alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Hektaran Sawah Terendam Akibat Sungai Jebol

KAPONGAN – Sekitar lima hektare lahan persawahan terendam air sungai yang jebol di Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, kemarin (30/4). Akibat peristiwa ini, hektaran areal sawah tersebut tidak bisa ditanami padi.

Keterangan dari sejumlah warga, sungai jebol sudah berlangsung setahun lebih. Sejak saat itu, areal sawah yang terdampak tidak bisa ditanami karena tingginya genangan air. Karena itu, pemilik sawah berharap ada penanganan.

Sutipyo, salah satu pemilik sawah yang terendam air di Desa Peleyan mengaku, petani sudah beberapa kali menyampaikan kepada Sublog (petugas pengairan) terkait permasalahan tersebut. “Tetapi sampai saat ini belum ada penanganan,” ujarnya.

Sutipyo menambahkan, permasalahan ini juga sudah diberitahukan kepada beberapa kepala desa (kades). Di antaranya Kades Curah Cottok, Kecamatan Kapongan; Kades Juglangan, Kecamatan Panji; serta Kades Peleyan, Kecamatan Kapongan. Menurutnya, ketiga kades tersebut harus bertanggung jawab karena sungai jebol bermula dari aktivitas normalisisasi atau pengerukan sungai di tiga desa tersebut. “Akhirnya, airnya ke sini semua. Sedangkan di sungai ini tidak dikeruk. Yang dikeruk hanya di sebelah barat,” ujar pria asal Desa Juglangan, Kecamatan Panji itu.

Dia  mengatakan, aktivitas pengerukan dihentikan di titik yang jebol. Akibatnya, aliran air tidak lancar karena badan sungai ke arah timur sangat sempit. Aliran yang tidak lancar itulah yang menyebabkan sungai jebol, dan airnya mengalir ke sawah petani.

Sutipyo mengaku, petani sudah beberapa kali dijanjikan untuk dilakukan perbaikan. Sayangnya hingga setahun, upaya menutup titik yang jebol belum juga dikerjakan. “Sudah tiga kali panen tidak menanam padi sama sekali,” ujarnya.

Tepian sungai yang jebol awalnya selebar 15 meter. Saat itu, petani sempat bergotong royong menutupnya dengan alat seadanya. Akan tetapi tidak berselang lama, penahan yang dipasang kembali tergerus air. “Sekarang jebolnya tinggal sekitar lima meter,” kata Sutipyo.

Sawawi, pemilik sawah yang lain berharap, permasalahan ini segera dicarikan solusi. Menurutnya, satu-satunya solusi jika tidak dinormalisasi hingga ke timur, titik jebol tersebut ditutup. “Tiga kades ini bisa kerja sama untuk biaya menutup titik yang jebol,” ujarnya.

Kades Peleyan, Jumadin mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali menerima keluhan dari warga. Dia mengaku, dalam waktu dekat ini akan dilakukan perbaikan oleh pemerintah Desa Peleyan. “Saya sendiri yang akan perbaiki nanti,” ujarnya. (bib/bay)

KAPONGAN – Sekitar lima hektare lahan persawahan terendam air sungai yang jebol di Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, kemarin (30/4). Akibat peristiwa ini, hektaran areal sawah tersebut tidak bisa ditanami padi.

Keterangan dari sejumlah warga, sungai jebol sudah berlangsung setahun lebih. Sejak saat itu, areal sawah yang terdampak tidak bisa ditanami karena tingginya genangan air. Karena itu, pemilik sawah berharap ada penanganan.

Sutipyo, salah satu pemilik sawah yang terendam air di Desa Peleyan mengaku, petani sudah beberapa kali menyampaikan kepada Sublog (petugas pengairan) terkait permasalahan tersebut. “Tetapi sampai saat ini belum ada penanganan,” ujarnya.

Sutipyo menambahkan, permasalahan ini juga sudah diberitahukan kepada beberapa kepala desa (kades). Di antaranya Kades Curah Cottok, Kecamatan Kapongan; Kades Juglangan, Kecamatan Panji; serta Kades Peleyan, Kecamatan Kapongan. Menurutnya, ketiga kades tersebut harus bertanggung jawab karena sungai jebol bermula dari aktivitas normalisisasi atau pengerukan sungai di tiga desa tersebut. “Akhirnya, airnya ke sini semua. Sedangkan di sungai ini tidak dikeruk. Yang dikeruk hanya di sebelah barat,” ujar pria asal Desa Juglangan, Kecamatan Panji itu.

Dia  mengatakan, aktivitas pengerukan dihentikan di titik yang jebol. Akibatnya, aliran air tidak lancar karena badan sungai ke arah timur sangat sempit. Aliran yang tidak lancar itulah yang menyebabkan sungai jebol, dan airnya mengalir ke sawah petani.

Sutipyo mengaku, petani sudah beberapa kali dijanjikan untuk dilakukan perbaikan. Sayangnya hingga setahun, upaya menutup titik yang jebol belum juga dikerjakan. “Sudah tiga kali panen tidak menanam padi sama sekali,” ujarnya.

Tepian sungai yang jebol awalnya selebar 15 meter. Saat itu, petani sempat bergotong royong menutupnya dengan alat seadanya. Akan tetapi tidak berselang lama, penahan yang dipasang kembali tergerus air. “Sekarang jebolnya tinggal sekitar lima meter,” kata Sutipyo.

Sawawi, pemilik sawah yang lain berharap, permasalahan ini segera dicarikan solusi. Menurutnya, satu-satunya solusi jika tidak dinormalisasi hingga ke timur, titik jebol tersebut ditutup. “Tiga kades ini bisa kerja sama untuk biaya menutup titik yang jebol,” ujarnya.

Kades Peleyan, Jumadin mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali menerima keluhan dari warga. Dia mengaku, dalam waktu dekat ini akan dilakukan perbaikan oleh pemerintah Desa Peleyan. “Saya sendiri yang akan perbaiki nanti,” ujarnya. (bib/bay)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/