alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Alarm BSI Berbunyi Dikira Tanda Tsunami, Warga Pancer Pun Mengungsi

Radar Genteng – Gempa bumi berkekuatan 5,0 Skala Richter (SR) yang berpusat di Bali Region, ternyata berpengaruh di wilayah pesisir Pantai Selatan Banyuwangi. Puluhan warga yang tinggal di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, berlarian menuju perbukitan karena takut ada tsunami, Rabu (24/7).

Warga memilih berlindung ke Gunung Salak begitu mendengar alarm tsunami yang dipasang di sekitar wisata Pantai Pulau Merah itu berbunyi. ”Sekitar pukul 08.30, warga mendengar suara alarm tsunami berbunyi, warga menduga itu peringatan akan ada tsunami,” ujar Wahyudi, 42, warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Mendengar ada alarm tsunami, terang Wahyudi, warga panik dan berteriak minta tolong. Mereka juga semburat dengan lari ke arah perbukitan. ”Warga langsung lari dengan membawa berbagai barang yang dapat diselamatkan,” ungkapnya.

Tidak hanya warga, para siswa di sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang ada di Desa Sumberagung juga panik. Mereka lari menuju lapangan terbuka untuk menyelamatkan diri. ”Saya mengungsi ke bukit yang ditanami buah naga,” terang Saniyem, 35, warga lainnya.

Selain berupaya menyelamatkan anaknya yang masih berusia empat tahun, Saniyem juga sempat membawa tas yang berisi surat-surat berharga seperti ijazah, BPKB, dan sertifikat tanah. ”Semua surat-surat penting saya bawa. Semuanya saya masukan dalam tas,” katanya.

Saat alarm tanda tsunami itu berbunyi, Saniyem mengaku sedang memasak di dapur rumahnya. Saat itu juga, ia langsung berteriak mencari anaknya dan membawa tas yang berisi surat-surat penting. ”Kami ingin menyelamatkan diri,” ujarnya.

Kepala Desa Sumberagung Vivin Agustin mengatakan, alarm yang berbunyi itu sebenarnya bukan alarm Early Warning System (EWS) milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi. Melainkan alarm milik PT Bumi Suksesindo (BSI), perusahaan tambang emas di dekat Pulau Merah. ”Alarm itu berbunyi nyaring karena ada peringatan gempa, itu untuk memberi tanda kepada karyawan PT BSI agar segera berkumpul di assembly point,” ungkapnya.

Menurut Vivin, warga yang mengungsi ke perbukitan saat alarm berbunyi itu berjumlah sekitar 600 orang yang semuanya tinggal di Dusun Pancer, Desa Sumberagung. ”Warga salah sangka, mereka mengira suara alarm itu peringatan tsunami,” terangnya.

Vivin menyebut pemerintah desa dan BPBD Banyuwangi sudah berkeliling ke permukiman warga untuk menginformasikan tidak ada tsunami. Warga yang mengungsi di bukit dan kebun buah naga diminta untuk kembali ke rumah masing-masing. ”Warga ada yang panik dan membawa semua perbekalan,” pungkasnya.

Radar Genteng – Gempa bumi berkekuatan 5,0 Skala Richter (SR) yang berpusat di Bali Region, ternyata berpengaruh di wilayah pesisir Pantai Selatan Banyuwangi. Puluhan warga yang tinggal di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, berlarian menuju perbukitan karena takut ada tsunami, Rabu (24/7).

Warga memilih berlindung ke Gunung Salak begitu mendengar alarm tsunami yang dipasang di sekitar wisata Pantai Pulau Merah itu berbunyi. ”Sekitar pukul 08.30, warga mendengar suara alarm tsunami berbunyi, warga menduga itu peringatan akan ada tsunami,” ujar Wahyudi, 42, warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Mendengar ada alarm tsunami, terang Wahyudi, warga panik dan berteriak minta tolong. Mereka juga semburat dengan lari ke arah perbukitan. ”Warga langsung lari dengan membawa berbagai barang yang dapat diselamatkan,” ungkapnya.

Tidak hanya warga, para siswa di sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang ada di Desa Sumberagung juga panik. Mereka lari menuju lapangan terbuka untuk menyelamatkan diri. ”Saya mengungsi ke bukit yang ditanami buah naga,” terang Saniyem, 35, warga lainnya.

Selain berupaya menyelamatkan anaknya yang masih berusia empat tahun, Saniyem juga sempat membawa tas yang berisi surat-surat berharga seperti ijazah, BPKB, dan sertifikat tanah. ”Semua surat-surat penting saya bawa. Semuanya saya masukan dalam tas,” katanya.

Saat alarm tanda tsunami itu berbunyi, Saniyem mengaku sedang memasak di dapur rumahnya. Saat itu juga, ia langsung berteriak mencari anaknya dan membawa tas yang berisi surat-surat penting. ”Kami ingin menyelamatkan diri,” ujarnya.

Kepala Desa Sumberagung Vivin Agustin mengatakan, alarm yang berbunyi itu sebenarnya bukan alarm Early Warning System (EWS) milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi. Melainkan alarm milik PT Bumi Suksesindo (BSI), perusahaan tambang emas di dekat Pulau Merah. ”Alarm itu berbunyi nyaring karena ada peringatan gempa, itu untuk memberi tanda kepada karyawan PT BSI agar segera berkumpul di assembly point,” ungkapnya.

Menurut Vivin, warga yang mengungsi ke perbukitan saat alarm berbunyi itu berjumlah sekitar 600 orang yang semuanya tinggal di Dusun Pancer, Desa Sumberagung. ”Warga salah sangka, mereka mengira suara alarm itu peringatan tsunami,” terangnya.

Vivin menyebut pemerintah desa dan BPBD Banyuwangi sudah berkeliling ke permukiman warga untuk menginformasikan tidak ada tsunami. Warga yang mengungsi di bukit dan kebun buah naga diminta untuk kembali ke rumah masing-masing. ”Warga ada yang panik dan membawa semua perbekalan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/