alexametrics
24 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Di Pantai Lampon Ada Korban Ditemukan Tinggal Kerangka

RadarBanyuwangi.id – Tsunami yang terjadi pada 2 Juni 1994, tidak hanya terjadi di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, tapi juga terjadi di Pantai Lampon, Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran. Di tempat ini, banyak rumah rusak dan 42 warga meninggal.

Wilayah Pantai Lampon di Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran yang dikenal sebagai daerah latihan marinir, juga menjadi saksi keganasan tsunami pada 2 Juni 1994 lalu. Setidaknya, 42 nyawa melayang pada kejadian alam tersebut.

Hempasan ombak yang snagat, juga menyapu pemukiman penduduk yang ada di pesisir pantai sisi muara teluk sebelah barat. “Banyak rumah yang rusak, warga yang meninggal juga banyak,” terang Agus Mariyono, 54, ketua RW di Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran.

Alam memang tidak bisa ditebak. Saat ada bencana tsunami itu Agus sekeluarga selamat. Padahal, rumahnya berada di deretan paling depan yang menghadap bibir pantai. “Belakang rumah kena, tapi deretan rumah saya malah selamat,” katanya.

Baca Juga :  Terdampar Sampai di Hutan, Banyak Jeritan Tangis dan Azan

Kerusakan paling parah di alami rumah-rumah yang berada di bagian barat dan belakang rumahnya. Rumah-rumah yang berdiri mengikuti alur teluk, habis disapu air. Sementara rumahnya dan deretan yang ada di sisi timur, termasuk Puslatpurmar 7 Lampon selamat. Selain posisi lebih tinggi, saat kejadian air diperkirakan melompat dan mengenai rumah yang ada di belakang rumahnya. “Deretan rumah paling depan diloncati air, justru rumah belakang yang roboh,” terangnya.

Duka itu menjadi nyata saat siang hari, Komandan Pos Marinir saat itu memerintahkannya untuk membantu evakuasi korban meninggal. Dari 42 mayat, hampir semuanya dia tangani. Sementara keluarga yang lain sibuk menyelamatkan anggota keluarganya yang cidera. “Kebetulan saya yang membersihkan sampai membungkus semua jenazah,” jelasnya.

Baca Juga :  Keluarga Yakin Hendrik Mati Dibunuh

Agus masih mengingat ada tujuh korban yang diambil dari reruntuhan, sedangkan sisanya tercecer. Korban terakhir yang ditemukan kerangka anak. Korban ini ditemukan setelah 40 hari dari kejadian. “Saya bungkus, saya beri nama, agar keluarga mudah mencari,” ungkapnya.

Para korban tsunami kehilangan tempat tinggal. Mereka menempati rumah bantuan presiden di lokasi yang kini disebut Kampung Baru. Lokasi itu, dulu tempat tinggal para penderes nira kelapa. “Kampung Baru itu dulu namanya deresan, itu lokasi yang tidak pernah dijamah orang,” ungkapnya.(sli/abi)

RadarBanyuwangi.id – Tsunami yang terjadi pada 2 Juni 1994, tidak hanya terjadi di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, tapi juga terjadi di Pantai Lampon, Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran. Di tempat ini, banyak rumah rusak dan 42 warga meninggal.

Wilayah Pantai Lampon di Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran yang dikenal sebagai daerah latihan marinir, juga menjadi saksi keganasan tsunami pada 2 Juni 1994 lalu. Setidaknya, 42 nyawa melayang pada kejadian alam tersebut.

Hempasan ombak yang snagat, juga menyapu pemukiman penduduk yang ada di pesisir pantai sisi muara teluk sebelah barat. “Banyak rumah yang rusak, warga yang meninggal juga banyak,” terang Agus Mariyono, 54, ketua RW di Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran.

Alam memang tidak bisa ditebak. Saat ada bencana tsunami itu Agus sekeluarga selamat. Padahal, rumahnya berada di deretan paling depan yang menghadap bibir pantai. “Belakang rumah kena, tapi deretan rumah saya malah selamat,” katanya.

Baca Juga :  Ternyata ini Penyebab PLN Byar Pet

Kerusakan paling parah di alami rumah-rumah yang berada di bagian barat dan belakang rumahnya. Rumah-rumah yang berdiri mengikuti alur teluk, habis disapu air. Sementara rumahnya dan deretan yang ada di sisi timur, termasuk Puslatpurmar 7 Lampon selamat. Selain posisi lebih tinggi, saat kejadian air diperkirakan melompat dan mengenai rumah yang ada di belakang rumahnya. “Deretan rumah paling depan diloncati air, justru rumah belakang yang roboh,” terangnya.

Duka itu menjadi nyata saat siang hari, Komandan Pos Marinir saat itu memerintahkannya untuk membantu evakuasi korban meninggal. Dari 42 mayat, hampir semuanya dia tangani. Sementara keluarga yang lain sibuk menyelamatkan anggota keluarganya yang cidera. “Kebetulan saya yang membersihkan sampai membungkus semua jenazah,” jelasnya.

Baca Juga :  Dosen IAIDA Bertahan di Lokasi

Agus masih mengingat ada tujuh korban yang diambil dari reruntuhan, sedangkan sisanya tercecer. Korban terakhir yang ditemukan kerangka anak. Korban ini ditemukan setelah 40 hari dari kejadian. “Saya bungkus, saya beri nama, agar keluarga mudah mencari,” ungkapnya.

Para korban tsunami kehilangan tempat tinggal. Mereka menempati rumah bantuan presiden di lokasi yang kini disebut Kampung Baru. Lokasi itu, dulu tempat tinggal para penderes nira kelapa. “Kampung Baru itu dulu namanya deresan, itu lokasi yang tidak pernah dijamah orang,” ungkapnya.(sli/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/