alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Seharian Kerja Dapat Rp 10 Ribu, Pemulung: Lebih Baik Dari Pada Ngemis

RadarBanyuwangi.id – “Lebih baik memungut sampah dari pada harus menjadi peminta-minta”, kalimat itulah yang dilontarkan Nursadin, kakek 70 tahun yang aktif mengumpulkan sampah plastik. Dalam sehari, dia mendapatkan penghasilan Rp 10 ribu.

Nursadin mencari sampah mengendarai sepeda ontel. Dia mengelilingi desa-desa. Warga Desa Tenggir, Kecamatan Panji itu sudah puluhan tahun bekerja menjadi pemulung. Hingga saat ini, dia terus mempedal sepeda ontelnya untuk mencari nafkah. “Kebiasaan saya berangkat dari pagi ke desa-desa, untuk mencari sampah plastik, pulangnya sampai jam dua sore (14.00), kadang sampai malam ” katanya,  Selasa kemarin (31/8).

Bagi Nursadin, hanya mencari sampah plastik yang bisa diandalkan mencari penghasilan di usia tuanya. Meski hasilnya tidak seberapa, namun dia tetap mensyukuri apa yang sudah didapatkan dari hasil keringatnya.

Tidak jarang, di pertengahan jalan Nursadin merasakan kesakitan. Kadang pusing, atau juga sakit pinggang. “Namanya sudah tua, penyakit saya sering kumat, kadang asam urat juga sering nyeri pinggang,” ujarnya.

Menurutnya, hasil yang didapatkan dari kerja memang sangat sedikit. Apalagi harga jual sampah plastik hanya Rp 1.500. Dalam satu hari, Didin hanya mendapatkan delapan sampai sepuluh kilogram sampah plastik.

“Yang saya sasar itu dari Desa Tenggir sampai ke Alasmalang. Bila perlu ke Alun-alun kota Situbondo, itu pun jika di sana ada keramaian. Karena sekarang masih PPKM darurat, jadi saya tidak ke sana,” imbuhnya. (mg1/pri)

RadarBanyuwangi.id – “Lebih baik memungut sampah dari pada harus menjadi peminta-minta”, kalimat itulah yang dilontarkan Nursadin, kakek 70 tahun yang aktif mengumpulkan sampah plastik. Dalam sehari, dia mendapatkan penghasilan Rp 10 ribu.

Nursadin mencari sampah mengendarai sepeda ontel. Dia mengelilingi desa-desa. Warga Desa Tenggir, Kecamatan Panji itu sudah puluhan tahun bekerja menjadi pemulung. Hingga saat ini, dia terus mempedal sepeda ontelnya untuk mencari nafkah. “Kebiasaan saya berangkat dari pagi ke desa-desa, untuk mencari sampah plastik, pulangnya sampai jam dua sore (14.00), kadang sampai malam ” katanya,  Selasa kemarin (31/8).

Bagi Nursadin, hanya mencari sampah plastik yang bisa diandalkan mencari penghasilan di usia tuanya. Meski hasilnya tidak seberapa, namun dia tetap mensyukuri apa yang sudah didapatkan dari hasil keringatnya.

Tidak jarang, di pertengahan jalan Nursadin merasakan kesakitan. Kadang pusing, atau juga sakit pinggang. “Namanya sudah tua, penyakit saya sering kumat, kadang asam urat juga sering nyeri pinggang,” ujarnya.

Menurutnya, hasil yang didapatkan dari kerja memang sangat sedikit. Apalagi harga jual sampah plastik hanya Rp 1.500. Dalam satu hari, Didin hanya mendapatkan delapan sampai sepuluh kilogram sampah plastik.

“Yang saya sasar itu dari Desa Tenggir sampai ke Alasmalang. Bila perlu ke Alun-alun kota Situbondo, itu pun jika di sana ada keramaian. Karena sekarang masih PPKM darurat, jadi saya tidak ke sana,” imbuhnya. (mg1/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/