alexametrics
23.2 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

64 Warga Positif Covid-19, Desa Glagahagung Lockdown

RadarBanyuwangi.id – Merebaknya penyebaran Covid-19 di Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, membuat pemerintah desa melakukan penyekatan dan pembatasan aktivitas warganya. Tiga tiga rukun tetangga (RT) yang warganya banyak terpapar virus korona di-lockdown, kemarin (25/6).

Saat ini warga yang terkena Covid-19 di Desa Glagahagung itu ada 64 orang. Untuk menekan penyebaran virus korona, pemerintah desa melakukan penyekatan di tiga RT, yakni RT 5, RT 6, dan RT 7 yang semuanya berada di RW 2, Dusun Jatimulyo, Desa Glagahagung. “Ada 64 orang yang terkena Covid-19, tiga RT di-lockdown,” cetus Kepala Dusun Jatimulyo, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Arik Asdianto.

Selama lockdown itu, terang dia, semua warga yang ada di tiga RT itu dilarang keluar dari rumah. Seluruh aktivitas warga, juga dibatasi secara ketat. “Kami berlakukan lockdown lokal ini untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Baca Juga :  Kiat Setyo Ponco Utomo Siasati Lesunya Bisnis Rent Car Akibat Pandemi

Selama diberlakukan lockdown itu, jelas dia, untuk kebutuhan warga yang menjalankan isolasi mandiri, difasilitasi oleh Pemerintah Desa Glagahagung. Di lokasi itu, juga sudah didirikan dapur umum untuk menyuplay kebutuhan makanan warga. “Kebutuhan sehari-hari ditanggung pemerintah desa,” ujar Arik kepada RadarBanyuwangi.id.

Para anggota PKK dibantu TNI dan para relawan, setiap hari memasak dan membungkus makanan yang akan diberikan kepada warga. “Semua dilakukan dengan gotong royong, warga yang  menjalani isolasi mandiri kami pantau secara ketat,” ujarnya.

Selama lockdown itu, masih kata dia, warga dari luar daerah dilarang masuk. Keluarga yang terpapar Covid-19, juga tidak boleh menerima tamu. “Warga yang postif Covid-19 ini masuk  orang tanpa gejala (OTG), mereka dianjurkan olahraga dan berjemur di bawah sinar matahari,” terangnya.

Baca Juga :  Penjual Bunga Plastik Hasil Rp 1 Juta Sehari

Menurut Arik, ada tiga klaster yang menyebabkan ledakan Covid-19 di kampungnya itu. Ketiga klaster itu, klaster hajatan, klaster pekerja pembuat peti buah, dan klaster warung makan. Hanya saja, sampai saat ini belum bisa dipastikan dari mana munculnya ledakan virus korona di desanya. “Ada tiga klaster penyebab ledakan Covid-19. Petugas Puskesmas Grajagan masih melakukan tracing,” terangnya.

Kebijakan lockdown lokal itu, akan diberlakukan selama sepuluh hari ke depan. Selama lockdown itu, semua kebutuhan warga seperti makan tiga kali sehari ditanggung oleh pemerintah desa. Selain itu, seluruh kegiatan seperti hajatan dan pengajian, untuk sementara dihentikan. “Kebutuhan warga difasilitasi pemerintah desa dan beberapa donatur yang ikhlas membantu warga yang sedang menjalani isolasi mandiri,” pungkasnya.(kri/abi)

RadarBanyuwangi.id – Merebaknya penyebaran Covid-19 di Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, membuat pemerintah desa melakukan penyekatan dan pembatasan aktivitas warganya. Tiga tiga rukun tetangga (RT) yang warganya banyak terpapar virus korona di-lockdown, kemarin (25/6).

Saat ini warga yang terkena Covid-19 di Desa Glagahagung itu ada 64 orang. Untuk menekan penyebaran virus korona, pemerintah desa melakukan penyekatan di tiga RT, yakni RT 5, RT 6, dan RT 7 yang semuanya berada di RW 2, Dusun Jatimulyo, Desa Glagahagung. “Ada 64 orang yang terkena Covid-19, tiga RT di-lockdown,” cetus Kepala Dusun Jatimulyo, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Arik Asdianto.

Selama lockdown itu, terang dia, semua warga yang ada di tiga RT itu dilarang keluar dari rumah. Seluruh aktivitas warga, juga dibatasi secara ketat. “Kami berlakukan lockdown lokal ini untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Baca Juga :  Pemudik Awal Bisa Jadi Pemicu Klaster Baru

Selama diberlakukan lockdown itu, jelas dia, untuk kebutuhan warga yang menjalankan isolasi mandiri, difasilitasi oleh Pemerintah Desa Glagahagung. Di lokasi itu, juga sudah didirikan dapur umum untuk menyuplay kebutuhan makanan warga. “Kebutuhan sehari-hari ditanggung pemerintah desa,” ujar Arik kepada RadarBanyuwangi.id.

Para anggota PKK dibantu TNI dan para relawan, setiap hari memasak dan membungkus makanan yang akan diberikan kepada warga. “Semua dilakukan dengan gotong royong, warga yang  menjalani isolasi mandiri kami pantau secara ketat,” ujarnya.

Selama lockdown itu, masih kata dia, warga dari luar daerah dilarang masuk. Keluarga yang terpapar Covid-19, juga tidak boleh menerima tamu. “Warga yang postif Covid-19 ini masuk  orang tanpa gejala (OTG), mereka dianjurkan olahraga dan berjemur di bawah sinar matahari,” terangnya.

Baca Juga :  Udang dan Hasil Perikanan Konsisten Ekspor meski Pandemi Melanda

Menurut Arik, ada tiga klaster yang menyebabkan ledakan Covid-19 di kampungnya itu. Ketiga klaster itu, klaster hajatan, klaster pekerja pembuat peti buah, dan klaster warung makan. Hanya saja, sampai saat ini belum bisa dipastikan dari mana munculnya ledakan virus korona di desanya. “Ada tiga klaster penyebab ledakan Covid-19. Petugas Puskesmas Grajagan masih melakukan tracing,” terangnya.

Kebijakan lockdown lokal itu, akan diberlakukan selama sepuluh hari ke depan. Selama lockdown itu, semua kebutuhan warga seperti makan tiga kali sehari ditanggung oleh pemerintah desa. Selain itu, seluruh kegiatan seperti hajatan dan pengajian, untuk sementara dihentikan. “Kebutuhan warga difasilitasi pemerintah desa dan beberapa donatur yang ikhlas membantu warga yang sedang menjalani isolasi mandiri,” pungkasnya.(kri/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/