alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Upah Buruh Tani Dihitung per Karung

GENTENG – Menjadi seorang buruh tani, ternyata bukan pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang. Sebab, harus memiliki tenaga yang lebih dan rela berpanasan. Selain itu, bayarannya juga tidak terlalu tinggi.

Tapi, tidak sedikit dari warga yang menekuni usaha sebagai buruh tani. Malahan, itu dijadikan pekerjaan utama dalam keluarganya, seperti Mujiono, 57, dan Saudah, 48, warga Dusun Jenisari, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Keduanya, sudah puluhan tahun menjadi buruh tani. “Satu karung gabah dapat Rp 30 ribu,” kata Mujiono.

Dalam sehari, kedua buruh tani itu biasanya mendapatkan tiga sampai empat karung dalam sehari, tergantung cuaca dan kondisi tubuh. Kalau sering hujan, paling hanya mendapatkan satu sampai dua karung. Bila cuaca panas, bisa mendapat lebih banyak. “Sistemya borongan, bukan harian,” ujar Mujiono.

Meski menjadi buruh tani, Mujiono mengaku memiliki satu petak sawah. Lahannya itu, ditanami palawija. “Saya buruh tani tanam dan memanen, pokoknya apa saja yang bisa dilakukan,” ungkapnya.

Buruh tani lainnya Saudah, mengaku setiap hari membantu suaminya menggarap sawah. Saat ini, tanaman padinya juga hamper panen. “Suami saya buruh tani, tapi kami punya sawah dan kami tanami padi,” cetusnya.(mg5/abi)

GENTENG – Menjadi seorang buruh tani, ternyata bukan pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang. Sebab, harus memiliki tenaga yang lebih dan rela berpanasan. Selain itu, bayarannya juga tidak terlalu tinggi.

Tapi, tidak sedikit dari warga yang menekuni usaha sebagai buruh tani. Malahan, itu dijadikan pekerjaan utama dalam keluarganya, seperti Mujiono, 57, dan Saudah, 48, warga Dusun Jenisari, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Keduanya, sudah puluhan tahun menjadi buruh tani. “Satu karung gabah dapat Rp 30 ribu,” kata Mujiono.

Dalam sehari, kedua buruh tani itu biasanya mendapatkan tiga sampai empat karung dalam sehari, tergantung cuaca dan kondisi tubuh. Kalau sering hujan, paling hanya mendapatkan satu sampai dua karung. Bila cuaca panas, bisa mendapat lebih banyak. “Sistemya borongan, bukan harian,” ujar Mujiono.

Meski menjadi buruh tani, Mujiono mengaku memiliki satu petak sawah. Lahannya itu, ditanami palawija. “Saya buruh tani tanam dan memanen, pokoknya apa saja yang bisa dilakukan,” ungkapnya.

Buruh tani lainnya Saudah, mengaku setiap hari membantu suaminya menggarap sawah. Saat ini, tanaman padinya juga hamper panen. “Suami saya buruh tani, tapi kami punya sawah dan kami tanami padi,” cetusnya.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/