30.8 C
Banyuwangi
Tuesday, March 21, 2023

Jembatan Gantung Mbok Kayah, Satu-Satunya Penghubung Dusun Bayatrejo & Rumping

RADAR GENTENG – Jembatan gantung Mbok Kayah di Sungai Setail yang menghubungkat Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo dengan Dusun Rumping, Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, ini sudah berumur puluhan tahun dan ramai dilewati warga.

Nama jembatan gantung Mbok Kayah sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar Banyuwangi selatan. Jembatan yang dibangun dengan bahan dari bamboo dan tali dari besi itu, menjadi jalur alternatif bagi warga di Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, dan Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, serta warga lainnya.

Jembatan gantung itu dikelola oleh warga. Bila ada yang rusak, diperbaiki oleh warga dengan dana dari sumbangan orang yang melintas. “Orang yang lewat jembatan banyak yang memberi uang,” terang Suwarti, 70, yang bertugas menjaga kotak amal bagi warga yang akan memberi sumbangan.

Suwarti yang tinggal di Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, sudah puluhan tahun puluhan tahun dipercaya menjaga dan memperbaiki kerusakan kecil pada bagian jembatan tersebut. “Saya sudah lama dipercaya menjaga jembatan ini,” kata nenek itu.

Baca Juga :  Jembatan Gantung Sudah Bisa Dilewati

Setiap hari nenek ini mulai bekerja menjaga kotak amal sekitar pukul 06.00 dan terkadang hingga malam. Karena jembatan ini, dilewati warga mulai pagi sampai larut malam.. “Pekerjaan ini saya jalani sejak 1980-an,” tuturnya sambil mengingat saat pertama menjaga kotak amal.

Sebagai penjaga, nenek itu memastikan masyarakat yang akan melewati jembatan gantung dengan bergantian. Sebab, jembatan Mbok Kayah dengan panjang 25 meter dan lebar dua meter itu, sangat berbahaya bila warga melintas ramai-ramai. “Jembatan ini pilarnya dari batang bambu, tapak jalan dari gedhek (anyaman bambu),” terangnya.

Dalam sehari ada puluhan pengendara dan orang yang melintas di jembatan gantung. Setiap orang, biasanya memberi uang sebesar Rp 2000. “Ini buat biaya memperbaiki jembatan kalau ada kerusakan,” katanya.

Baca Juga :  Perbaiki Antena Radio Amatir, Terjatuh, Meninggal Seketika

Jembatan Mbok Kayah ini dibangun sejak kepala Desa Wringinpitu dijabat Riyanto, atau antara 1970 hingga awal 1980-an. Saat itu, Riyanto menyiapkan dana dan minta warga membuat jembatan. “Pak Lurah membayar warga untuk membuat jembatan,” jelasnya.

Untuk penamaan Mbok Kayah, Suwarti tidak mengetahui secara pasti asalnya. Tapi dari cerita masyarakat setempat, nama itu salah satu tokoh yang membuka Desa Wringinpitu. “Katanya beliau (Mbok Kayah) itu salah satu yang babat desa,” tuturnya.

Meski sudah lama menjaga dan merawat jembatan gantung Mbok Kayah, Suwarti berharap jembatan tersebut bisa dibangun secara permanen. “Saya malah senang kalau dibangun, ada jalan yang lebih cepat menuju ke Muncar atau ke Cluring,” katanya. (gas/abi)

RADAR GENTENG – Jembatan gantung Mbok Kayah di Sungai Setail yang menghubungkat Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo dengan Dusun Rumping, Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, ini sudah berumur puluhan tahun dan ramai dilewati warga.

Nama jembatan gantung Mbok Kayah sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar Banyuwangi selatan. Jembatan yang dibangun dengan bahan dari bamboo dan tali dari besi itu, menjadi jalur alternatif bagi warga di Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, dan Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, serta warga lainnya.

Jembatan gantung itu dikelola oleh warga. Bila ada yang rusak, diperbaiki oleh warga dengan dana dari sumbangan orang yang melintas. “Orang yang lewat jembatan banyak yang memberi uang,” terang Suwarti, 70, yang bertugas menjaga kotak amal bagi warga yang akan memberi sumbangan.

Suwarti yang tinggal di Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, sudah puluhan tahun puluhan tahun dipercaya menjaga dan memperbaiki kerusakan kecil pada bagian jembatan tersebut. “Saya sudah lama dipercaya menjaga jembatan ini,” kata nenek itu.

Baca Juga :  Jembatan Gantung Kandangan Dipindah

Setiap hari nenek ini mulai bekerja menjaga kotak amal sekitar pukul 06.00 dan terkadang hingga malam. Karena jembatan ini, dilewati warga mulai pagi sampai larut malam.. “Pekerjaan ini saya jalani sejak 1980-an,” tuturnya sambil mengingat saat pertama menjaga kotak amal.

Sebagai penjaga, nenek itu memastikan masyarakat yang akan melewati jembatan gantung dengan bergantian. Sebab, jembatan Mbok Kayah dengan panjang 25 meter dan lebar dua meter itu, sangat berbahaya bila warga melintas ramai-ramai. “Jembatan ini pilarnya dari batang bambu, tapak jalan dari gedhek (anyaman bambu),” terangnya.

Dalam sehari ada puluhan pengendara dan orang yang melintas di jembatan gantung. Setiap orang, biasanya memberi uang sebesar Rp 2000. “Ini buat biaya memperbaiki jembatan kalau ada kerusakan,” katanya.

Baca Juga :  Rawan Roboh, Bangunan Tua di Genteng Dikeluhkan Warga

Jembatan Mbok Kayah ini dibangun sejak kepala Desa Wringinpitu dijabat Riyanto, atau antara 1970 hingga awal 1980-an. Saat itu, Riyanto menyiapkan dana dan minta warga membuat jembatan. “Pak Lurah membayar warga untuk membuat jembatan,” jelasnya.

Untuk penamaan Mbok Kayah, Suwarti tidak mengetahui secara pasti asalnya. Tapi dari cerita masyarakat setempat, nama itu salah satu tokoh yang membuka Desa Wringinpitu. “Katanya beliau (Mbok Kayah) itu salah satu yang babat desa,” tuturnya.

Meski sudah lama menjaga dan merawat jembatan gantung Mbok Kayah, Suwarti berharap jembatan tersebut bisa dibangun secara permanen. “Saya malah senang kalau dibangun, ada jalan yang lebih cepat menuju ke Muncar atau ke Cluring,” katanya. (gas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/