alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Diserang Hama Wereng, Petani Padi Rugi Puluhan Juta Rupiah

ARJASA –  Tanaman padi milik seorang warga Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, Situbondo, diserang hama jenis werang. Tidak tanggung-tanggung, luas lahan padi yang gagal dipanen kurang lebih dua hektare. Akibatnya kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Padi yang tidak berbuah tersebut dijual dengan harga yang sangat murah untuk jadi pakan ternak.

Badrus Syamsi warga Desa Curahtatal mengatakan, kerugian yang dialami pemilik padi tersebut cukup besar. Sebab, padi yang sudah sampai waktunya dipanen itu, tidak berisi sama sekali. “Bijinya itu berubah hitam, dan isinya atau berasnya tidak ada sama sekali,” kata Badrus kepada RadarBanyuwangi.id, Selasa (2/3).

Menurutnya, padi yang mengalami kerusakan tersebut hanya milik satu orang. Sedangkan padi yang lain tumbuh subur, dan normal. Kemungkinan, ada kesalahan dalam pemupukan atau pengairannya. Sehingga mengakibatakan padi yang begitu luas mengalami kerusakan. “yang rusak cuma milik H. Safii, yang lainnya normal semua,” imbuh Badrus.

Kata dia, karena sudah diserang hama, Syafii memilih menjual padinya dengan harga sangat murah. Dengan luas dua hektare, hanya dihargai kurang lebih Rp 4 juta. Padahal, biasanya bisa untung Rp 30 juta lebih. “Yang satu hektare, saya beli Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk yang saat sekarang ini, pemilikinya menjual dengan harga Rp 3 juta,” terang Badrus.

Menurut Badrus dari saking banyaknya padi yang didapat, membutuhkan waktu tiga hingga empat hari untuk menghabiskan padi tersebut saat dijual kembali. Dia menjual padi tersebut Rp 10 ribu dalam satu tali. “Bagi saya lumayan menghasilkan, mau berharap ada padi yang rusak lagi, kasihan sama pemiliknya juga,” pungkas Badrus sambil tertawa. (hum/pri)

ARJASA –  Tanaman padi milik seorang warga Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, Situbondo, diserang hama jenis werang. Tidak tanggung-tanggung, luas lahan padi yang gagal dipanen kurang lebih dua hektare. Akibatnya kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Padi yang tidak berbuah tersebut dijual dengan harga yang sangat murah untuk jadi pakan ternak.

Badrus Syamsi warga Desa Curahtatal mengatakan, kerugian yang dialami pemilik padi tersebut cukup besar. Sebab, padi yang sudah sampai waktunya dipanen itu, tidak berisi sama sekali. “Bijinya itu berubah hitam, dan isinya atau berasnya tidak ada sama sekali,” kata Badrus kepada RadarBanyuwangi.id, Selasa (2/3).

Menurutnya, padi yang mengalami kerusakan tersebut hanya milik satu orang. Sedangkan padi yang lain tumbuh subur, dan normal. Kemungkinan, ada kesalahan dalam pemupukan atau pengairannya. Sehingga mengakibatakan padi yang begitu luas mengalami kerusakan. “yang rusak cuma milik H. Safii, yang lainnya normal semua,” imbuh Badrus.

Kata dia, karena sudah diserang hama, Syafii memilih menjual padinya dengan harga sangat murah. Dengan luas dua hektare, hanya dihargai kurang lebih Rp 4 juta. Padahal, biasanya bisa untung Rp 30 juta lebih. “Yang satu hektare, saya beli Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk yang saat sekarang ini, pemilikinya menjual dengan harga Rp 3 juta,” terang Badrus.

Menurut Badrus dari saking banyaknya padi yang didapat, membutuhkan waktu tiga hingga empat hari untuk menghabiskan padi tersebut saat dijual kembali. Dia menjual padi tersebut Rp 10 ribu dalam satu tali. “Bagi saya lumayan menghasilkan, mau berharap ada padi yang rusak lagi, kasihan sama pemiliknya juga,” pungkas Badrus sambil tertawa. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/