alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Minyak Goreng Kian Mahal, Kurangi Jumlah Kerupuk untuk Bisa Bertahan

SEMPU – Harga minyak goreng (migor) yang terus melambung di pasaran, membuat perajin kerupuk di Dusun Krajan Kulon, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu kelimpungan. Saat ini, harga migor mencapai Rp 26 ribu per liter. Migor curah yang harganya hanya Rp 14 ribu per liter, semakin susah dicari, Selasa (28/3/2022).

Salah satu perajin kerupuk, Suhailik, 50, mengatakan usahanya sangat terdampak setelah dicabutnya subsisi migor oleh pemerintah beberapa pekan lalu. “Saya setiap hari butuh 12 dus minyak goreng. Saat ini satu dus migor yang isi 12 liter, harganya sudah Rp 288 ribu,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Harga migor yang naik itu, membuatnya harus mencari siasat agar usahanya tetap mendapatkan untung. Salah satunya, mengurangi jumlah kerupuk dalam bungkusan plastik. “Jumlah krupuk dalam satu bungkus dikurangi. biasanya berisi empat jadi tiga. Biasanya isi 10 jadi delapan saja,” ujarnya.

Cara itu terpaksa dipilih, masih kata dia, ketimbang harus menaikkan harga jual kerupuk. Harga kerupuk, harus disamakan dengan harga pada perajin lainnya. “Kalau saya menaikkan harga kerupuk, pelanggan akan beli ke tempat lain,” terangnya.

Naiknya harga migor, lanjut dia, diperparah dengan naiknya harga plastik dan tali yang dibuat untuk membungkus kerupuk. “Tali rafia sekarang Rp 20 ribu, plastik satu rol harganya Rp 14 ribu, sedangkan harga kerupuk tidak bisa naik,” terangnya.

Akibat tingginya harga migor, tali rafia, dan plastik, masih kata dia, pendapatannya menurun drastis. Bahkan, saat ini hanya menggoreng kerupuk setiap tiga hari sekali. “Dulu dua kuintal kerupuk bisa langsung habis dalam sehari. Sekarang tiga hari baru habis,” cetusnya.

Dengan tingginya harga minyak seperti itu, Suhailik menyebut tak sedikit perajin kerupuk di tempatnya yang mulai gulung tikar. “Banyak yang sudah tutup karena modalnya gak cukup,” ungkapnya.

Perajin kerupuk lainnya, Jono, 51, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu, mengaku selama harga migor naik, ia terpaksa berhenti memproduksi kerupuk. “Sekarang lagi tidak goreng, modalnya kurang,” cetusnya. (sas/abi)

SEMPU – Harga minyak goreng (migor) yang terus melambung di pasaran, membuat perajin kerupuk di Dusun Krajan Kulon, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu kelimpungan. Saat ini, harga migor mencapai Rp 26 ribu per liter. Migor curah yang harganya hanya Rp 14 ribu per liter, semakin susah dicari, Selasa (28/3/2022).

Salah satu perajin kerupuk, Suhailik, 50, mengatakan usahanya sangat terdampak setelah dicabutnya subsisi migor oleh pemerintah beberapa pekan lalu. “Saya setiap hari butuh 12 dus minyak goreng. Saat ini satu dus migor yang isi 12 liter, harganya sudah Rp 288 ribu,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Harga migor yang naik itu, membuatnya harus mencari siasat agar usahanya tetap mendapatkan untung. Salah satunya, mengurangi jumlah kerupuk dalam bungkusan plastik. “Jumlah krupuk dalam satu bungkus dikurangi. biasanya berisi empat jadi tiga. Biasanya isi 10 jadi delapan saja,” ujarnya.

Cara itu terpaksa dipilih, masih kata dia, ketimbang harus menaikkan harga jual kerupuk. Harga kerupuk, harus disamakan dengan harga pada perajin lainnya. “Kalau saya menaikkan harga kerupuk, pelanggan akan beli ke tempat lain,” terangnya.

Naiknya harga migor, lanjut dia, diperparah dengan naiknya harga plastik dan tali yang dibuat untuk membungkus kerupuk. “Tali rafia sekarang Rp 20 ribu, plastik satu rol harganya Rp 14 ribu, sedangkan harga kerupuk tidak bisa naik,” terangnya.

Akibat tingginya harga migor, tali rafia, dan plastik, masih kata dia, pendapatannya menurun drastis. Bahkan, saat ini hanya menggoreng kerupuk setiap tiga hari sekali. “Dulu dua kuintal kerupuk bisa langsung habis dalam sehari. Sekarang tiga hari baru habis,” cetusnya.

Dengan tingginya harga minyak seperti itu, Suhailik menyebut tak sedikit perajin kerupuk di tempatnya yang mulai gulung tikar. “Banyak yang sudah tutup karena modalnya gak cukup,” ungkapnya.

Perajin kerupuk lainnya, Jono, 51, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu, mengaku selama harga migor naik, ia terpaksa berhenti memproduksi kerupuk. “Sekarang lagi tidak goreng, modalnya kurang,” cetusnya. (sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/