alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Harga Semangka Masih Anjlok, Petani Tetap Nekat Tanam Lagi

MUNCAR – Meski baru panen raya seminggu lalu, sejumlah petani semangka di Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mulai menanam buah semangka secara serentak, Kamis (17/2).

Percepatan menanam ini, dilakukan untuk mengejar masa panen saat kemarau pada tiga bulan lagi. “Kalau musim kemarau, harga semangka cenderung mahal dibanding saat musim hujan,” cetus Khusnul, 37, asal Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo.

Harga buah semangko yang anjloknya pada dua musim panen terakhir, terang dia, menjadi pil pahit bagi para petani semangka. Mahalnya harga pupuk, membuat biaya produksi membengkak, dan itu memperparah harga semangka yang murah di pasaran. “Dua panen memang pas musim hujan, jadi harganya murah,” terangnya.

Masa panen kemarin, terang Khusnul, satu kilogram semangka hanya dihargai Rp Rp 2.800 saja. Padahal, agar bisa merasakan manisnya keuntungan semangka, harusnya harga semangka itu Rp 4.000 per kilogramnya. “Saat panen kemarin harganya malah sempat Rp 1000 per kilogram,” katanya.

Petani semangka lainnya, Meseri, 55 asal Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, berharap di masa panen, atau sekitar tiga bulan lagi, harga semangka bisa terangkat. “Doanya cuma satu, bisa dapat harga mahal, itu saja,” ungkapnya.

Menurut Meseri, harga semangka dua panen yang anjlok,  berbarengan dengan naiknya harga pupuk dan pestisida nonsubsidi. Saat ini, harga pupuk Rp 650.000 per sak. Padahal sebelumnya hanya sekitar Rp 400.000 saja. “Itu bukan naik lagi, tapi ganti harga,” cetusnya.

Meseri menyebut, sebagian besar petani yang menanam semangka ini modal yang digunakan menggunakan pinjaman KUR. “Kalau harga masih seperti ini, kami tidak tahu bagaimana cara mencicil KUR itu,” pungkasnya.(sas/abi)

MUNCAR – Meski baru panen raya seminggu lalu, sejumlah petani semangka di Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mulai menanam buah semangka secara serentak, Kamis (17/2).

Percepatan menanam ini, dilakukan untuk mengejar masa panen saat kemarau pada tiga bulan lagi. “Kalau musim kemarau, harga semangka cenderung mahal dibanding saat musim hujan,” cetus Khusnul, 37, asal Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo.

Harga buah semangko yang anjloknya pada dua musim panen terakhir, terang dia, menjadi pil pahit bagi para petani semangka. Mahalnya harga pupuk, membuat biaya produksi membengkak, dan itu memperparah harga semangka yang murah di pasaran. “Dua panen memang pas musim hujan, jadi harganya murah,” terangnya.

Masa panen kemarin, terang Khusnul, satu kilogram semangka hanya dihargai Rp Rp 2.800 saja. Padahal, agar bisa merasakan manisnya keuntungan semangka, harusnya harga semangka itu Rp 4.000 per kilogramnya. “Saat panen kemarin harganya malah sempat Rp 1000 per kilogram,” katanya.

Petani semangka lainnya, Meseri, 55 asal Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, berharap di masa panen, atau sekitar tiga bulan lagi, harga semangka bisa terangkat. “Doanya cuma satu, bisa dapat harga mahal, itu saja,” ungkapnya.

Menurut Meseri, harga semangka dua panen yang anjlok,  berbarengan dengan naiknya harga pupuk dan pestisida nonsubsidi. Saat ini, harga pupuk Rp 650.000 per sak. Padahal sebelumnya hanya sekitar Rp 400.000 saja. “Itu bukan naik lagi, tapi ganti harga,” cetusnya.

Meseri menyebut, sebagian besar petani yang menanam semangka ini modal yang digunakan menggunakan pinjaman KUR. “Kalau harga masih seperti ini, kami tidak tahu bagaimana cara mencicil KUR itu,” pungkasnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/