alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Polisi Dianggap Tebang Pilih Penanganan Narkoba

SITUBONDO – Penanganan sejumlah kasus narkoba oleh Polres Situbondo mendapatkan kiritikan tajam dari masyarakat. Pasalnya, polisi dinilai tebang pilih dalam memporoses pihak-pihak yang terlibat dalam kasus yang menjadi atensi tersebut.

  Supriyono, salah satu pengacara di Situbondo mengatakan, setidaknya ada tiga kasus yang mengindikasikan ketidakserisuan polisi dalam penanganan kasus narkoba. “Kentara sekali, kalau polisi tebang pilih. Yang satunya dihukum, sedangkan yang lainnya tidak diapa-apakan,” katanya.

  Dia mencontohkan kasus yang menjerat salah satu kliennya yang bernama Hamzah. Hamzah tertangkap polisi di Kecamatan Kapongan karena ditemukan membawa narkoba. “Ternyata, klien saya ini beli kepada seseorang yang bernama Budi,” kata Supriyono.

Sayangnya, Budi tidak diproses. Padahal, keterlibatan Budi ini terungkap di pengadilan. Hal ini juga disampaikan Hamzah kepada penyidik. “Polisi menganggap tidak cukup bukti. Jadi jelas, ada tebang pilih,” tambah Supriyono.

Baca Juga :  Pemkab Situbondo Warning Pembangunan Perusahaan di Pasir Putih

Kejadian yanga sama dialami Muhammad Samsuri alias Mamat. Lagi-lagi, polisi tidak memproses otak dibalik pengedaran narkoba di Desa Sumberkalok, Kecamatan Panarukan ini. “Barang yang sesunguguhnya hanya titipan dari Sugianto. Ternyata, Sugianto sampai saat ini ongkang-ongkang,” jelasnya.

Bapak dua anak ini menambahkan, kasus serupa menimpa kliennya yang lain, Muhammad Sulhan. Dia menerangkan, kliennya yang saat ini sedang menjalani hukuman, hanya sebagai pihak yang disuruh membeli sabu. “Dia disuruh oleh Misyanto,” terangnya.

Dalam pandangang Supriyono, Misyanto seharusnya dihukum juga. Sayangnya, Misyanto malah tidak diapa-apakan. “Yang masuk hanya Sulhan, klien saya ini. Dia sudah menyampaikan di hadapan penyidik, bahwa disuruh Misyanto.” Terangnya.

Rentetan kasus ini membuktikan, ada tebang pilih dalam setiap penanganan oleh aparat kepolisian. Karena itu, Supriyono berjanji akan mengungkap semuanya di pengadilan. “Sangat jelas ada tebang pilih,” pungkasnya.

Baca Juga :  Polres Situbondo Operasikan Mobil Incar, Sepekan Tilang 180 Pelanggar Lalin

Kasatresnarkoba Polres Situbondno, AKP Aryo Panandaran membantah kalau ada tebang pilih. Kata dia, seserang bisa diproses secara hukum harus berkaitan dengan pembuktian pasal 183 KUHAP. Dia menerangkan, hukum mensyaratkan harus terpenuhi minimal dua alat bukti. “Kita tidak ada motivasi suka atau tidak suka,” katanya.

Dia menambahkan, keterlibatan seseorang dalam suatau kasus harus didukung dengan alat bukti lain. Artinya, tidak bisa hanya sebatas pengakuan sepihak. “Tidak bisa hanya disebutkan namanya saja, terus mau diproses,” ujar mantan Kapolres Banyuputih itu.

Aryo menerangkan, penanganan kasus narkoba selama ini dilakukan berdasarkan toeri hukum. Dia menjelaskan, hukum tidak mengajarkan balas dendam. “Kita nangkap ada aturan mainnya,” pungkasnya. (bib/pri)

SITUBONDO – Penanganan sejumlah kasus narkoba oleh Polres Situbondo mendapatkan kiritikan tajam dari masyarakat. Pasalnya, polisi dinilai tebang pilih dalam memporoses pihak-pihak yang terlibat dalam kasus yang menjadi atensi tersebut.

  Supriyono, salah satu pengacara di Situbondo mengatakan, setidaknya ada tiga kasus yang mengindikasikan ketidakserisuan polisi dalam penanganan kasus narkoba. “Kentara sekali, kalau polisi tebang pilih. Yang satunya dihukum, sedangkan yang lainnya tidak diapa-apakan,” katanya.

  Dia mencontohkan kasus yang menjerat salah satu kliennya yang bernama Hamzah. Hamzah tertangkap polisi di Kecamatan Kapongan karena ditemukan membawa narkoba. “Ternyata, klien saya ini beli kepada seseorang yang bernama Budi,” kata Supriyono.

Sayangnya, Budi tidak diproses. Padahal, keterlibatan Budi ini terungkap di pengadilan. Hal ini juga disampaikan Hamzah kepada penyidik. “Polisi menganggap tidak cukup bukti. Jadi jelas, ada tebang pilih,” tambah Supriyono.

Baca Juga :  Polres Situbondo Operasikan Mobil Incar, Sepekan Tilang 180 Pelanggar Lalin

Kejadian yanga sama dialami Muhammad Samsuri alias Mamat. Lagi-lagi, polisi tidak memproses otak dibalik pengedaran narkoba di Desa Sumberkalok, Kecamatan Panarukan ini. “Barang yang sesunguguhnya hanya titipan dari Sugianto. Ternyata, Sugianto sampai saat ini ongkang-ongkang,” jelasnya.

Bapak dua anak ini menambahkan, kasus serupa menimpa kliennya yang lain, Muhammad Sulhan. Dia menerangkan, kliennya yang saat ini sedang menjalani hukuman, hanya sebagai pihak yang disuruh membeli sabu. “Dia disuruh oleh Misyanto,” terangnya.

Dalam pandangang Supriyono, Misyanto seharusnya dihukum juga. Sayangnya, Misyanto malah tidak diapa-apakan. “Yang masuk hanya Sulhan, klien saya ini. Dia sudah menyampaikan di hadapan penyidik, bahwa disuruh Misyanto.” Terangnya.

Rentetan kasus ini membuktikan, ada tebang pilih dalam setiap penanganan oleh aparat kepolisian. Karena itu, Supriyono berjanji akan mengungkap semuanya di pengadilan. “Sangat jelas ada tebang pilih,” pungkasnya.

Baca Juga :  Harapkan Operator Dukung Suksesnya Pilgub Jatim

Kasatresnarkoba Polres Situbondno, AKP Aryo Panandaran membantah kalau ada tebang pilih. Kata dia, seserang bisa diproses secara hukum harus berkaitan dengan pembuktian pasal 183 KUHAP. Dia menerangkan, hukum mensyaratkan harus terpenuhi minimal dua alat bukti. “Kita tidak ada motivasi suka atau tidak suka,” katanya.

Dia menambahkan, keterlibatan seseorang dalam suatau kasus harus didukung dengan alat bukti lain. Artinya, tidak bisa hanya sebatas pengakuan sepihak. “Tidak bisa hanya disebutkan namanya saja, terus mau diproses,” ujar mantan Kapolres Banyuputih itu.

Aryo menerangkan, penanganan kasus narkoba selama ini dilakukan berdasarkan toeri hukum. Dia menjelaskan, hukum tidak mengajarkan balas dendam. “Kita nangkap ada aturan mainnya,” pungkasnya. (bib/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/