alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Tuntut Realisasi Lapangan Kerja, PMII Gelar Aksi Turun ke Jalan

GENTENG – Para mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng, Banyuwangi, menggelar aksi turun jalan, Selasa (29/3/2022). Dalam aksinya itu, mereka mengkritisi kinerja Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakilnya Sugirah, belum memenuhi janji-janji saat kampanye.

Aksi yang dilakukan para mahasiswa itu, diawali dengan long march dari halaman kampus IAI Ibrahimy menuju jalan simpang tiga Desa Genteng Wetan. Selama perjalanan, mereka terus berorasi sambil membentangkan poster. “Kami menuntut penataan ritel modern, masalah kemiskinan, perceraian, dan kekerasan,” cetus ketua PMII Komisariat IAI Ibrahimy, Dendy Wahyu.

Dendy meminta Bupati Ipuk dan Wakilnya Sugirah segera mengentaskan kemiskinan yang tahun ini meningkat sekitar satu persen. Dan itu, tidak sesuai dengan janji kampanye bupati yang akan mendirikan 10 ribu lapangan pekerjaan untuk rakyat Banyuwangi. “Belum ada tanda-tanda realisasi 10 ribu lapangan pekerjaan,” cetusnya.

Menurut Dendy, tingkat perceraian di Banyuwangi semakin meningkat. Pada 2021 sudah ada 7.405 perkara yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi. Padahal, di Banyuwangai ada program bengkel sakinah. “Program tidak efektif untuk menekan angka perceraian, buktinya perceraian malah meningkat,” katanya.

Dalam aksinya dengan menggelar orasi di jalan simpang tiga Desa Genteng Wetan, para mahasiswa itu menyebut angka kekerasan seksual yang menimpa perempuan cukup tinggi. Mereka berharap kepada penegak hukum, agar bertindak tegas terhadap pelaku pidana kekerasan seksual. “Pemkab juga harus serius memberikan edukasi kepada masyawarakat,” pintanya.

Para aktivis PMII itu menyampaikan ritel modern kini menjamur. Pembangunannya, banyak yang tidak sesuai dengan Perbup no 14 tahun 2021 tentang penataan toko modern yang tidak berjejaringan dan berjejaringan. “Banyak toko modern yang tidak sesuai perbup tersebut,” kata Dendy.

Menurut Dendy, berdirinya toko modern sangat kontradiktif dengan program Bupati Banyuwangi UMKM naik kelas. Ingin menaikan drajat UMKM, tapi masih memberikan izin pendirian toko modern. “Banyak pelanggaran pendirian toko modern di Banyuwangi,” ungkapnya.

Aksi para aktivis PMII Komisariat IAI Ibrahimy yang dimulai pukul 13.00 itu berlangsung aman. Setelah mereka berorasi dan main teatrikal, para mahasiswa juga membubarkan diri. Arus lalu lintas, juga berjalan lancar. “Semua aman, tidak ada tindakan anarkis,” terang Kapolsek Genteng, AKP Sudarmaji.

Selama proses unjuk rasa, Kapolsek mengaku mengerahkan 15 personel. Sebenarnya ada 60 personel bantuan dari polsek tetangga dan Polresta. Tapi, mereka menunggu di Mapolsek Genteng. “Masa yang aksi mudah untuk dikendalikan,” cetusnya.(mg5/abi)

GENTENG – Para mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng, Banyuwangi, menggelar aksi turun jalan, Selasa (29/3/2022). Dalam aksinya itu, mereka mengkritisi kinerja Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakilnya Sugirah, belum memenuhi janji-janji saat kampanye.

Aksi yang dilakukan para mahasiswa itu, diawali dengan long march dari halaman kampus IAI Ibrahimy menuju jalan simpang tiga Desa Genteng Wetan. Selama perjalanan, mereka terus berorasi sambil membentangkan poster. “Kami menuntut penataan ritel modern, masalah kemiskinan, perceraian, dan kekerasan,” cetus ketua PMII Komisariat IAI Ibrahimy, Dendy Wahyu.

Dendy meminta Bupati Ipuk dan Wakilnya Sugirah segera mengentaskan kemiskinan yang tahun ini meningkat sekitar satu persen. Dan itu, tidak sesuai dengan janji kampanye bupati yang akan mendirikan 10 ribu lapangan pekerjaan untuk rakyat Banyuwangi. “Belum ada tanda-tanda realisasi 10 ribu lapangan pekerjaan,” cetusnya.

Menurut Dendy, tingkat perceraian di Banyuwangi semakin meningkat. Pada 2021 sudah ada 7.405 perkara yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi. Padahal, di Banyuwangai ada program bengkel sakinah. “Program tidak efektif untuk menekan angka perceraian, buktinya perceraian malah meningkat,” katanya.

Dalam aksinya dengan menggelar orasi di jalan simpang tiga Desa Genteng Wetan, para mahasiswa itu menyebut angka kekerasan seksual yang menimpa perempuan cukup tinggi. Mereka berharap kepada penegak hukum, agar bertindak tegas terhadap pelaku pidana kekerasan seksual. “Pemkab juga harus serius memberikan edukasi kepada masyawarakat,” pintanya.

Para aktivis PMII itu menyampaikan ritel modern kini menjamur. Pembangunannya, banyak yang tidak sesuai dengan Perbup no 14 tahun 2021 tentang penataan toko modern yang tidak berjejaringan dan berjejaringan. “Banyak toko modern yang tidak sesuai perbup tersebut,” kata Dendy.

Menurut Dendy, berdirinya toko modern sangat kontradiktif dengan program Bupati Banyuwangi UMKM naik kelas. Ingin menaikan drajat UMKM, tapi masih memberikan izin pendirian toko modern. “Banyak pelanggaran pendirian toko modern di Banyuwangi,” ungkapnya.

Aksi para aktivis PMII Komisariat IAI Ibrahimy yang dimulai pukul 13.00 itu berlangsung aman. Setelah mereka berorasi dan main teatrikal, para mahasiswa juga membubarkan diri. Arus lalu lintas, juga berjalan lancar. “Semua aman, tidak ada tindakan anarkis,” terang Kapolsek Genteng, AKP Sudarmaji.

Selama proses unjuk rasa, Kapolsek mengaku mengerahkan 15 personel. Sebenarnya ada 60 personel bantuan dari polsek tetangga dan Polresta. Tapi, mereka menunggu di Mapolsek Genteng. “Masa yang aksi mudah untuk dikendalikan,” cetusnya.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/