alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Lubang Menganga di Genteng Wetan

GENTENG – Jalan KH Ahmad Kholil yang menghubungkan Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran dengan Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, ambles dan berlubang kemarin (28/6). Hal itu terjadi karena penahan jalan longsor hingga sedalam satu setengah meter.

Akibatnya, pengguna jalan yang melintasi jalur tersebut harus hati-hati jika tidak ingin celaka. Menurut Suwati, 46, warga Dusun Cangaan, RT 07, RW 01, Desa Genteng Wetan, jalan tersebut baru saja ditambal sulam. Per­baikan jalan tersebut dilakukan sebelum Ramadan. Namun, seka­rang kondisinya rusak parah. Amblas dan pecah. Penyebabnya, terjadi longsor pada dasar fondasi jalan itu. ”Sudah hampir satu bulan jalan itu berlubang. Awalnya hanya amblas tapi lama-lama lubang membesar,” jelasnya.

Suwati menduga, longsornya tanah yang berfungsi sebagai penyangga jalan itu lantaran tergerus air hujan. Akibatnya, jalan tersebut berlubang dengan diameter 40 sentimeter. Beberapa kendaraan yang melewati jalan tersebut pun harus menepi karena letak jalan yang amblas berada di bagian tengah jalan. ”Jalan ter­sebut sangat berbahaya. Apalagi jika yang lewat kendaraan roda empat bermuatan berat. Bisa ter­pe­rosok,” ujarnya.

Sementara itu, agregat tanah di bawahnya habis tergerus air. Se­hingga menciptakan ruang yang cukup dalam. Jika tidak segera ditangani, kerusakan diperkirakan bakal lebih parah. Bahkan ber­potensi memutus akses jalan.

Tanah yang amblas itu mencip­takan ruang cukup besar di bawah jalan. Sewaktu-waktu bisa ambrol begitu saja. Untuk menghindari korban jiwa, warga berupaya membuat dan memasang rambu tanda bahaya di sekitar jalan. Aki­batnya, jalan hanya mampu menampung satu lajur. Kendaraan dipaksa mengantre agar dapat maju secara bergantian.

”Kami belum melaporkan jalan yang bolong itu kepada pihak desa. Kalau dibiarkan saja jalan tersebut bisa memakan korban,” ujarnya.

Warsito, 47, pengendara truk me­nyebut, amblasnya jalan aspal tersebut lantaran rusaknya gorong-gorong. Sehingga membuat aspal di atasnya merosot ke bawah dan menciptakan lubang cukup dalam dan lebar. Struktur tanahnya relatif labil. Akibatnya, begitu tergerus air dalam waktu lama, tanah lang­sung rontok.

”Akses jalur itu sangat penting. Sebab sebagai penghubung dengan desa lain. Makanya kami berharap peme­rintah segera mela­kukan perbai­kan. Karena jalan itu juga yang sering dilewati oleh truk peng­ang­kut material,” pungkasnya.

GENTENG – Jalan KH Ahmad Kholil yang menghubungkan Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran dengan Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, ambles dan berlubang kemarin (28/6). Hal itu terjadi karena penahan jalan longsor hingga sedalam satu setengah meter.

Akibatnya, pengguna jalan yang melintasi jalur tersebut harus hati-hati jika tidak ingin celaka. Menurut Suwati, 46, warga Dusun Cangaan, RT 07, RW 01, Desa Genteng Wetan, jalan tersebut baru saja ditambal sulam. Per­baikan jalan tersebut dilakukan sebelum Ramadan. Namun, seka­rang kondisinya rusak parah. Amblas dan pecah. Penyebabnya, terjadi longsor pada dasar fondasi jalan itu. ”Sudah hampir satu bulan jalan itu berlubang. Awalnya hanya amblas tapi lama-lama lubang membesar,” jelasnya.

Suwati menduga, longsornya tanah yang berfungsi sebagai penyangga jalan itu lantaran tergerus air hujan. Akibatnya, jalan tersebut berlubang dengan diameter 40 sentimeter. Beberapa kendaraan yang melewati jalan tersebut pun harus menepi karena letak jalan yang amblas berada di bagian tengah jalan. ”Jalan ter­sebut sangat berbahaya. Apalagi jika yang lewat kendaraan roda empat bermuatan berat. Bisa ter­pe­rosok,” ujarnya.

Sementara itu, agregat tanah di bawahnya habis tergerus air. Se­hingga menciptakan ruang yang cukup dalam. Jika tidak segera ditangani, kerusakan diperkirakan bakal lebih parah. Bahkan ber­potensi memutus akses jalan.

Tanah yang amblas itu mencip­takan ruang cukup besar di bawah jalan. Sewaktu-waktu bisa ambrol begitu saja. Untuk menghindari korban jiwa, warga berupaya membuat dan memasang rambu tanda bahaya di sekitar jalan. Aki­batnya, jalan hanya mampu menampung satu lajur. Kendaraan dipaksa mengantre agar dapat maju secara bergantian.

”Kami belum melaporkan jalan yang bolong itu kepada pihak desa. Kalau dibiarkan saja jalan tersebut bisa memakan korban,” ujarnya.

Warsito, 47, pengendara truk me­nyebut, amblasnya jalan aspal tersebut lantaran rusaknya gorong-gorong. Sehingga membuat aspal di atasnya merosot ke bawah dan menciptakan lubang cukup dalam dan lebar. Struktur tanahnya relatif labil. Akibatnya, begitu tergerus air dalam waktu lama, tanah lang­sung rontok.

”Akses jalur itu sangat penting. Sebab sebagai penghubung dengan desa lain. Makanya kami berharap peme­rintah segera mela­kukan perbai­kan. Karena jalan itu juga yang sering dilewati oleh truk peng­ang­kut material,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/