alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Buntut Merebabkan Virus PMK, Penjualan Kambing Kurban Menurun

BANGOREJO, Radar Genteng – Hari Raya Idul Adha kurang dari sebulan, tapi penjualan kambing masih belum menunjukkan tanda-tanda ada kenaikan. Padahal biasanya, ini sudah banyak pembeli yang datang untuk melihat dan membeli.

Diduga, pembeli kambing yang sepi ini akibat ada serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kini juga sudah masuk ke Kabupaten Banyuwangi. “Ini masih sepi, mungkin karena ada PMK itu,” cetus salah satu peternak kambing, M. Ibrahim, 38, warga Dusun Ngadirejo, Desa/Kecamatan Bangorejo.

Menurut Ibrahim, biasanya menjelang Idul Adha itu sudah bisa menjual kambing hingga 100 ekor lebih. Tapi sampai saat ini, yang laku masih 60 sampai 70 ekor. “Di kandang ada 80 ekor kambing, yang lainnya saya titipkan ke orang,” ungkapnya.

Permintaan kambing, jelas dia, sebenarnya masih ada. Saat ini, kambingnya yang layak untuk kurban hanya sekitar 70 ekor. Biasanya, menjelang Idul Adha akan memborong kambing di pasar hewan. Tapi, tahun ini tidak berani karena ada wabah PMK itu. “Tahun ini, saya tidak akan beli di pasar dulu,” ucapnya.

Ibrahim mengaku khawatir kambing yang dijual di pasar, itu terinfeksi PMK dan bisa menularkan pada kambingnya yang lain. “Saya memilih menjual dalam jumlah sedikit, tapi kambingnya sehat,” jelasnya.

Meski permintaan menurun di banding tahun sebelumnya, Ibrahim menyebut untuk harga jual kambing, tidak mengalami perubahan. “Meski ada PMK, harga kambing antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per ekor,” katanya. (mg5/abi)

BANGOREJO, Radar Genteng – Hari Raya Idul Adha kurang dari sebulan, tapi penjualan kambing masih belum menunjukkan tanda-tanda ada kenaikan. Padahal biasanya, ini sudah banyak pembeli yang datang untuk melihat dan membeli.

Diduga, pembeli kambing yang sepi ini akibat ada serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kini juga sudah masuk ke Kabupaten Banyuwangi. “Ini masih sepi, mungkin karena ada PMK itu,” cetus salah satu peternak kambing, M. Ibrahim, 38, warga Dusun Ngadirejo, Desa/Kecamatan Bangorejo.

Menurut Ibrahim, biasanya menjelang Idul Adha itu sudah bisa menjual kambing hingga 100 ekor lebih. Tapi sampai saat ini, yang laku masih 60 sampai 70 ekor. “Di kandang ada 80 ekor kambing, yang lainnya saya titipkan ke orang,” ungkapnya.

Permintaan kambing, jelas dia, sebenarnya masih ada. Saat ini, kambingnya yang layak untuk kurban hanya sekitar 70 ekor. Biasanya, menjelang Idul Adha akan memborong kambing di pasar hewan. Tapi, tahun ini tidak berani karena ada wabah PMK itu. “Tahun ini, saya tidak akan beli di pasar dulu,” ucapnya.

Ibrahim mengaku khawatir kambing yang dijual di pasar, itu terinfeksi PMK dan bisa menularkan pada kambingnya yang lain. “Saya memilih menjual dalam jumlah sedikit, tapi kambingnya sehat,” jelasnya.

Meski permintaan menurun di banding tahun sebelumnya, Ibrahim menyebut untuk harga jual kambing, tidak mengalami perubahan. “Meski ada PMK, harga kambing antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per ekor,” katanya. (mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/