alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Warga Usir Pelaku Ritual di Pantai Rajegwesi

PESANGGARAN, Jawa Pos Radar Genteng- Diduga akan menggelar ritual di daerah Beteng, Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, enam warga yang mengaku dari Kecamatan Genteng, diusir oleh warga setempat, Jumat dini hari (30/10).

Warga Desa Sarongan menolak kedatangan warga dari luar daerah yang akan melaksanakan ritual itu, karena setiap ada yang hanyut atau hilang, dibarengi adanya kegiatan ritual. “Enam orang itu oleh warga diminta pulang,” terang Kepala Desa Sarongan, Gunoto.

Menurut Gunoto, saat ada orang yang hanyut di Laut Selatan tiga bulan lalu, sebelumnya korban itu melakukan ritual. Warga menduga, ritual yang dilakukan itu untuk pesugihan. “Korban hanyut saat mengambil sesaji,” cetusnya.

Warga mengusir enam warga asal Kecamatan Genteng yang akan melakukan ritual itu, terang dia, karena trauma. Dan itu, tidak ada niat menyudutkan kepercayaan tertentu. Dalam pengusiran, dilakukan dengan cara yang baik. “Rombongan itu diminta tidak melakukan ritual dan pulang,” katanya.

Karena kejadian itu pada tengah malam, masih kata dia, enam warga yang datang dengan naik mobil itu saat pulang juga diantar sampai Kebun Sungailembu, PTPN XII. “Warga yang mengusir tidak sempat minta identitas enam warga itu, mereka katanya dari Genteng,” sebutnya.

Kapolsek Pesanggaran AKP Subandi, saat dikonfirmasi mengaku mendengar ada enam orang asal Kecamatan Genteng yang diusir warga saat akan melakukan ritual di Pantai Rejegwesi, Desa Sarongan. “Saya mendengar informasi itu,” cetusnya.

Untuk identitas enam warga yang datang ke Pantai Rajegwesi dengan naik mobil itu, Kapolsek mengaku tidak tahu. Oleh warga, juga tidak dicatat dan langsung diminta pulang. “Kita mau ke lokasi, kata warga enam orang itu sudah pergi,” katanya.

Warga yang mengusir enam orang itu, masih kata dia, bukan lantaran sentimen dengan agama tertentu. Tapi, warga trauma karena setiap kali ada orang hilang di Laut Selatan, sebelumnya ada ritual. “Warga itu trauma, kalau warga tidak berkenan, bagaimana lagi,” cetusnya.

Demi menjaga ketertiban dan keamanan, Kapolsek minta kalau ada warga dari luar daerah yang akan mengadakan ritual atau kegiatan apa pun di sekitar pantai, hendaknya berkoordinasi dengan kepolisian. Langkah ini, untuk memudahkan koordinasi dengan masyarakat setempat. Selain itu, untuk memastikan kegiatan yang dilakukan tidak merugikan. “Mestinya mereka (enam orang) koordinasi, agar tidak salah paham,” cetusnya.

PESANGGARAN, Jawa Pos Radar Genteng- Diduga akan menggelar ritual di daerah Beteng, Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, enam warga yang mengaku dari Kecamatan Genteng, diusir oleh warga setempat, Jumat dini hari (30/10).

Warga Desa Sarongan menolak kedatangan warga dari luar daerah yang akan melaksanakan ritual itu, karena setiap ada yang hanyut atau hilang, dibarengi adanya kegiatan ritual. “Enam orang itu oleh warga diminta pulang,” terang Kepala Desa Sarongan, Gunoto.

Menurut Gunoto, saat ada orang yang hanyut di Laut Selatan tiga bulan lalu, sebelumnya korban itu melakukan ritual. Warga menduga, ritual yang dilakukan itu untuk pesugihan. “Korban hanyut saat mengambil sesaji,” cetusnya.

Warga mengusir enam warga asal Kecamatan Genteng yang akan melakukan ritual itu, terang dia, karena trauma. Dan itu, tidak ada niat menyudutkan kepercayaan tertentu. Dalam pengusiran, dilakukan dengan cara yang baik. “Rombongan itu diminta tidak melakukan ritual dan pulang,” katanya.

Karena kejadian itu pada tengah malam, masih kata dia, enam warga yang datang dengan naik mobil itu saat pulang juga diantar sampai Kebun Sungailembu, PTPN XII. “Warga yang mengusir tidak sempat minta identitas enam warga itu, mereka katanya dari Genteng,” sebutnya.

Kapolsek Pesanggaran AKP Subandi, saat dikonfirmasi mengaku mendengar ada enam orang asal Kecamatan Genteng yang diusir warga saat akan melakukan ritual di Pantai Rejegwesi, Desa Sarongan. “Saya mendengar informasi itu,” cetusnya.

Untuk identitas enam warga yang datang ke Pantai Rajegwesi dengan naik mobil itu, Kapolsek mengaku tidak tahu. Oleh warga, juga tidak dicatat dan langsung diminta pulang. “Kita mau ke lokasi, kata warga enam orang itu sudah pergi,” katanya.

Warga yang mengusir enam orang itu, masih kata dia, bukan lantaran sentimen dengan agama tertentu. Tapi, warga trauma karena setiap kali ada orang hilang di Laut Selatan, sebelumnya ada ritual. “Warga itu trauma, kalau warga tidak berkenan, bagaimana lagi,” cetusnya.

Demi menjaga ketertiban dan keamanan, Kapolsek minta kalau ada warga dari luar daerah yang akan mengadakan ritual atau kegiatan apa pun di sekitar pantai, hendaknya berkoordinasi dengan kepolisian. Langkah ini, untuk memudahkan koordinasi dengan masyarakat setempat. Selain itu, untuk memastikan kegiatan yang dilakukan tidak merugikan. “Mestinya mereka (enam orang) koordinasi, agar tidak salah paham,” cetusnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/