alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Atap Galvalum Marak, Genting Tetap Eksis

RadarBanyuwangi – Di tengah tren maraknya penggunaan baja ringan atau galvalume untuk atap rumah, ternyata tidak berpengaruh terjadap permintaan genting. Keduanya, memiliki pangsa pasar sendiri.

Nur Kholis Maksum, 39, salah satu penyedia genting di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran mengungkapkan sejak ramainya galvalume, permintaan genting di tempatnya tetap normal. “Selama ini lancar-lancar saja,” terangnya.

Menurut Kholis, penurunan permintaan genting pernah terjadi, tapi bukan karena persaingan dengan galvalume, melainkan dampak pandemi yang berlangsung hingga sekarang. “Sepi itu karena pandemi, bukan persaingan galvalume,” ungkapnya.

Sebelumnya, setiap bulan rata-rata permintaan genting di tembus hingga 20 ribu biji. Karena terpaan pandemi, permintaan menurun hingga 7.000 genting per bulan. Beruntung, saat ini kondisi sudah mulai membaik. “Sekarang sebulan bisa mengeluarkan 10 ribu,” jelasnya.

Harga genting tidak mengalami lonjakan. Dia mencontohkan, untuk harga per seribunya, genting jenis press Rp. 1,5 juta, kuwung Rp. 5 juta, mantili Rp. 2 juta, dan karangpilang Rp. 1,7 juta. “Beli seribu dilayani, beli bijian juga boleh,” terangnya.

Untuk pasar yang dilayani, masih kata dia, sebagian besar permintaan lokal mulai dari Kecamatan Kalibaru hingga daerah di Kecamatan Genteng. “Yang beli orang sini-sini saja,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Genteng.(sli/abi)

RadarBanyuwangi – Di tengah tren maraknya penggunaan baja ringan atau galvalume untuk atap rumah, ternyata tidak berpengaruh terjadap permintaan genting. Keduanya, memiliki pangsa pasar sendiri.

Nur Kholis Maksum, 39, salah satu penyedia genting di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran mengungkapkan sejak ramainya galvalume, permintaan genting di tempatnya tetap normal. “Selama ini lancar-lancar saja,” terangnya.

Menurut Kholis, penurunan permintaan genting pernah terjadi, tapi bukan karena persaingan dengan galvalume, melainkan dampak pandemi yang berlangsung hingga sekarang. “Sepi itu karena pandemi, bukan persaingan galvalume,” ungkapnya.

Sebelumnya, setiap bulan rata-rata permintaan genting di tembus hingga 20 ribu biji. Karena terpaan pandemi, permintaan menurun hingga 7.000 genting per bulan. Beruntung, saat ini kondisi sudah mulai membaik. “Sekarang sebulan bisa mengeluarkan 10 ribu,” jelasnya.

Harga genting tidak mengalami lonjakan. Dia mencontohkan, untuk harga per seribunya, genting jenis press Rp. 1,5 juta, kuwung Rp. 5 juta, mantili Rp. 2 juta, dan karangpilang Rp. 1,7 juta. “Beli seribu dilayani, beli bijian juga boleh,” terangnya.

Untuk pasar yang dilayani, masih kata dia, sebagian besar permintaan lokal mulai dari Kecamatan Kalibaru hingga daerah di Kecamatan Genteng. “Yang beli orang sini-sini saja,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Genteng.(sli/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/