alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Diguyur Hujan Deras, Tembok Pesantren Daarul Qur’an Singojuruh Ambrol

SINGOJURUH – Diduga akibat guyuran hujan lebat selama beberapa jam, tembok pembatas antara Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Qur’an milik Ustad Yusuf Mansyur dengan permukiman warga di Dusun Gombol, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh dengan panjang sekitar lima meter, ambrol pada Selasa siang (23/11).

Selain akibat hujan deras, tanah di sekitar tembok yang berdekatan dengan sungai itu juga gembur dan rawan longsor. ”Saat hujan deras daerah ini terendam air, dan tanahnya memang mudah ambrol,” jelas Teguh Sulaksono, 27, salah satu ustad dan pengurus Ponpes Daarul Qur’an.

Menurut Teguh, saat kejadian pengurus pondok bersama para santri sedang berada di ruang pembelajaran. Tidak ada yang mendengar tembok itu ambrol karena saat itu sedang hujan deras. ”Kita tahu tembok ambrol setelah hujan reda, warga banyak yang berdatangan juga,” jelasnya.

Untungnya tidak ada korban dalam peristiwa itu. Tembok yang ambrol di bagian belakang pesantren itu, selama ini area tersebut memang jarang dikunjungi para santri. Apalagi, saat itu sedang turun hujan deras. ”Pagar tembok yang ambrol itu bagian belakang,” katanya.

Teguh mengaku sudah menghubungi pengurus pondok pusat yang berlokasi di Tangerang untuk segera dilakukan perbaikan. ”Sudah kami komunikasikan, insya Allah akan segera diperbaiki. Pesantren setiap tahun melakukan pembangunan,” pungkasnya.

Sementara itu,  warga Dusun Gombol, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh yang rumahnya bersebelahan dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Qur’an, ternyata sudah lama mengkhawatirkan pagar tembok pembatas dengan perumahan penduduk. Sebab, tanah di lokasi tersebut memang rawan longsor.

Kekhawatiran itu terjadi pada Selasa siang (23/11). Sekitar pukul 14.00, pagar tembok dari beton sepanjang tiga meter ambruk. ”Suaranya (tembok yang roboh, Red) sangat keras, saya kira suara petir,” terang Poniyah, 50, warga yang rumahnya bedekatan dengan pagar tembok yang ambruk.

Poniyah mengaku, saat kejadian dia sedang berada di dapur yang tidak jauh dengan pagar yang ambruk itu. ”Untungnya tidak ada warga di sekitar sungai,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Pagar tembok milik Ponpes Daarul Qur’an yang ambruk itu, lokasinya berada di samping sungai kecil yang biasa digunakan warga untuk mencuci baju. Bahkan, tidak jarang anak-anak sekitar mandi atau bermain air di lokasi tersebut. ”Warga di sini sudah biasa mandi atau mencuci baju di situ,” jelasnya. (mg3/abi)

SINGOJURUH – Diduga akibat guyuran hujan lebat selama beberapa jam, tembok pembatas antara Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Qur’an milik Ustad Yusuf Mansyur dengan permukiman warga di Dusun Gombol, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh dengan panjang sekitar lima meter, ambrol pada Selasa siang (23/11).

Selain akibat hujan deras, tanah di sekitar tembok yang berdekatan dengan sungai itu juga gembur dan rawan longsor. ”Saat hujan deras daerah ini terendam air, dan tanahnya memang mudah ambrol,” jelas Teguh Sulaksono, 27, salah satu ustad dan pengurus Ponpes Daarul Qur’an.

Menurut Teguh, saat kejadian pengurus pondok bersama para santri sedang berada di ruang pembelajaran. Tidak ada yang mendengar tembok itu ambrol karena saat itu sedang hujan deras. ”Kita tahu tembok ambrol setelah hujan reda, warga banyak yang berdatangan juga,” jelasnya.

Untungnya tidak ada korban dalam peristiwa itu. Tembok yang ambrol di bagian belakang pesantren itu, selama ini area tersebut memang jarang dikunjungi para santri. Apalagi, saat itu sedang turun hujan deras. ”Pagar tembok yang ambrol itu bagian belakang,” katanya.

Teguh mengaku sudah menghubungi pengurus pondok pusat yang berlokasi di Tangerang untuk segera dilakukan perbaikan. ”Sudah kami komunikasikan, insya Allah akan segera diperbaiki. Pesantren setiap tahun melakukan pembangunan,” pungkasnya.

Sementara itu,  warga Dusun Gombol, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh yang rumahnya bersebelahan dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Qur’an, ternyata sudah lama mengkhawatirkan pagar tembok pembatas dengan perumahan penduduk. Sebab, tanah di lokasi tersebut memang rawan longsor.

Kekhawatiran itu terjadi pada Selasa siang (23/11). Sekitar pukul 14.00, pagar tembok dari beton sepanjang tiga meter ambruk. ”Suaranya (tembok yang roboh, Red) sangat keras, saya kira suara petir,” terang Poniyah, 50, warga yang rumahnya bedekatan dengan pagar tembok yang ambruk.

Poniyah mengaku, saat kejadian dia sedang berada di dapur yang tidak jauh dengan pagar yang ambruk itu. ”Untungnya tidak ada warga di sekitar sungai,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Pagar tembok milik Ponpes Daarul Qur’an yang ambruk itu, lokasinya berada di samping sungai kecil yang biasa digunakan warga untuk mencuci baju. Bahkan, tidak jarang anak-anak sekitar mandi atau bermain air di lokasi tersebut. ”Warga di sini sudah biasa mandi atau mencuci baju di situ,” jelasnya. (mg3/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/