alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Rayakan Isra Mikraj, Warga Semiring Larung Sesaji ke Laut

MANGARAN – Puluhan warga Desa Semiring, Kecamatan Mangaran, Situbondo, menggelar ritual larung sesaji, Selasa (1/3). Itu dilakukan untuk membuang balak dan mendatangkan rezeki.

Sejumlah warga mengakui ritual tersebut merupakan tradisi nenek moyang yang terus menerus harus dilestarikan. Ini sekaligus untuk merayakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad.

Muhammad Basori, penanggung jawab kegiatan mengatakan, acara yang digelar merupakan tradisi tahunan. Dilakukan sebelum masuk Bulan Ramadan. Acara tersebut di kalangan warga lebih dikenal dengan acara Pettolekoran atau Isra mikraj.

“Ini sudah biasa dilakukan setiap tahun. Acara ini dikenal selamatan pettolekoran. Hanya saja acara ini dikemas sederhana, karena mengukuti kebijakan pemerintah untuk tidak berkerumun, biasanya ini ramai, dan diikuti banyak warga ,” kata pria 57 tahun itu.

Menurutnya, dalam kegiatan itu, warga setempat menyiapkan beberapa ragam makanan, seperti kue, nasi, ayam yang masih hidup dan kepala kambing. Semuanya dikumpulkan dan dijadikan satu dalam satu perahu yang terbuat dari pohon pisang.

“Sesajen yang dikumpulkan itu, kita hanyutkan ke laut. Tujuannya untuk membuang balak dan berharap mendatangkan rejeki,” imbuh Basori.

Dia menjelaskan, dalam kegiatan itu tidak ada unsur kemusyrikan. Sebab, setiap makanan yang hanyutkan itu, bukan dibuang  percuma. Tetapi, setiap makan yang sudah dihanyutkan tersebut diambil oleh para nelayan. Nelayan pasti rebutan mengambil sesajen tersebut.

“Makanan itu, tidak dibuang percuma, banyak nelayan dan warga yang merebut makanannya. Konon, siapa saja yang berhasil mengambil makan yang dihanyutkan, dipercaya akan dijauhkan dari marabahaya,” jelas Basori.

Tidak hanya itu, kegiatan yang hampir sama dengan acara petik laut tersebut, juga dihiasi dengan ritual berjalan kaki dari petilasan Mbah Niman Nimun sekitar tiga kilometer ke Pantai pelabuhan. Sesampainya di sana, perahu buatan itu dipindahkan ke perahu gardan. Sesaji kemudian dilarung ke tengah laut untuk dilepaskan. Jaraknya sekitar satu kilometer ke tengah laut.

“Setelah larung itu dilepas, nelayan baru berebutan. Sebagian ada yang mengambil air di dekat sesaji tersebut yang dipercaya akan membawa keselamatan,” pungkas Basori. (hum/pri)

MANGARAN – Puluhan warga Desa Semiring, Kecamatan Mangaran, Situbondo, menggelar ritual larung sesaji, Selasa (1/3). Itu dilakukan untuk membuang balak dan mendatangkan rezeki.

Sejumlah warga mengakui ritual tersebut merupakan tradisi nenek moyang yang terus menerus harus dilestarikan. Ini sekaligus untuk merayakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad.

Muhammad Basori, penanggung jawab kegiatan mengatakan, acara yang digelar merupakan tradisi tahunan. Dilakukan sebelum masuk Bulan Ramadan. Acara tersebut di kalangan warga lebih dikenal dengan acara Pettolekoran atau Isra mikraj.

“Ini sudah biasa dilakukan setiap tahun. Acara ini dikenal selamatan pettolekoran. Hanya saja acara ini dikemas sederhana, karena mengukuti kebijakan pemerintah untuk tidak berkerumun, biasanya ini ramai, dan diikuti banyak warga ,” kata pria 57 tahun itu.

Menurutnya, dalam kegiatan itu, warga setempat menyiapkan beberapa ragam makanan, seperti kue, nasi, ayam yang masih hidup dan kepala kambing. Semuanya dikumpulkan dan dijadikan satu dalam satu perahu yang terbuat dari pohon pisang.

“Sesajen yang dikumpulkan itu, kita hanyutkan ke laut. Tujuannya untuk membuang balak dan berharap mendatangkan rejeki,” imbuh Basori.

Dia menjelaskan, dalam kegiatan itu tidak ada unsur kemusyrikan. Sebab, setiap makanan yang hanyutkan itu, bukan dibuang  percuma. Tetapi, setiap makan yang sudah dihanyutkan tersebut diambil oleh para nelayan. Nelayan pasti rebutan mengambil sesajen tersebut.

“Makanan itu, tidak dibuang percuma, banyak nelayan dan warga yang merebut makanannya. Konon, siapa saja yang berhasil mengambil makan yang dihanyutkan, dipercaya akan dijauhkan dari marabahaya,” jelas Basori.

Tidak hanya itu, kegiatan yang hampir sama dengan acara petik laut tersebut, juga dihiasi dengan ritual berjalan kaki dari petilasan Mbah Niman Nimun sekitar tiga kilometer ke Pantai pelabuhan. Sesampainya di sana, perahu buatan itu dipindahkan ke perahu gardan. Sesaji kemudian dilarung ke tengah laut untuk dilepaskan. Jaraknya sekitar satu kilometer ke tengah laut.

“Setelah larung itu dilepas, nelayan baru berebutan. Sebagian ada yang mengambil air di dekat sesaji tersebut yang dipercaya akan membawa keselamatan,” pungkas Basori. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/