Hidup dari Jukir di RTH Maron

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Sebagian warga di Kota Genteng, sudah tidak asing dengan sosok Joko Saputro, 59, yang tinggal di Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Meski sudah berumur separo abad lebih, tapi penampilannya cukup nyentrik.

Joko sudah 20 tahun lebih bekerja sebagai juru parkir (jukir) di jalanan Kota Genteng. Hanya saja, kini lebih sering di sekitar RTH Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. “Saya tinggal sendirian di rumah,” kata bapak satu anak dengan dua cucu itu.

Menurut Joko, menjadi jukir ini mulanya ditawari oleh pegawai Pemerintah Desa Genteng Kulon, karena saat itu tidak memiliki pekerjaan. “Saya ambil tawaran itu, sampai sekarang jadi jukir di sekitar RTH ini,” katanya.

Untuk menjaga parkir ini, Joko mengaku bergantian dengan temannya. Selama ini, ia mulai ‘dinas’ mulai pukul 09.00 sampai 15.00 dengan perolehan rata-rata sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu per hari. “Itu cukup untuk hidup sendiri,” cetusnya.

Joko tinggal sendirian sejak cerai dengan istrinya belasan tahun lalu. Anak semata wayangnya, sudah menikah dan tinggal bersama keluarganya. “Saya belum pernah mendapat bantuan berupa apapun dari pemerintah,” cetusnya.

Dengan hidup dari jukir, Joko mengaku tetap bersyukur, dan mencoba tidak mengharap bantuan dari orang lain selama masih memiliki tenaga untuk mencari uang. “Yang paling penting disyukuri, waluapun ini tidak mudah,” ucapnya.(mg5/abi)