alexametrics
24 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Rusak Sesaji Demi Konten, Viral di Medsos, Dipanggil Polisi

TEGALDLIMO – Ini jadi peringatan pada semua agar berhati-hati dalam bermain konten di media sosial (medsos). Bila tidak, akan berurusan dengan kepolisian seperti yang dialami pelajar bernisial SBR, 17, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.

SBR bersama beberapa temannya, dipanggil ke Polsek Tegaldlimo karena diduga telah melakukan perusakan sesaji di Situs Kawitan Pura Giri Salaka Alas Purwo daerah Taman Nasional Alas Purwo (TN AP), wilayah Desa Kalipahit, Kecamatan Tegaldlimo.

Dan aksinya itu, direkam dan videoanya diunggah di medsos dan sempat viral pada Senin (21/3/2022). Atas perbuatannya itu, tim cyber polsek bertindak. Pada Rabu 23/3), SBR bersama pihak yang terkait dalam video itu dipanggil ke Polsek Tegaldlimo untuk dimintai keterangan. “Kita langsung bertindak,” cetus Kapolsek Tegaldlimo, AKP Bambang Suprapto.

Dalam video itu, pelaku yang masih duduk di bangku kelas XI salah satu SMK di Banyuwangi, merusak sesajen di Situs Kawitan Alas Purwo dengan menggunakan pakaian adat Jawa. Dalam video itu, juga terekam sesaji berhamburan setelah dipukul dengan tangan. “Pelaku sudah mengakui perusakan sesaji di Situs Kawitan Pura Giri Salaka Alas Purwo,” katanya.

Dalam keterangannya pada polisi, terang Kapolsek, pelaku datang ke Alas Purwo bersama beberapa temannya. Yang merekam video, selanjutnya diunggah di medsos itu temannya  Nur Fadli, 26, yang tinggal di satu kampung. “Yang ambil gambar temannya,” terangnya, Kamis (24/3/2022).

Motif pelaku melakukan perusakan sesaji itu, jelas Kapolsek, sebenarnya tidak ada niat merusak atau merendahkan. Itu karena mental remaja itu yang masih labil sehingga mengikuti tren di medsos. “Dari pengakuannya, membanting sesajen untuk menunjukan kepada Nur Fadli bahwa dia tidak percaya kalau merusak sesajen akan kesurupan,” jelasnya.

Untuk menjaga kondusifitas di tengah masyarakat, pihaknya mengundang SBR bersama beberapa temannya yang membuat video ke polsek dan minta maaf. Dalam klarifikasi itu, juha hadir Joko Setioso, 57, dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Tegaldlimo. “Sejumlah pihak kita undang,” terangnya.

Kapolsek menyebut dalam kasus ini pelaku masih berstatus pelajar dan berusia di bawah umur. Sehingga, dalam perkara ini diselesaikan secara kekeluargaan. “PHDI menerima permintaan maaf, dan sepakat penyelesaian secara kekeluargaan,” ungkapnya.(sas/abi)

TEGALDLIMO – Ini jadi peringatan pada semua agar berhati-hati dalam bermain konten di media sosial (medsos). Bila tidak, akan berurusan dengan kepolisian seperti yang dialami pelajar bernisial SBR, 17, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.

SBR bersama beberapa temannya, dipanggil ke Polsek Tegaldlimo karena diduga telah melakukan perusakan sesaji di Situs Kawitan Pura Giri Salaka Alas Purwo daerah Taman Nasional Alas Purwo (TN AP), wilayah Desa Kalipahit, Kecamatan Tegaldlimo.

Dan aksinya itu, direkam dan videoanya diunggah di medsos dan sempat viral pada Senin (21/3/2022). Atas perbuatannya itu, tim cyber polsek bertindak. Pada Rabu 23/3), SBR bersama pihak yang terkait dalam video itu dipanggil ke Polsek Tegaldlimo untuk dimintai keterangan. “Kita langsung bertindak,” cetus Kapolsek Tegaldlimo, AKP Bambang Suprapto.

Dalam video itu, pelaku yang masih duduk di bangku kelas XI salah satu SMK di Banyuwangi, merusak sesajen di Situs Kawitan Alas Purwo dengan menggunakan pakaian adat Jawa. Dalam video itu, juga terekam sesaji berhamburan setelah dipukul dengan tangan. “Pelaku sudah mengakui perusakan sesaji di Situs Kawitan Pura Giri Salaka Alas Purwo,” katanya.

Dalam keterangannya pada polisi, terang Kapolsek, pelaku datang ke Alas Purwo bersama beberapa temannya. Yang merekam video, selanjutnya diunggah di medsos itu temannya  Nur Fadli, 26, yang tinggal di satu kampung. “Yang ambil gambar temannya,” terangnya, Kamis (24/3/2022).

Motif pelaku melakukan perusakan sesaji itu, jelas Kapolsek, sebenarnya tidak ada niat merusak atau merendahkan. Itu karena mental remaja itu yang masih labil sehingga mengikuti tren di medsos. “Dari pengakuannya, membanting sesajen untuk menunjukan kepada Nur Fadli bahwa dia tidak percaya kalau merusak sesajen akan kesurupan,” jelasnya.

Untuk menjaga kondusifitas di tengah masyarakat, pihaknya mengundang SBR bersama beberapa temannya yang membuat video ke polsek dan minta maaf. Dalam klarifikasi itu, juha hadir Joko Setioso, 57, dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Tegaldlimo. “Sejumlah pihak kita undang,” terangnya.

Kapolsek menyebut dalam kasus ini pelaku masih berstatus pelajar dan berusia di bawah umur. Sehingga, dalam perkara ini diselesaikan secara kekeluargaan. “PHDI menerima permintaan maaf, dan sepakat penyelesaian secara kekeluargaan,” ungkapnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/