Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Genteng
icon featured
Genteng

Warga Merasa Tertipu Penambang Pasir

22 Oktober 2021, 14: 45: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Warga Merasa Tertipu Penambang Pasir

Share this      

SEMPU, Jawa Pos Radar Genteng - Sementara itu, Kuswari, 76, warga Dusun Plaosan, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, harus menerima kenyataan pahit terkait ladangnya untuk galian C. Ladang cabai garapannya yang disewa pengelola tambang pasir untuk jalan dump truck dan alat berat ke lokasi penambangan, kini terbengkalai dan sulit ditanami lagi, kemarin (20/10).

Galian C yang ada di desanya itu, sudah mandek sejak delapan bulan lalu karena penambangnya kabur. Pemilik lokasi galian C menghilang, setelah didemo warga karena tidak bayar sewa lahan selama dua kali panen. “Warga yang lahannya disewa untuk galian C itu pernah demo, penambangnya kabur,” ujar Kuswari kepada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (20/10).

Sesuai perjanjian, jelas dia, penambang pasir itu berjanji akan membayar sewa lahan antara Rp 2.5 juta hingga Rp 3 juta setiap sekali panen. Uang sewa itu, juga tergantung luasan lahan yang dipakai untuk keperluan galian C. “Kita tidak tahu penambangnya itu, dalam sewa lahan ini penambang minta tolong ke tetangga sendiri,” jelasnya. 

Baca juga: Maling Motor Babak belur Dihajar Massa

Setelah membayar sekali pada para pemilik sawah yang lahannya dipakai, jelas dia, penambang menghentikan pembayaran tanpa alasan yang jelas. “Sudah dua kali panen tidak dibayar, pemilik sawah tidak mau memberi izin kendaraan masuk ke galian C,” sebutnya.

Kuswari menyebut lahannya yang ikut disewa untuk jalan masuk ke lokasi galian C, harus merelakan lima pohon petai ditebang. Saat ini, ia merasa ditipu karena apa yang dijanjikan penambang tidak ditepati. “Pemilik lahan yang dibuat jalan ada lima orang, pemilik lahan untuk galian C satu orang, smeua merasa tertipu,” ungkapnya.  

Selain menyewa lahan milik warga, masih kata dia, penambang pasir itu pernah berjanji, sebagian dari hasil penambangan pasir ini akan disumbangkan untuk masjid dan musala yang ada di sekitar lokasi galian C. “Setiap masjid dan musala yang membutuhkan material pasir, akan disiapkan,” cetusnya.

Tapi sampai penambangan itu berhenti, janji untuk membantu masjid dan musala itu tidak pernah dilakukan. Agar lahannya bekas jalan penambangan pasir ada manfaatnya, kini ditanami pohon pisang dan singkong. “Hanya sedikit yang bisa ditanami, tanahnya telanjur keras,” keluhnya.

Kuswari kini hanya bisa pasrah haknya dari uang sewa lading dua kali panen tidak dibayar. Saat ini, akan memanfaatkan tanahnya itu agar bisa ditanami semua. “Sewa lahan milik saya itu kalau dua kali panen ya Rp 5 juta,” ungkapnya.

(bw/rbs/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia