alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Ribuan Santri Ponpes Darussalam Blokagung Mudik

TEGALSARI – Memasuki masa liburan Ramadan dan Lebaran, para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darusalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, mudik bareng, Selasa (19/4). Sebanyak 6.000 santri di pesantren itu, pulang kampung dengan naik bus menuju daerahnya di sejumlah kota di Jawa dan Sumatera.

Mudik bareng liburan Ramadan dan Lebaran ini, diselenggarakan oleh pengurus pesantren agar para santri sampai di kampung halamannya dengan selamat. “Kami siapkan sekitar 52 bus untuk mengakomodasi para santri,” cetus KH Ahmad Mubasyir Syafaat, salah satu dewan pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung saat melepas para santri itu.

Saat melepas para santri itu, Gus Basyir, sapaan KH. Ahmad Mubasyir Syafaat berpesan kepada para santri yang akan mudik untuk menjaga nama baik pesantren. “Saya harap, apa yang didapatkan di pondok bisa dipraktekkan di lingkungannya. Selama di rumah tetap ngaji dan salat jamaah seperti di pesantren,” pesannya.

Ketua panitia pemulangan santri, Muhammad Burhannudin menyebut mudik bareng ini digelar pengurus pesantren bekerja sama dengan organisasi daerah (orda) asal santri. Untuk mudik bersama ini, disediakan 52 bus dengan kapasitas 35 sampai 60 tempat duduk. Bus itu mengantarkan para santri dengan tujuan Riau, Kebumen, Sumatera, Bali, Jawa Barat, dan Jakarta. “Untuk santri yang pulang ke Kalimantan, Papua, dan luar negeri sudah pesan tiket pesawat. Mereka akan kami antar sampai bandara,” ungkapnya.

Untuk santri lokal Banyuwangi, jelas dia, jadwal pemulangan masih akan dilakukan pada Rabu (20/4). Para santri ini, saat pulang harus dijemput oleh orang tuanya. “Para santri asli Banyuwangi harus dijemput orang tuanya,” ucapnya.

Langkah ini, jelas dia, ditujukan untuk memastikan keselamatan dan kedisiplinan para santri mulai dari pesantren hingga sampai di rumahnya. “Semua demi kedisiplinan, santri tidak boleh pulang tanpa penjemputan,” ucapnya.

Setiap libur Ramadan dan Lebaran, lanjut dia, tidak semua santri pulang. Sejumlah santri memilih tetap berada di pesantren, atau pulang ke rumah kerabatnya yang ada di daerah Banyuwangi. “Tahun ini diimbau untuk pulang semua. Jadi yang tidak pulang hanya sedikit. Yang tidak pulang itu santri yang biasanya mudik setiap dua atau tiga tahun sekali,” pungkasnya. (sas/abi)

TEGALSARI – Memasuki masa liburan Ramadan dan Lebaran, para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darusalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, mudik bareng, Selasa (19/4). Sebanyak 6.000 santri di pesantren itu, pulang kampung dengan naik bus menuju daerahnya di sejumlah kota di Jawa dan Sumatera.

Mudik bareng liburan Ramadan dan Lebaran ini, diselenggarakan oleh pengurus pesantren agar para santri sampai di kampung halamannya dengan selamat. “Kami siapkan sekitar 52 bus untuk mengakomodasi para santri,” cetus KH Ahmad Mubasyir Syafaat, salah satu dewan pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung saat melepas para santri itu.

Saat melepas para santri itu, Gus Basyir, sapaan KH. Ahmad Mubasyir Syafaat berpesan kepada para santri yang akan mudik untuk menjaga nama baik pesantren. “Saya harap, apa yang didapatkan di pondok bisa dipraktekkan di lingkungannya. Selama di rumah tetap ngaji dan salat jamaah seperti di pesantren,” pesannya.

Ketua panitia pemulangan santri, Muhammad Burhannudin menyebut mudik bareng ini digelar pengurus pesantren bekerja sama dengan organisasi daerah (orda) asal santri. Untuk mudik bersama ini, disediakan 52 bus dengan kapasitas 35 sampai 60 tempat duduk. Bus itu mengantarkan para santri dengan tujuan Riau, Kebumen, Sumatera, Bali, Jawa Barat, dan Jakarta. “Untuk santri yang pulang ke Kalimantan, Papua, dan luar negeri sudah pesan tiket pesawat. Mereka akan kami antar sampai bandara,” ungkapnya.

Untuk santri lokal Banyuwangi, jelas dia, jadwal pemulangan masih akan dilakukan pada Rabu (20/4). Para santri ini, saat pulang harus dijemput oleh orang tuanya. “Para santri asli Banyuwangi harus dijemput orang tuanya,” ucapnya.

Langkah ini, jelas dia, ditujukan untuk memastikan keselamatan dan kedisiplinan para santri mulai dari pesantren hingga sampai di rumahnya. “Semua demi kedisiplinan, santri tidak boleh pulang tanpa penjemputan,” ucapnya.

Setiap libur Ramadan dan Lebaran, lanjut dia, tidak semua santri pulang. Sejumlah santri memilih tetap berada di pesantren, atau pulang ke rumah kerabatnya yang ada di daerah Banyuwangi. “Tahun ini diimbau untuk pulang semua. Jadi yang tidak pulang hanya sedikit. Yang tidak pulang itu santri yang biasanya mudik setiap dua atau tiga tahun sekali,” pungkasnya. (sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/