24 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Di Cluring Ada 117 Balita Berstatus Stunting

 

CLURING, Jawa Pos Radar Genteng – Angka bayi di bawah lima tahun (balita) yang berstatus stunting, ternyata cukup tinggi di wilayah Kecamatan Cluring. Malahan, jumlahnya itu tertinggi di telatah Bumi Blambangan ini.

Saat ini ada 3.500 balita di Kabupaten Banyuwangi. Dari jumlah itu, 357 balita mengalami stunting, dan dari anak yang terkena stunting itu 117 di antaranya berada di wilayah Kecamatan Cluring. “Sekitar 357 balita di Banyuwnagi berstatus stunting,” ungkapnya Selasa (24/1).

Tatik mengakui dari 357 balita yang stunting itu, 117 anak ada di wilayahnya dan kini menjadi perhatian khusus untuk ditangani. “Ratusan balita stunting di wilayah Kecamatan Cluring itu perlu penanganan,” ujarnya.

Baca Juga :  Diburu DC Bank Plecit, Warga Mengadu ke Desa dan Polsek

Meski jumlah balitan stunting tertinggi, Tatik menyebut itu menjadi penyemangat dalam penanganan stunting. “Tidak perlu berkecil hati, ini membuktikan kami bekerja keras untuk menurunkan jumlah balita stunting,” tuturnya.

Sekretaris Kecamatan Sekcam) Cluring Titik Handayani mengatakan, program penurunan stunting merupakan program yang berkelanjutan. “Sudah dilakukan pada 2022, dan dilanjutkan tahun ini,” terangnya.

Menurut Titik, Pemerintah Kecamatan Cluring pada 2023 dilibatkan dalam program penanganan stunting itu. “Sasaran program ini bayi di bawah dua tahun (baduta) dan ibu hamil berisiko tinggi (bumil resti),” ujarnya.

Saat ini jumlah bumil resti, jelas dia, di Kecamatan Cluring berjumlah sekitar 20 orang. Untuk penanganannya, telah disiapkan anggaran. “Kita tangani para bumil resti dan baduta,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pengedar Pil Koplo Diringkus, Polisi Sita 952 Butir Barang Bukti

Bumil resti dimasukkan dalam sasaran stunting, masih kata dia, karena penyebab stunting tidak hanya saat anak sudah lahir, tapi sejak bayi masih dalam kandungan. “Para bumil resti dan baduta  akan mendapatkan program sejenis rantang kasih dengan anggaran Rp 15 ribu per orang selama sebelas bulan,” katanya.

Untuk kepastian jumlah bumil resti dan baduta, pihaknya akan minta data pada Puskesmas Benculuk dan Tampo. Dengan data itu, program dapat segera dilaksanakan. “Kami hanya punya waktu tujuh hari kalender untuk menyeleksi penyedia yang tepat di setiap desa,” pungkasnya.(gas/abi)

 

CLURING, Jawa Pos Radar Genteng – Angka bayi di bawah lima tahun (balita) yang berstatus stunting, ternyata cukup tinggi di wilayah Kecamatan Cluring. Malahan, jumlahnya itu tertinggi di telatah Bumi Blambangan ini.

Saat ini ada 3.500 balita di Kabupaten Banyuwangi. Dari jumlah itu, 357 balita mengalami stunting, dan dari anak yang terkena stunting itu 117 di antaranya berada di wilayah Kecamatan Cluring. “Sekitar 357 balita di Banyuwnagi berstatus stunting,” ungkapnya Selasa (24/1).

Tatik mengakui dari 357 balita yang stunting itu, 117 anak ada di wilayahnya dan kini menjadi perhatian khusus untuk ditangani. “Ratusan balita stunting di wilayah Kecamatan Cluring itu perlu penanganan,” ujarnya.

Baca Juga :  Korban Tinggalkan Rumah Tanpa Pamit, Pencarian dengan Menabuh Kentongan

Meski jumlah balitan stunting tertinggi, Tatik menyebut itu menjadi penyemangat dalam penanganan stunting. “Tidak perlu berkecil hati, ini membuktikan kami bekerja keras untuk menurunkan jumlah balita stunting,” tuturnya.

Sekretaris Kecamatan Sekcam) Cluring Titik Handayani mengatakan, program penurunan stunting merupakan program yang berkelanjutan. “Sudah dilakukan pada 2022, dan dilanjutkan tahun ini,” terangnya.

Menurut Titik, Pemerintah Kecamatan Cluring pada 2023 dilibatkan dalam program penanganan stunting itu. “Sasaran program ini bayi di bawah dua tahun (baduta) dan ibu hamil berisiko tinggi (bumil resti),” ujarnya.

Saat ini jumlah bumil resti, jelas dia, di Kecamatan Cluring berjumlah sekitar 20 orang. Untuk penanganannya, telah disiapkan anggaran. “Kita tangani para bumil resti dan baduta,” ungkapnya.

Baca Juga :  50 Warga Mengungsi di Kantor Desa Kandangan

Bumil resti dimasukkan dalam sasaran stunting, masih kata dia, karena penyebab stunting tidak hanya saat anak sudah lahir, tapi sejak bayi masih dalam kandungan. “Para bumil resti dan baduta  akan mendapatkan program sejenis rantang kasih dengan anggaran Rp 15 ribu per orang selama sebelas bulan,” katanya.

Untuk kepastian jumlah bumil resti dan baduta, pihaknya akan minta data pada Puskesmas Benculuk dan Tampo. Dengan data itu, program dapat segera dilaksanakan. “Kami hanya punya waktu tujuh hari kalender untuk menyeleksi penyedia yang tepat di setiap desa,” pungkasnya.(gas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/