alexametrics
26.3 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Asap Pembakaran Jerami Ganggu Warga

SINGOJURUH – Kebiasaan para petani yang membakar jerami di sawah, banyak dikeluhkan warga. Sebab, dianggap menganggu dan mencemari lingkungan. Itu seperti yang ada di Dusun Krajan, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singo­juruh, kemarin (18/7).

Para petani membakar jerami di sawahnya, itu karena tidak ada tempat untuk pembuangan bekas tanaman pade yang baru dipanen. “Je­rami itu memang dibakar di la­han sawah sendiri, tapi asapnya mengganggu warga,” cetus Hari­yadi, 42, warga Dusun krajan, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singo­ju­ruh.

Menurut Hariyadi, gara-gara ba­nyak yang membakar jerami itu, mengganggu pandangan saat warga mengendarai motor. Selain itu, asap itu juga menganggu per­napasan. “Kebiasaan petani me­mang membakar jerami, padahal itu sangat mengganggu,” katanya.

Baca Juga :  Koorwilkersatdik Singojuruh Halalbihalal

Jerami bekas panenan padi itu, jelas dia, bila dibiarkan di sawah bisa menjadi pupuk yang bagus untuk tanaman. Tapi, para petani banyak yang tidak mengetahui. “Bisa jadi pupuk, langsung dising­kal saja jerami itu biar tertimbun di tanah,” ungkapnya.

Tanpa harus dibakar, masih kata dia, jerami itu sebenarnya akan la­puk. Tetapi, para petani banyak yang langsung membakar agar cepat bersih. “Memang cepat bersih, tapi mereka tidak tahu kalau itu bisa mengganggu,” jelasnya.

Hariyadi menambahkan, jerami bekas itu juga bisa dimanfaatkan lainnya. Seperti untuk tempat ta­na­man jamur, atau pakan ternak.

“Sebenarnya banyak manfaat jerami padi, dan itu yang harus diketahui para petani,” paparnya.

Baca Juga :  Satpol PP Gulung Banner APK

Salah satu petani, Mahsudi mengaku sengaja membakar jerami padi di sa­wahnya. Itu dilakukan agar sawahnya cepat bersih. “Biar cepat bersih saja, kalau dibuang atau ditimbun mem­bu­tuhkan waktu lama,” kata lelaki 49 tahun ter­sebut.

Membakar jerami padi itu, jelas dia, dilakukan setiap selesai masa panen. Jerami yang dibakar itu, juga untuk memupuk sawahnya. “Ini juga sebagai pupuk, hasil pembakaran kita tebarkan di lahan pertanian,” dalihnya.

Mahsudi mengaku tidak tahu jika asap yang ditimbulkan dari membakar jerami itu meresahkan warga. Karena selama ini, tidak ada yang menegur ataupun yang melarang. “Saya tidak tahu kalau ada yang resah, semua petani membakar jerami,” katanya.

SINGOJURUH – Kebiasaan para petani yang membakar jerami di sawah, banyak dikeluhkan warga. Sebab, dianggap menganggu dan mencemari lingkungan. Itu seperti yang ada di Dusun Krajan, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singo­juruh, kemarin (18/7).

Para petani membakar jerami di sawahnya, itu karena tidak ada tempat untuk pembuangan bekas tanaman pade yang baru dipanen. “Je­rami itu memang dibakar di la­han sawah sendiri, tapi asapnya mengganggu warga,” cetus Hari­yadi, 42, warga Dusun krajan, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singo­ju­ruh.

Menurut Hariyadi, gara-gara ba­nyak yang membakar jerami itu, mengganggu pandangan saat warga mengendarai motor. Selain itu, asap itu juga menganggu per­napasan. “Kebiasaan petani me­mang membakar jerami, padahal itu sangat mengganggu,” katanya.

Baca Juga :  Kemendikbud Bantu 497 Paket Sekolah

Jerami bekas panenan padi itu, jelas dia, bila dibiarkan di sawah bisa menjadi pupuk yang bagus untuk tanaman. Tapi, para petani banyak yang tidak mengetahui. “Bisa jadi pupuk, langsung dising­kal saja jerami itu biar tertimbun di tanah,” ungkapnya.

Tanpa harus dibakar, masih kata dia, jerami itu sebenarnya akan la­puk. Tetapi, para petani banyak yang langsung membakar agar cepat bersih. “Memang cepat bersih, tapi mereka tidak tahu kalau itu bisa mengganggu,” jelasnya.

Hariyadi menambahkan, jerami bekas itu juga bisa dimanfaatkan lainnya. Seperti untuk tempat ta­na­man jamur, atau pakan ternak.

“Sebenarnya banyak manfaat jerami padi, dan itu yang harus diketahui para petani,” paparnya.

Baca Juga :  Jembatan Nyaris Ambruk Tetap Ramai

Salah satu petani, Mahsudi mengaku sengaja membakar jerami padi di sa­wahnya. Itu dilakukan agar sawahnya cepat bersih. “Biar cepat bersih saja, kalau dibuang atau ditimbun mem­bu­tuhkan waktu lama,” kata lelaki 49 tahun ter­sebut.

Membakar jerami padi itu, jelas dia, dilakukan setiap selesai masa panen. Jerami yang dibakar itu, juga untuk memupuk sawahnya. “Ini juga sebagai pupuk, hasil pembakaran kita tebarkan di lahan pertanian,” dalihnya.

Mahsudi mengaku tidak tahu jika asap yang ditimbulkan dari membakar jerami itu meresahkan warga. Karena selama ini, tidak ada yang menegur ataupun yang melarang. “Saya tidak tahu kalau ada yang resah, semua petani membakar jerami,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/