alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Tiga Virus Penyerang Tanaman Cabai

TEGALSARI, Radar Genteng – Sejak awal Juni 2022 harga cabai mengalami kenaikan, baik cabai rawit maupun cabai merah akibat stok di pasaran yang menipis. Itu akibat penurunan hasil panen cabai karena terserang berbagai penyakit.

Salah satu petani cabai, Hardian, 26, warga Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, mengatakan ada tiga jenis penyakit yang sering menyerang tanaman cabai, yaitu penyakit layu fusarium yang menyerang akar tanaman cabai, penyakit phytophthora yang menyerang daun dan batang, dan penyakit antraknosa yang menyerang cabai hingga bercak-bercak seperti cacar. “Ketiga penyakit itu yang sering mengakibatkan produktivitas panen cabai menurun,” terang petani yang sudah sering menanam cabai sejak masih SMP itu.

Menurut Hardian, selain ketiga penyakit itu masih ada penyakit lain yang juga sering menyerang tanaman cabai milik petani. Yang pasti, penyebab utama penyakit itu karena ada virus yang hidup akibat suhu kelembaban yang terlalu tinggi akibat curah hujan yang sangat tinggi. “Seharusnya menanam cabai ketika curah hujan rendah,” ujarnya.

Baca Juga :  Penjual dan Pemasok Cabai Mengadu ke Polresta Banyuwangi

Cara yang untuk mengantisipasinya, terang dia, dengan mengurangi genangan air yang masuk ke parit tanaman cabai. Kemudian, pemberian pupuk cair dan disiramkan pada akar. Saat akar tanaman sudah terserang penyakit fusarium, proses pertumbuhan tanaman akan lambat dan tanaman mengering sampai akhirnya mati. “Biasanya umur 75 hari setelah tanam (HST) sudah bisa dipanen, gara-gara fusarium bisa mencapai 90 hari baru bisa panen,” jelasnya.

Parahnya lagi, ketika tanaman sudah terserang penyakit fusarium, itu akan merambat kepada tanaman lain dengan sangat cepat. Sehingga, harus mendapat penanganan dengan cepat. Belum lagi ketika saat berumur 45 HST, biasanya tanaman terserang penyakit phytophthora yang mengakibatkan bercak kuning pada daun cabai, dan akan terus bergulir sampai masa panen tiba. Sehingga, cabai akan terserang cacar atau penyakit antraknosa. “Penanganan yang bisa saya lakukan memberikan pupuk semprot secara rutin agar bisa menghilangkan penyakit,” jelasnya.

Baca Juga :  Panitia Pendataan Rumah Rusak Lambat

Meski tanaman cabai mendapat perawatan serius dan disemprot berkali-kali, jelas dia, kalau melihat cuaca yang tidak menentu, hasil panen tidak akan maksimal. Sebab, ketika harga cabai naik berarti jumlah panen petani sedang turun. “Tapi setidaknya dengan memberikan perawatan secara ekstra, panen cabai bisa sedikit lebih maksimal,” ujarnya.

Dian mengaku pernah mendapatkan hasil panen yang maksimal saat keadaan alam sedang mendukung, dan tidak terlalu memberikan perawatan yang maksimal. Tapi saat itu harga cabai Rp 15 ribu per kilogram, dan pernah hasil panen tidak terlalu bagus harganya sekitar Rp 30 ribu per kilogram. “Saya bertani cabai bukan melihat harga, tapi karena sudah menjadi pekerjaan,” pungkasnya.(mg5/abi)

TEGALSARI, Radar Genteng – Sejak awal Juni 2022 harga cabai mengalami kenaikan, baik cabai rawit maupun cabai merah akibat stok di pasaran yang menipis. Itu akibat penurunan hasil panen cabai karena terserang berbagai penyakit.

Salah satu petani cabai, Hardian, 26, warga Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, mengatakan ada tiga jenis penyakit yang sering menyerang tanaman cabai, yaitu penyakit layu fusarium yang menyerang akar tanaman cabai, penyakit phytophthora yang menyerang daun dan batang, dan penyakit antraknosa yang menyerang cabai hingga bercak-bercak seperti cacar. “Ketiga penyakit itu yang sering mengakibatkan produktivitas panen cabai menurun,” terang petani yang sudah sering menanam cabai sejak masih SMP itu.

Menurut Hardian, selain ketiga penyakit itu masih ada penyakit lain yang juga sering menyerang tanaman cabai milik petani. Yang pasti, penyebab utama penyakit itu karena ada virus yang hidup akibat suhu kelembaban yang terlalu tinggi akibat curah hujan yang sangat tinggi. “Seharusnya menanam cabai ketika curah hujan rendah,” ujarnya.

Baca Juga :  Identitas Mayat Tanpa Busana Masih Gelap

Cara yang untuk mengantisipasinya, terang dia, dengan mengurangi genangan air yang masuk ke parit tanaman cabai. Kemudian, pemberian pupuk cair dan disiramkan pada akar. Saat akar tanaman sudah terserang penyakit fusarium, proses pertumbuhan tanaman akan lambat dan tanaman mengering sampai akhirnya mati. “Biasanya umur 75 hari setelah tanam (HST) sudah bisa dipanen, gara-gara fusarium bisa mencapai 90 hari baru bisa panen,” jelasnya.

Parahnya lagi, ketika tanaman sudah terserang penyakit fusarium, itu akan merambat kepada tanaman lain dengan sangat cepat. Sehingga, harus mendapat penanganan dengan cepat. Belum lagi ketika saat berumur 45 HST, biasanya tanaman terserang penyakit phytophthora yang mengakibatkan bercak kuning pada daun cabai, dan akan terus bergulir sampai masa panen tiba. Sehingga, cabai akan terserang cacar atau penyakit antraknosa. “Penanganan yang bisa saya lakukan memberikan pupuk semprot secara rutin agar bisa menghilangkan penyakit,” jelasnya.

Baca Juga :  Semeru Erupsi, Status Gunung Raung Masih Normal

Meski tanaman cabai mendapat perawatan serius dan disemprot berkali-kali, jelas dia, kalau melihat cuaca yang tidak menentu, hasil panen tidak akan maksimal. Sebab, ketika harga cabai naik berarti jumlah panen petani sedang turun. “Tapi setidaknya dengan memberikan perawatan secara ekstra, panen cabai bisa sedikit lebih maksimal,” ujarnya.

Dian mengaku pernah mendapatkan hasil panen yang maksimal saat keadaan alam sedang mendukung, dan tidak terlalu memberikan perawatan yang maksimal. Tapi saat itu harga cabai Rp 15 ribu per kilogram, dan pernah hasil panen tidak terlalu bagus harganya sekitar Rp 30 ribu per kilogram. “Saya bertani cabai bukan melihat harga, tapi karena sudah menjadi pekerjaan,” pungkasnya.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/