alexametrics
23.7 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Sebelum di Stasiun Kereta Api, Pernah Tinggal di Kandang Sapi

RadarBanyuwangi.id – Margono hidup dalam kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia menjadi pembantu di sebuah kafe. Tugasnya mencuci piring dan memasak.

Seorang pria tua yang mengenakan celana pendek cukup lama di dalam area makam pahlawan, kemarin (30/06). Dia tampak membersihkan salah satu pusara. Tanpa disadari, air matanya menetes keluar.

Itu merupakan pusara ayahnya. Pria itu memang sering ke tempat pemakaman orang tuanya. Dia kadang menyampaikan keluh kesahnya di kuburan tersebut. Pernah pada suatu malam, dia menangis, dan menyampaikan betapa pahit hidupnya.   

Pria tua itu bernama Margono. Kini, usianya sudah 71 tahun. Margono memang hidup dalam kondisi perekonomian kurang menguntungkan. Dia tinggal di salah satu ruangan kecil di bekas stasiun kereta api Desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan.

Baca Juga :  Kisah Pemecah Batu, Dapat Uang Rp 200 Ribu Harus Menunggu Belasan Hari

Margono, malam itu menangis sesunggukan di makam bapaknya karena merasa tidak pantas hidup dengan kondisi kekurangan ekonomi seperti sekarang. Baginya, sebagai putra salah satu pejuang, seharusnya hidupnya lebih layak.

Bapaknya bernama Kapten Petrus. Margono mencertikan, orang tuanya itu pernah ikut berjuang dalam penumpasan PKI. Semasa hidupnya, beberapa jabatan strategis pernah dijabat orang tuanya di Polres Situbondo. “Bapak saya pahlawan, semua mengakui. Masa hidupnya dinas di kepolisian,” kata Margono kepada RadarBanyuwangi.id.

Margono berpendapat, jasa bapaknya dalam membela kemerdekaan tidak kecil. Tetapi sebagai anak seorang pejuang, pria kelahiran Mojokerto ini malah jarang mendapatkan bantuan. “Pernah dua kali nangis malam-malam di sini (makam pahlawan),” imbuhnya.

Sebelum tinggal di stasiun kereta api, Margono juga pernah tinggal di kandang sapi. Dia memilih tidur di sana karena tidak bisa membayar rumah kontrakannya. “Untung ada yang nyuruh tinggal di stasiun. Ya, sampai sekarang di sana,” ujarnya.

Baca Juga :  Kisah Ibu di Situbondo dengan 21 Orang Anak, Semua Dilahirkan Normal

Margono memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Dia bekerja sebagai pembantu di sebuah kafe di Desa Sumberkolak. Tugasnya, mencuci piring dan kadang memasak. “Sehari dapat upah Rp 20 ribu sama satu nasi bungkus. Kalau nggak masuk, nggak dibayar,” ujarnya.

Rahadi Purwanto, salah satu warga Desa Sumberkolak kepada RadarBanyuwangi.id mengatakan, kondisi perekonomian Margono cukup memprihatinkan. Tetapi, dia mengapresiasi semangatnya dalam bekerja. “Kalau mandi di sini, karena di stasiun itukan tidak ada air. Saya bantu dengan air saja karena hanya itu yang bisa saya berikan,” ujarnya. (bib)

RadarBanyuwangi.id – Margono hidup dalam kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia menjadi pembantu di sebuah kafe. Tugasnya mencuci piring dan memasak.

Seorang pria tua yang mengenakan celana pendek cukup lama di dalam area makam pahlawan, kemarin (30/06). Dia tampak membersihkan salah satu pusara. Tanpa disadari, air matanya menetes keluar.

Itu merupakan pusara ayahnya. Pria itu memang sering ke tempat pemakaman orang tuanya. Dia kadang menyampaikan keluh kesahnya di kuburan tersebut. Pernah pada suatu malam, dia menangis, dan menyampaikan betapa pahit hidupnya.   

Pria tua itu bernama Margono. Kini, usianya sudah 71 tahun. Margono memang hidup dalam kondisi perekonomian kurang menguntungkan. Dia tinggal di salah satu ruangan kecil di bekas stasiun kereta api Desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan.

Baca Juga :  Sopir Ngantuk, Pikap Muatan Pisang Masuk Sungai

Margono, malam itu menangis sesunggukan di makam bapaknya karena merasa tidak pantas hidup dengan kondisi kekurangan ekonomi seperti sekarang. Baginya, sebagai putra salah satu pejuang, seharusnya hidupnya lebih layak.

Bapaknya bernama Kapten Petrus. Margono mencertikan, orang tuanya itu pernah ikut berjuang dalam penumpasan PKI. Semasa hidupnya, beberapa jabatan strategis pernah dijabat orang tuanya di Polres Situbondo. “Bapak saya pahlawan, semua mengakui. Masa hidupnya dinas di kepolisian,” kata Margono kepada RadarBanyuwangi.id.

Margono berpendapat, jasa bapaknya dalam membela kemerdekaan tidak kecil. Tetapi sebagai anak seorang pejuang, pria kelahiran Mojokerto ini malah jarang mendapatkan bantuan. “Pernah dua kali nangis malam-malam di sini (makam pahlawan),” imbuhnya.

Sebelum tinggal di stasiun kereta api, Margono juga pernah tinggal di kandang sapi. Dia memilih tidur di sana karena tidak bisa membayar rumah kontrakannya. “Untung ada yang nyuruh tinggal di stasiun. Ya, sampai sekarang di sana,” ujarnya.

Baca Juga :  Karyawan Tambak Ditemukan Meninggal Dalam Kamar

Margono memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Dia bekerja sebagai pembantu di sebuah kafe di Desa Sumberkolak. Tugasnya, mencuci piring dan kadang memasak. “Sehari dapat upah Rp 20 ribu sama satu nasi bungkus. Kalau nggak masuk, nggak dibayar,” ujarnya.

Rahadi Purwanto, salah satu warga Desa Sumberkolak kepada RadarBanyuwangi.id mengatakan, kondisi perekonomian Margono cukup memprihatinkan. Tetapi, dia mengapresiasi semangatnya dalam bekerja. “Kalau mandi di sini, karena di stasiun itukan tidak ada air. Saya bantu dengan air saja karena hanya itu yang bisa saya berikan,” ujarnya. (bib)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/