alexametrics
24 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Walau Penumpang Sepi, Tetap Berangkat Pagi, Pulang Setelah Isyak

Meski penghasilannya sebagai kernet mobil penumpang umum (MPU), minim, namun Hariyono mampu menghidupi keluarganya. Setiap hari dia membawa pulang Rp. 30 ribu.

 

IZZUL MUTTAQIN, Asembagus

 

Memasuki gang sempit di Kampung Utara, Desa Perante, Kecamatan Asembagus, berdiri sebuah rumah kayu yang begitu sederhana. Di situlah Hariyono bersama keluarganya hidup. Dengan hanya bermodalkan menjadi seorang kernet MPU, Hariyono dapat menghidupi istri dan kedua anaknya.

“Saya merupakan orang yang tidak mampu. Tapi saya punya kemauan yang kuat untuk memberikan yang terbaik kepda keluarga. Berapapun rezeki yang saya dapat, itu semua dari Allah,” ungkap Hariyono saat diwawancarai di rumahnya kemarin (26/01).

Kepada koran ini, Hariyono mengaku penghasilannya sangat minim dari menjadi kernet. “Biasanya perhari hasil saya Cuma Rp. 30.000. Kadang juga tidak sampai.” Keluhnya.

Baca Juga :  Sapi Terpapar PMK, Gunakan Obat Penurun Panas

Akan tetapi Hariyonio mengaku tidak patah arang. Menurutnya hidup terus menuntutnya untuk bekerja. “Saya menjadi kernet sejak tahun 1980. Hingga saat ini sudah sekitar 38 tahun. Saya percaya, semua itu sudah takdir. Dan itu yang Allah gariskan untuk saya. Kadang memang tidak cukup. Ketika tidak cukup itu saya meminjam kepada tetangga yang mau membantu saya. Seperti dua hari yang lalu, listrik sampek mati karena telat bayar. Sampek minjam ke Asembagus kepada teman. Untung dia mau membantu,” tuturnya.

Menurut Hariyono, menjadi seorang kernet tidaklah mudah. Dirinya harus mampu bersabar dengan setiap masalah yang menghampiri. Sedangkan untuk melakukan pekerjaan lain, dirinya mengaku tak ada lowongan. “Cari kerja sekarangb susah. Jadi saya tetep jadi kernet aja. Adakalanya sulit sekali cari penumpang. Kadang-kadang harus ngemis-ngemis untuk penumpang agar mau. Kadang juga rebutan penumpang sama kernet lain. Sebenarnya saya ingin jadi sopir, tapi gak boleh sama isteri. Karena banyak kejadian orang kecelakaan,” terangnya.

Baca Juga :  Kabel di Jembatan Paraaman Rendah, Bina Marga Surati PLN

Setiap hari Hriyono berangkat sekitar pukul setengah enam pagi. Dan baru pulang setelah sholat isyak. “Kadang disela jadi kernet, saya juga jadi kuli bangunan. Yang selalu menemani saya hanya sepda engkol. Karena saya tidak punya sepeda motor. Engkol ini teman yang setia buat saya. Saya masuk setiap hari, hanya jika sakit saja saya libur.” imbuhnya.

Akan tetapi, meskipun keadaanya sangat menghimpit, Hariyono mengaku masih belum mendapat bantuan apapun dari pemerintah. “Hingga saat ini belum ada bantuan apapun. Saya Cuma menunggu dan menunggu. Semoga ada bantuan yang sampai kepada saya,” harapnya. (*)

 

Meski penghasilannya sebagai kernet mobil penumpang umum (MPU), minim, namun Hariyono mampu menghidupi keluarganya. Setiap hari dia membawa pulang Rp. 30 ribu.

 

IZZUL MUTTAQIN, Asembagus

 

Memasuki gang sempit di Kampung Utara, Desa Perante, Kecamatan Asembagus, berdiri sebuah rumah kayu yang begitu sederhana. Di situlah Hariyono bersama keluarganya hidup. Dengan hanya bermodalkan menjadi seorang kernet MPU, Hariyono dapat menghidupi istri dan kedua anaknya.

“Saya merupakan orang yang tidak mampu. Tapi saya punya kemauan yang kuat untuk memberikan yang terbaik kepda keluarga. Berapapun rezeki yang saya dapat, itu semua dari Allah,” ungkap Hariyono saat diwawancarai di rumahnya kemarin (26/01).

Kepada koran ini, Hariyono mengaku penghasilannya sangat minim dari menjadi kernet. “Biasanya perhari hasil saya Cuma Rp. 30.000. Kadang juga tidak sampai.” Keluhnya.

Baca Juga :  Pemotor Jatuh, Ditabrak Pikap, Warga Banyuglugur Meninggal

Akan tetapi Hariyonio mengaku tidak patah arang. Menurutnya hidup terus menuntutnya untuk bekerja. “Saya menjadi kernet sejak tahun 1980. Hingga saat ini sudah sekitar 38 tahun. Saya percaya, semua itu sudah takdir. Dan itu yang Allah gariskan untuk saya. Kadang memang tidak cukup. Ketika tidak cukup itu saya meminjam kepada tetangga yang mau membantu saya. Seperti dua hari yang lalu, listrik sampek mati karena telat bayar. Sampek minjam ke Asembagus kepada teman. Untung dia mau membantu,” tuturnya.

Menurut Hariyono, menjadi seorang kernet tidaklah mudah. Dirinya harus mampu bersabar dengan setiap masalah yang menghampiri. Sedangkan untuk melakukan pekerjaan lain, dirinya mengaku tak ada lowongan. “Cari kerja sekarangb susah. Jadi saya tetep jadi kernet aja. Adakalanya sulit sekali cari penumpang. Kadang-kadang harus ngemis-ngemis untuk penumpang agar mau. Kadang juga rebutan penumpang sama kernet lain. Sebenarnya saya ingin jadi sopir, tapi gak boleh sama isteri. Karena banyak kejadian orang kecelakaan,” terangnya.

Baca Juga :  Uang Arisan Puluhan Juta Amblas Digondol ‘’Hantu’’

Setiap hari Hriyono berangkat sekitar pukul setengah enam pagi. Dan baru pulang setelah sholat isyak. “Kadang disela jadi kernet, saya juga jadi kuli bangunan. Yang selalu menemani saya hanya sepda engkol. Karena saya tidak punya sepeda motor. Engkol ini teman yang setia buat saya. Saya masuk setiap hari, hanya jika sakit saja saya libur.” imbuhnya.

Akan tetapi, meskipun keadaanya sangat menghimpit, Hariyono mengaku masih belum mendapat bantuan apapun dari pemerintah. “Hingga saat ini belum ada bantuan apapun. Saya Cuma menunggu dan menunggu. Semoga ada bantuan yang sampai kepada saya,” harapnya. (*)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/