alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Alasan Penambang Liar Nekat Melakukan Dompeng

SEMENTARA itu, para penambang emas liar mengaku kalau yang dilakukan itu dilarang. Tapi, mereka berdalih mencari emas di sekitar hutan Petak 56, wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, itu karena terpaksa.

Mereka mengaku warga yang tinggal di sekitar hutan, saat ini sedang terlilit ekonomi. Sedangkan mereka tidak bisa bekerja karena lapangan pekerjaan juga tidak ada. Sedang mereka, kebanyakan tidak punya sawah. “Mencari emas sejak setahun lalu, mulai ada pandemi,” cetus Yateno, 60, salah satu penambang emas liar atau dompeng.

Yateno menyampaikan laporan warga pada polisi yang menyebut dompeng yang dilakukan bersama puluhan orang itu bisa merusak tanaman, itu berlebihan. Sebab, dompeng yang dilakukan hanya memilah material dengan cara disemprot air menggunakan mesin diesel. “Ini hanya menggunakan air, tidak ada obatnya,” jelasnya.

Menurut Yateno, keuntungan dari dompeng ini sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya saja, dibandingkan menambang emas dengan cara menggali lubang hingga dalam, cara yang dilakukan ini jauh lebih aman. “Kita tidak sampai masuk ke lubang, jadi aman,” dalihnya.

Untuk sekali dompeng, jelas dia, modal yang dikeluarkan minimal Rp. 500 ribu. Untuk dompeng ini dilakukan berkelompok. Satu kelompok, jelas dia, biasanya beranggota lima hingga tujuh orang. Selama ini, hasil yang paling banyak setiap kali proses hanya tujuh gram emas. “Harga emasnya Rp. 500 ribu sampai Rp, 600 ribu per gram,” ungkapnya.

Dia berharap ada solusi bila dilakukan ini dianggap melanggar dan dilarang. Petugas, tidak hanya sebatas penertiban dari sisi hukum. “Bagaimanapun juga, kami juga warga negara yang memerlukan ekonomi untuk kelangsungan hidup,” cetusnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Kepala Desa Pesanggaran, Sukirno saat dikonfirmasi  menyatakan masalah ini sebenarnya kewenangan Perhutani. Karena lokasi penambangan emas liar itu, berada di tengah hutan yang dikelola Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. “Itu urusan Perhutani, saya tidak pernah mengidentifikasi,” jelasnya.

Sukirno menyebut hanya mengawasi Sungai Kaligonggo yang ada di sekitar hutan Petak 56 itu. Selama sungai itu tidak terusik, ia tidak akan mempermasalahkan. Keberadaan Sungai Kaligonggo, itu sangat penting bagi warga desanya, tidak sebatas pada pertanian saja. “Yang penting Sungai Kaligonggo tidak terganggu,” tegasnya.

Apakah kegiatan dompeng ini sudah menimbulkan dampak pada Sungai Kaligonggo, Sukirno secara diplomatis menjawab belum mengetahui secara pasti dan rinci. “ Saya belum survei ke sana,” dalihnya.

Menurut Sukirno, Sungai Kaligonggo harus menjadi perhatian semua orang, tidak hanya petani. Bila aliran sungai itu terhambat atau bermasalah, maka saat musim hujan berisiko menimbulkan genangan. Bila sudah mengalami endapan, proses normalisasi sangat menguras banyak energi. “Yang terdampak tidak hanya sawah, rumah juga bisa terendam,” pungkasnya.

SEMENTARA itu, para penambang emas liar mengaku kalau yang dilakukan itu dilarang. Tapi, mereka berdalih mencari emas di sekitar hutan Petak 56, wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, itu karena terpaksa.

Mereka mengaku warga yang tinggal di sekitar hutan, saat ini sedang terlilit ekonomi. Sedangkan mereka tidak bisa bekerja karena lapangan pekerjaan juga tidak ada. Sedang mereka, kebanyakan tidak punya sawah. “Mencari emas sejak setahun lalu, mulai ada pandemi,” cetus Yateno, 60, salah satu penambang emas liar atau dompeng.

Yateno menyampaikan laporan warga pada polisi yang menyebut dompeng yang dilakukan bersama puluhan orang itu bisa merusak tanaman, itu berlebihan. Sebab, dompeng yang dilakukan hanya memilah material dengan cara disemprot air menggunakan mesin diesel. “Ini hanya menggunakan air, tidak ada obatnya,” jelasnya.

Menurut Yateno, keuntungan dari dompeng ini sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya saja, dibandingkan menambang emas dengan cara menggali lubang hingga dalam, cara yang dilakukan ini jauh lebih aman. “Kita tidak sampai masuk ke lubang, jadi aman,” dalihnya.

Untuk sekali dompeng, jelas dia, modal yang dikeluarkan minimal Rp. 500 ribu. Untuk dompeng ini dilakukan berkelompok. Satu kelompok, jelas dia, biasanya beranggota lima hingga tujuh orang. Selama ini, hasil yang paling banyak setiap kali proses hanya tujuh gram emas. “Harga emasnya Rp. 500 ribu sampai Rp, 600 ribu per gram,” ungkapnya.

Dia berharap ada solusi bila dilakukan ini dianggap melanggar dan dilarang. Petugas, tidak hanya sebatas penertiban dari sisi hukum. “Bagaimanapun juga, kami juga warga negara yang memerlukan ekonomi untuk kelangsungan hidup,” cetusnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Kepala Desa Pesanggaran, Sukirno saat dikonfirmasi  menyatakan masalah ini sebenarnya kewenangan Perhutani. Karena lokasi penambangan emas liar itu, berada di tengah hutan yang dikelola Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. “Itu urusan Perhutani, saya tidak pernah mengidentifikasi,” jelasnya.

Sukirno menyebut hanya mengawasi Sungai Kaligonggo yang ada di sekitar hutan Petak 56 itu. Selama sungai itu tidak terusik, ia tidak akan mempermasalahkan. Keberadaan Sungai Kaligonggo, itu sangat penting bagi warga desanya, tidak sebatas pada pertanian saja. “Yang penting Sungai Kaligonggo tidak terganggu,” tegasnya.

Apakah kegiatan dompeng ini sudah menimbulkan dampak pada Sungai Kaligonggo, Sukirno secara diplomatis menjawab belum mengetahui secara pasti dan rinci. “ Saya belum survei ke sana,” dalihnya.

Menurut Sukirno, Sungai Kaligonggo harus menjadi perhatian semua orang, tidak hanya petani. Bila aliran sungai itu terhambat atau bermasalah, maka saat musim hujan berisiko menimbulkan genangan. Bila sudah mengalami endapan, proses normalisasi sangat menguras banyak energi. “Yang terdampak tidak hanya sawah, rumah juga bisa terendam,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/