Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Genteng
icon featured
Genteng

PT Bumi Sari Tunjukan Sertipikat HGU Resmi

21 Juli 2021, 18: 45: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PT Bumi Sari Tunjukan Sertipikat HGU Resmi

TAK INGIN ADA KONFLIK: Kepala bagian Afdeling Gunungwongso, Amal Firmasyah (kiri) dan Kepala bagian Afdeling Tamanglugo Karsidi (kanan) menunjukan sertipikat HGU resmi pengelolaan lahan oleh PT Bumi Sari Maju Sukses kemarin (12/7). (Krida Herbayu/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

RadarBanyuwangi.id – PT Bumi Sari Maju Sukses menunjukan semua sertipikat Hak Guna Usaha (HGU) lahan seluas 1.189,810 hektare yang ada di empat afdeling. Dalam setipikat itu, PT Bumi Sari Maju Sukses secara resmi berhak mengelola seluruh lahan yang terletak di tiga desa dan dua kecamatan.

Wakil Kepala Keamanan PT Bumi Sari Maju Sukses, Musahban menjelaskan akta lahan tahun 1929 yang menjadi pedoman Kelompok Rukun Tani Sumberjo, Desa Pakel, Kecamatan Licin dan ahli waris Musanef, itu dianggap kurang kuat. Sebab, lahan yang disangka warga itu salah objek dan di luar lahan HGU milik PT Bumi Sari Maju Sukses. “Jadi lahan yang selama ini menjadi konflik, itu lahan salah objek. Warga menyangka lahan itu termasuk dalam akta lahan tahun 1929,” ujarnya.

Menurut Musahban, akta lahan tahun 1929 itu berisi izin pembukaan lahan saja, dan tidak ada tulisan yang menyatakan kepemilikan lahan. Jadi, jika ada kelompok orang mengaku dan menguasai lahan HGU PT Bumi Sari Maju Sukses, itu salah besar. “HGU PT Bumi Sari Maju Sukses itu sudah resmi dan berlaku hingga tahun 2034, terletak di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Desa Pakel dan Desa Kluncing, Kecamatan Licin,” ungkapnya.

Baca juga: Di Bangorejo, Banyak Pasien Covid-19 Sembuh

Musahban menilai ada oknum yang melakukan profokasi terkait gejolak lahan tersebut. Kemudian, gejolak yang timbul di masyarakat itu dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Sebab, selama ini tidak ada gejolak yang timbul terkait konflik lahan di Desa Pakel, Kecamatan Licin. Gejolak baru terjadi sekitar tahun 2018, tepatnya pada saat pemilihan kepala desa. “Konflik itu sengaja dimanfaatkan untuk kepentingan politik,” jelas mantan Kepala Desa Pakel periode 2002 hingga 2012 itu.

Kepala bagian Afdeling Tamanglugo, PT Bumi Sari Maju Sukses Karsidi menyampaikan pihak PT Bumi Sari Maju Sukses mengalami kerugian hingga Rp 8 miliar akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik lahan itu. Selain menanami lahan secara paksa, kelompok tani itu juga membabat tanaman cengkeh yang berusia puluhan tahun. “Pihak kebun yang menjadi korban, banyak tanaman yang dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Dalam kasus perusakan lahan itu, sebenarnya PT Bumi Sari Maju Sukses sudah melaporkan ke Polresta Banyuwangi. Tapi hingga saat ini, belum ada tanggapan dari pihak yang berwajib. Pihaknya menyayangkan respon kepolisian yang kurang cepat dalam menyelesaikan konflik di Desa Pekel, Kecamatan Licin itu. “Lahan yang paling banyak dikuasai kelompok tani adalah Afdeling Tamanglugo. Dari total lahan seluas 349,779 hektare, hanya tersisa 10 hektare yang saat ini dikelola perkebunan,” cetusnya.

Karsidi menyebut, PT Bumi Sari Maju Sukses sudah melakukan proses penegakan hukum sesuai koridor hak guna usaha yang sah. Selain itu, pihaknya juga sudah melaporkan setiap kejadian dengan hukum pidana setiap perusakan tanaman perkebunan, tetapi mengalami kelambatan. Itu diduga karena kurang tegasnya penegakan hukum di Kabupaten Banyuwangi terhadap hak pengelola. Pihaknya ingin masalah itu cepat selesai agar tidak ada konflik terkait lahan milik perkebunan. “Seharusnya pihak PT Bumi Sari Maju Sukses juga mendapatkan perlindungan hukum yang sama,” pungkasnya.(kri/abi)

(bw/kri/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia