidak mau ya memang harus dinikahkan. Mau bagaimana lagi?,” terangnya kepada koran ini, kemarin (04/10).

Wakil rakyat asal Kecamatan Sumbermalang ini menyampaikan, banyak kejadian miris yang ditemuinya di masyarakat terkait dengan pernikahan usia anak. “Soalnya di Kabupaten kita ini masih tergolong tinggi. Apalagi di Kecamatan Sumbermalang. Di Desa Sumberargo atau Alas Tengah, misalnya. Pernah ada kasus, umur 14 tahun sudah melahirkan,” terang Syamsi melalui layanan telepon seluler.

Kata perempuan berjilbab tersebut, penyebab pernikahan usia anak cukup kompleks. Selain karena lingkungan pergaulan dan media sosial, SDM orang tua juga menjadi penyebabnya. Sebab, masih ada orang tua yang beranggapan bahwa anaknya menikah di usia yang sangat muda, itu bukan masalah. “Ditambah lagi kasus ‘kecelakaan’ hamil di luar nikah.  Tambah rumit masalahnya,” imbuhnya. 

Sebab itulah, lanjut  Syamsi, pihaknya sudah meminta kepada Pemkab untuk memberikan stresing yang lebih kuat dan ketat. Misalnya dengan memberikan penyuluhan /pelatihan terhadap desa atau remaja. Atau bisa juga menerbitkan perda khusus. Dia optimistis jika semua pihak terkait bersinergi, maka upaya menekan angka pernikahan usia anak akan berhasil.

“Saya melihat sinergi dan penekanannya kurang selama ini. Pemerintah daerah juga harus memiliki kerangka pemetaan di titik zona merah terhadap kasus pernikahan usia anak ini. Tujuannnya, agar ada titik fokus dalam penanganan masalahnya,” terangnya.

Disebutkan, pernikahan usia anak memberikan dampak negatif. Salah satunya menjadi pemicu kelahiran anak stunting. Sebab, usia orang tua bisa memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan bayi yang ada dalam kandungan. “Kalau masih usia anak-anak, kan belum waktunya ‘berbuah’. organ reproduksi belum matang,” jelas politisi Partai Gerindra tersebut. (jon/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Parkir Berlangganan Naik Bulan Depan

Penipuan Online Jaringan Nasional Diadili

SD Mutu Borong Juara Panahan

Solusi Terbaik Perjalanan Umrah Anda

Artikel Terbaru

/