alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Dampak PMK, Warga Masih Khawatir Sembelih Hewan Kurban

PANARUKAN, Jawa Pos Radar Situbondo – Warga khawatir melakukan kurban saat pelaksanaan Idul Adha mendatang. Itu  disebabkan adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang diduga membahayakan.

Salah satu warga  Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Rudiantoro mengatakan, pelaksanaan kurban menjadi kekhawatiran sendiri. Dampak munculnya penyakit PMK, warga menjadi takut untuk menyembelih hewan ternak. “Sebagian besar khawatir mau berkurban. Karena tidak tahu secara benar, apakah nantinya hewan yang dikurbankan sehat atau terpapar PMK?,” ujar Rudiantoro, Jumat (1/7).

Rudi mengatakan,  sebagai warga desa, munculnya penyakit pada hewan ternak menjadi ketakutan tersendiri. Sebab, ada yang mengatakan berdampak pada kesehatan manusia. “Namanya penyakit, kami yang jelas takut tertular,” ungkapnya.

Baca Juga :  PMK Menggila, Harga Daging Sapi Ternyata Masih Stabil

Lebih lanjut, Rudi menuturkan, meski pemerintah mengimbau untuk penyembelihan hewan kurban dengan proses yang benar, namun itu tetap tidak menenangkan masyarakat. Sebab, mereka tetap takut terhadap serangan penyakit PMK. “Antara warga yang mau berkurban dan warga yang mendapatkan daging kurban masih sama-sama khawatir. Alasannya masih takut,” jelasnya.

Pria dua anak itu mengatakan, pelaksanaan kurban di hari raya idul adha pihaknya memutuskan untuk berhenti sementara melakukan kurban. Biasanya kurban hewan tersebut dilakukan di mushola dengan melibatkan warga sekitar. “secara pribadi memilih untuk tidak berkurban. Karena kondisinya saat ini masih ada wabah PMK,” imbuhnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), Kholil mengatakan, kegiatan kurban hewan ternak masih bisa dilaksanakan. Yang terpenting, prosesnya benar. Misalnya, bagian kepala dan kaki sapi maupun domba tidak ikut dimasak. Begitu juga dengan bagian organ dalamnya. “Bagian-bagian itu harus dipisahkan dan dikubur,” ucapnya.

Baca Juga :  Investasi Asing Rp 90 Triliun Terancam Raib

Kholil mengatakan, daging hewan harus dimasak secara benar. Suhu panas di atas 30 derajat, dengan waktu memasak sekitar 30 menit. Sehingga dagingnya aman dikonsumsi. “Daging hewan itu sebetulnya masih aman untuk dikonsumsi,” pungkasnya. (wan/pri)

PANARUKAN, Jawa Pos Radar Situbondo – Warga khawatir melakukan kurban saat pelaksanaan Idul Adha mendatang. Itu  disebabkan adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang diduga membahayakan.

Salah satu warga  Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Rudiantoro mengatakan, pelaksanaan kurban menjadi kekhawatiran sendiri. Dampak munculnya penyakit PMK, warga menjadi takut untuk menyembelih hewan ternak. “Sebagian besar khawatir mau berkurban. Karena tidak tahu secara benar, apakah nantinya hewan yang dikurbankan sehat atau terpapar PMK?,” ujar Rudiantoro, Jumat (1/7).

Rudi mengatakan,  sebagai warga desa, munculnya penyakit pada hewan ternak menjadi ketakutan tersendiri. Sebab, ada yang mengatakan berdampak pada kesehatan manusia. “Namanya penyakit, kami yang jelas takut tertular,” ungkapnya.

Baca Juga :  PMK Menggila, Harga Daging Sapi Ternyata Masih Stabil

Lebih lanjut, Rudi menuturkan, meski pemerintah mengimbau untuk penyembelihan hewan kurban dengan proses yang benar, namun itu tetap tidak menenangkan masyarakat. Sebab, mereka tetap takut terhadap serangan penyakit PMK. “Antara warga yang mau berkurban dan warga yang mendapatkan daging kurban masih sama-sama khawatir. Alasannya masih takut,” jelasnya.

Pria dua anak itu mengatakan, pelaksanaan kurban di hari raya idul adha pihaknya memutuskan untuk berhenti sementara melakukan kurban. Biasanya kurban hewan tersebut dilakukan di mushola dengan melibatkan warga sekitar. “secara pribadi memilih untuk tidak berkurban. Karena kondisinya saat ini masih ada wabah PMK,” imbuhnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), Kholil mengatakan, kegiatan kurban hewan ternak masih bisa dilaksanakan. Yang terpenting, prosesnya benar. Misalnya, bagian kepala dan kaki sapi maupun domba tidak ikut dimasak. Begitu juga dengan bagian organ dalamnya. “Bagian-bagian itu harus dipisahkan dan dikubur,” ucapnya.

Baca Juga :  Belasan Kambing di Segobang Mendadak Mati, Diduga Terpapar Wabah PMK

Kholil mengatakan, daging hewan harus dimasak secara benar. Suhu panas di atas 30 derajat, dengan waktu memasak sekitar 30 menit. Sehingga dagingnya aman dikonsumsi. “Daging hewan itu sebetulnya masih aman untuk dikonsumsi,” pungkasnya. (wan/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/