alexametrics
22.3 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Buaya di Sungai Kalibaru Mati, PDHI Sebut Buaya Pemakan Manusia

BANYUWANGI – Seekor buaya muara yang ditangkap warga saat tersangkut jaring ikan di Sungai Kalibaru, Dusun Krajan, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung pada Selasa malam (23/11), pada Rabu sore (24/11) akhirnya mati.

Buaya yang masih berumur muda itu, mati saat diamankan di kantor Seksi V BKSDA Banyuwangi. Selanjutnya, buaya itu dikirim ke pusat studi di luar kampus utama (PSDKU) Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga (Unair) di Banyuwangi. “Saya dapat inormasi buaya mati itu waktu sore,” terang Kepala Seksi V BKSDA Banyuwangi, Purwantono.

Menurut Purwanto, banyak kemungkinan yang membuat buaya itu tidak bisa bertahan hidup. Untuk mengetahui penyebab kematiannya, pihaknya meminta Fakultas Kedokteran Hewan PSDKU Unair Banyuwangi untuk melakukan nekropsi atau investigasi medis. “Kami tidak tahu kondisi sebenarnya satwa itu,” jelasnya.

Purwanto mengaku sudah berupaya keras agar buaya itu tetap bisa hidup dan aman. Salah satunya, berkoordinasi dengan lembaga konservasi yang ada di Jawa Timur, seperti Seksi V KSDA Probolinggo. “Tapi buaya itu ternyata sudah mati dulu,” ungkapnya.

Jika buaya itu dikembalikan ke lokasi penemuan, Purwanto menyebut kurang tepat. Sebab, belum diketahui secara pasti kondisi di lapangan. Selain itu, bisa memicu kepanikan dan berisiko terhadap buaya atau manusia. “Kalau dilepas di tempat asal, malah ada masalah,” terangnya.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Timur IV, drh. Risa Isna Fahzia mengatakan dari foto dan video terkait buaya yang ditemukan warga di Sungai Kalibaru, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, buaya itu jenis crocodylus porosus, atau buaya muara yang suka hidup di air payau. “Buaya ini sebarannya paling luas dari Sumatera sampai Papua,” jelasnya.

Meski tinggal di air payau atau di pantai, terang dia, tapi buaya ini bisa bermigrasi ke sungai. Sifat alami ini, terjadi  bila persediaan makanan di daerah asli berkurang. Termasuk penemuan di lokasi yang jauh dari muara, itu sangat mungkin karena daya jelajah yang luas, terlebih dipicu penurunan kualitas ekosistem di daerah aslinya karena penggundulan atau pertambangan. “Sangat mungkin buaya itu migrasi ke sungai,” terangnya.

Selain itu, terang dia, faktor manusia juga sangat mungkin, seperti sengaja dibudidayakan, atau dilepaskan di lokasi tersebut. Sedangkan untuk makanan, buaya ini  memangsa satwa atau hewan yang ada di daerah muara, mulai dari amfibi, ikan, dan mamalia. Di Australia dan Indonesia, kasus buaya ini memangsa manusia juga pernah terjadi. “Buaya ini punya julukan man eater, pemakan manusia. Ada beberapa kasus menerkam manusia,” terangnya.(abi)

BANYUWANGI – Seekor buaya muara yang ditangkap warga saat tersangkut jaring ikan di Sungai Kalibaru, Dusun Krajan, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung pada Selasa malam (23/11), pada Rabu sore (24/11) akhirnya mati.

Buaya yang masih berumur muda itu, mati saat diamankan di kantor Seksi V BKSDA Banyuwangi. Selanjutnya, buaya itu dikirim ke pusat studi di luar kampus utama (PSDKU) Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga (Unair) di Banyuwangi. “Saya dapat inormasi buaya mati itu waktu sore,” terang Kepala Seksi V BKSDA Banyuwangi, Purwantono.

Menurut Purwanto, banyak kemungkinan yang membuat buaya itu tidak bisa bertahan hidup. Untuk mengetahui penyebab kematiannya, pihaknya meminta Fakultas Kedokteran Hewan PSDKU Unair Banyuwangi untuk melakukan nekropsi atau investigasi medis. “Kami tidak tahu kondisi sebenarnya satwa itu,” jelasnya.

Purwanto mengaku sudah berupaya keras agar buaya itu tetap bisa hidup dan aman. Salah satunya, berkoordinasi dengan lembaga konservasi yang ada di Jawa Timur, seperti Seksi V KSDA Probolinggo. “Tapi buaya itu ternyata sudah mati dulu,” ungkapnya.

Jika buaya itu dikembalikan ke lokasi penemuan, Purwanto menyebut kurang tepat. Sebab, belum diketahui secara pasti kondisi di lapangan. Selain itu, bisa memicu kepanikan dan berisiko terhadap buaya atau manusia. “Kalau dilepas di tempat asal, malah ada masalah,” terangnya.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Timur IV, drh. Risa Isna Fahzia mengatakan dari foto dan video terkait buaya yang ditemukan warga di Sungai Kalibaru, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, buaya itu jenis crocodylus porosus, atau buaya muara yang suka hidup di air payau. “Buaya ini sebarannya paling luas dari Sumatera sampai Papua,” jelasnya.

Meski tinggal di air payau atau di pantai, terang dia, tapi buaya ini bisa bermigrasi ke sungai. Sifat alami ini, terjadi  bila persediaan makanan di daerah asli berkurang. Termasuk penemuan di lokasi yang jauh dari muara, itu sangat mungkin karena daya jelajah yang luas, terlebih dipicu penurunan kualitas ekosistem di daerah aslinya karena penggundulan atau pertambangan. “Sangat mungkin buaya itu migrasi ke sungai,” terangnya.

Selain itu, terang dia, faktor manusia juga sangat mungkin, seperti sengaja dibudidayakan, atau dilepaskan di lokasi tersebut. Sedangkan untuk makanan, buaya ini  memangsa satwa atau hewan yang ada di daerah muara, mulai dari amfibi, ikan, dan mamalia. Di Australia dan Indonesia, kasus buaya ini memangsa manusia juga pernah terjadi. “Buaya ini punya julukan man eater, pemakan manusia. Ada beberapa kasus menerkam manusia,” terangnya.(abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/