alexametrics
22.3 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

HNSI Tolak Nelayan Cantrang ke Banyuwangi

MUNCAR-Keputusan pemerintah yang telah mencabut larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) atau cantrang dan pukat tarik (seine nets), langsung mendapat reaksi keras dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Banyuwangi.

Ketua HNSI Kabupaten Banyuwangi, HM Hasan Basri, mengaku sudah mengetahui keputusan pemerintah yang telah mencabut larangan penggunaan alat tangkap cantrang. “Ini sebenarnya dilema,” katanya.

Menurut Hasan, para nelayan di Banyuwangi, terutama yang ada di daerah Kecamatan Muncar, selama ini tegas menolak penggunaan alat tangkap cantrang atau trawls itu. Sebab, alat tangkap itu merusak habitat di laut. “Sejak 10 tahun lalu nelayan Muncar menolak pemakaian trawls,” katanya.

Larangan penggunaan alat tangkap cantrang atau trawls itu, terang dia, diatur melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI dengan nomor 2/Permen-KP/2015. Yang dilarang dalam permen itu, jelas dia, penggunaan alat tangkap pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets). “Kita menolak karena alat tangkap itu merusak, terumbu karang juga rusak,” ungkapnya.

Dijelaskan oleh Hasan, alat tangkap cantrang ini sebenarnya tidak beda dengan alat tangkap nelayan lainnya, yakni dengan menggunakan jaring. Hanya saja, untuk pengoperasiannya yang berbeda. “Cantrang itu juga pakai jaring,” jelasnya.

Hanya saja, masih kata dia, alat tangkap cantrang ini jaring berukuran besar diberi beban seperti kayu hingga tenggelam sampai di dasar laut. Selanjutnya, jaring yang diberi tali itu ditarik menggunakan kapal. “Jaring yang diberi beban hingga dasar laut dan ditarik, itu merusak habitat laut,” bebernya.    

Hasan menyebut, penolakan penggunaan alat tangkap cantrang itu bukan tanpa alasan. Penolakan para nelayan Banyuwangi ini, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian habitat laut dan lingkungan. “Sekarang ikan sudah susah ditangkap, kita harap tidak menambah masalah,” cetusnya.

Pada Jawa Pos Radar Genteng, Hasan menyebut penggunaan alat tangkap jenis cantrang itu banyak dipakai oleh para nelayan di luar Kabupaten Banyuwangi. “Sampai saat ini di wilayah Banyuwangi tidak ada yang pakai cantrang,” terangnya.

Meski pemerintah telah mengizinkan alat tangkap cantrang dalam mencari ikan di laut, Hasan berharap nelayan dari luar Banyuwangi yang menggunakan alat tangkap ini, tidak masuk ke perairan Banyuwangi. “Selama ini nelayan di Banyuwangi sudah kondusif, kita harap ini bisa terjaga dengan baik,” cetusnya.(abi)

MUNCAR-Keputusan pemerintah yang telah mencabut larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) atau cantrang dan pukat tarik (seine nets), langsung mendapat reaksi keras dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Banyuwangi.

Ketua HNSI Kabupaten Banyuwangi, HM Hasan Basri, mengaku sudah mengetahui keputusan pemerintah yang telah mencabut larangan penggunaan alat tangkap cantrang. “Ini sebenarnya dilema,” katanya.

Menurut Hasan, para nelayan di Banyuwangi, terutama yang ada di daerah Kecamatan Muncar, selama ini tegas menolak penggunaan alat tangkap cantrang atau trawls itu. Sebab, alat tangkap itu merusak habitat di laut. “Sejak 10 tahun lalu nelayan Muncar menolak pemakaian trawls,” katanya.

Larangan penggunaan alat tangkap cantrang atau trawls itu, terang dia, diatur melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI dengan nomor 2/Permen-KP/2015. Yang dilarang dalam permen itu, jelas dia, penggunaan alat tangkap pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets). “Kita menolak karena alat tangkap itu merusak, terumbu karang juga rusak,” ungkapnya.

Dijelaskan oleh Hasan, alat tangkap cantrang ini sebenarnya tidak beda dengan alat tangkap nelayan lainnya, yakni dengan menggunakan jaring. Hanya saja, untuk pengoperasiannya yang berbeda. “Cantrang itu juga pakai jaring,” jelasnya.

Hanya saja, masih kata dia, alat tangkap cantrang ini jaring berukuran besar diberi beban seperti kayu hingga tenggelam sampai di dasar laut. Selanjutnya, jaring yang diberi tali itu ditarik menggunakan kapal. “Jaring yang diberi beban hingga dasar laut dan ditarik, itu merusak habitat laut,” bebernya.    

Hasan menyebut, penolakan penggunaan alat tangkap cantrang itu bukan tanpa alasan. Penolakan para nelayan Banyuwangi ini, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian habitat laut dan lingkungan. “Sekarang ikan sudah susah ditangkap, kita harap tidak menambah masalah,” cetusnya.

Pada Jawa Pos Radar Genteng, Hasan menyebut penggunaan alat tangkap jenis cantrang itu banyak dipakai oleh para nelayan di luar Kabupaten Banyuwangi. “Sampai saat ini di wilayah Banyuwangi tidak ada yang pakai cantrang,” terangnya.

Meski pemerintah telah mengizinkan alat tangkap cantrang dalam mencari ikan di laut, Hasan berharap nelayan dari luar Banyuwangi yang menggunakan alat tangkap ini, tidak masuk ke perairan Banyuwangi. “Selama ini nelayan di Banyuwangi sudah kondusif, kita harap ini bisa terjaga dengan baik,” cetusnya.(abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/